Bandung, UPI

Wisuda Gelombang II Universitas Pendidikan Indonesia resmi diselenggarakan pada Minggu, 10 Mei 2026 di Gedung Gymnasium UPI, Jalan Dr. Setiabudi Nomor 229, Bandung. Pada wisuda kali ini, terdapat dua wisudawan disabilitas yang mengikuti prosesi wisuda dengan dukungan penerjemah khusus.  Salah satu wisudawan disabilitas tersebut adalah Siti Agung Gumelar, wisudawati dari Prodi Pendidikan Tata Boga FPTI yang berhasil menyelesaikan studinya dan meraih gelar sarjana.

Perjalanan Siti menuju podium wisuda tidaklah mulus. Sebagai penyandang tunarungu, hambatan komunikasi dan beban tugas kuliah yang menumpuk sempat membuat sang ayah berada di titik nadir.

“Awalnya saya putus asa. Di tengah perjalanan, saya merasa tidak kuat menampung semua tugas yang ada. Saya bahkan sempat meminta kepada kepala bimbingan agar Siti mundur saja,” kenang orang tua Siti dengan mata berkaca-kaca.

Keputusasaan itu untungnya membentur tembok kebijakan yang humanis. Pihak program studi tidak membiarkan Siti jatuh. Mereka justru menyarankan Siti untuk mengakses beasiswa. Dukungan moral dari sesama mahasiswa penerima beasiswa menjadi bahan bakar baru bagi Siti dan keluarganya untuk terus melangkah.

Bagi orang tua Siti, mendampingi anak dengan kebutuhan khusus di perguruan tinggi adalah soal menjaga nyala api keyakinan. Di saat lingkungan luar mungkin memandang sebelah mata, rumah harus menjadi sumber kekuatan utama.

“Anak saya memang punya kekurangan, tapi kami mampu. Saya terus mendorongnya, ‘kamu pasti bisa’. Sebagai orang tua, saya meyakini bahwa selalu ada rezeki selama kita mau berusaha,” ungkap sang ayah mantap.

Kalimat itu bukan sekadar motivasi kosong. Terbukti, Siti mampu membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang untuk menguasai ilmu teknik dan industri yang dikenal rigid dan penuh tantangan praktikum.

Keberhasilan Siti juga menjadi potret nyata dari berjalannya sistem pendidikan inklusif di UPI. Di bawah Direktorat Kemahasiswaan yang bekerja sama dengan bimbingan konseling serta Departemen Pendidikan Khusus (PKh), UPI mulai menyediakan ekosistem yang lebih ramah bagi mahasiswa disabilitas.

Dukungan tersebut tidak hanya berupa kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI) saat prosesi wisuda, tetapi juga mencakup Infrastruktur Aksesibilitas, jalur mobilitas yang memudahkan mahasiswa disabilitas. Kebijakan Akademik Inklusif, penyesuaian kurikulum dan metode ajar yang adaptif. Jalur Khusus, memberikan kesempatan akses masuk bagi talenta disabilitas.

Siti kini telah resmi menjadi alumni. Perjalanannya memberikan pesan kuat bagi dunia pendidikan: bahwa pendidikan setara bukan hanya soal memberikan kursi di kelas, tapi soal memastikan setiap mahasiswa terlepas dari kondisi fisiknya memiliki tangga yang cukup kokoh untuk menggapai mimpi mereka.

Kisah Siti adalah pengingat, bahwa dalam setiap keberhasilan seorang anak, ada doa dan peluh orang tua yang tak henti mengalir, serta sistem pendidikan yang memanusiakan manusia. (Arzanela Riva; Caraka Muda)