
Bandung, UPI
Prestasi akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan daya juang dalam menghadapi berbagai tantangan. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan Nova Diadara, wisudawan terbaik jenjang Magister Program Studi Pendidikan Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang berhasil menyelesaikan studi magister pada usia di bawah 25 tahun.
Diadara mengaku bahagia sekaligus tidak menyangka ketika mengetahui dirinya terpilih sebagai salah satu wisudawan terbaik. Di tengah jumlah wisudawan yang mencapai sekitar 7.000 orang pada gelombang tersebut, pencapaian itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.
“Bisa terpilih menjadi salah satu yang terbaik menurut saya merupakan sebuah keajaiban dan anugerah dari Tuhan,” ungkap Diadara.
Perjalanan akademik Diadara menunjukkan konsistensinya dalam menekuni bidang Sastra Indonesia. Sejak menempuh pendidikan sarjana hingga magister, ia memilih bidang keilmuan yang linier. Pada jenjang magister, ia mengembangkan penelitian tesis yang berfokus pada pengembangan bahan ajar digital untuk keterampilan menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Level 5 dengan memanfaatkan konsep Sumbu Filosofi Yogyakarta dan metode portfolio writing.
Penelitian tersebut berangkat dari ketertarikannya terhadap potensi budaya Yogyakarta yang belum sepenuhnya dikenal masyarakat luas. Menurut Diadara, selama ini wisatawan umumnya lebih familier dengan kawasan Malioboro dan Tugu Yogyakarta, padahal terdapat konsep tata ruang yang memiliki nilai historis dan filosofis mendalam, yaitu Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Sumbu Filosofi Yogyakarta merupakan garis imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak di selatan, melewati kawasan Keraton Yogyakarta dan Malioboro, hingga Gunung Merapi di utara. Konsep tersebut tidak hanya merepresentasikan tata ruang kota, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan filosofi yang berpotensi diperkenalkan kepada masyarakat internasional.
Melalui penelitiannya, Diadara berupaya mengintegrasikan kekayaan budaya tersebut ke dalam bahan ajar digital BIPA. Pengembangan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada penutur asing melalui pembelajaran yang kontekstual dan inovatif.
“Dari situ, saya tergerak memanfaatkan Sumbu Filosofi Yogyakarta ini ke dalam bahan ajar digital BIPA sebagai sarana diplomasi budaya dan bahasa Indonesia ke tingkat internasional,” jelasnya.
Di luar aktivitas akademik, Diadara juga berupaya mengembangkan kompetensi profesional melalui pengalaman mengajar. Sebagai penerima beasiswa yang tidak diperkenankan bekerja secara penuh, ia tetap memanfaatkan waktu untuk menjalani aktivitas produktif di luar perkuliahan. Salah satunya dengan menjadi tutor bahasa di Balai Bahasa selama satu tahun.

Pengalaman tersebut tidak hanya membantunya mengelola waktu, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dalam praktik pengajaran bahasa. Baginya, pengalaman di luar ruang kelas merupakan bagian penting dari proses pengembangan diri sebagai calon profesional di bidang bahasa dan pendidikan.
Dalam menyelesaikan studi magister, Diadara juga menghadapi tantangan yang tidak selalu berkaitan dengan substansi akademik. Ia mengungkapkan bahwa dinamika interaksi dengan berbagai karakter manusia menjadi salah satu hal yang paling menguji selama proses pengerjaan tesis.
Namun, ia memandang pengalaman tersebut sebagai bagian dari pembelajaran kehidupan. Menurutnya, kemampuan menghadapi perbedaan dan menyelesaikan persoalan interpersonal merupakan bekal penting sebelum terjun ke masyarakat yang memiliki latar belakang dan karakter beragam.
“Kalau kita menghindar sekarang, beban yang lebih berat akan menanti di masa depan,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menguatkan pandangannya bahwa mahasiswa magister perlu memiliki keterampilan bertahan dalam menghadapi berbagai tekanan. Ia menekankan pentingnya survival skills dan resilience, yaitu kemampuan untuk beradaptasi, bertahan, dan bangkit ketika menghadapi kesulitan, baik dalam lingkungan akademik maupun dalam membangun relasi dengan orang lain.
Menariknya, perjalanan Diadara hingga menyelesaikan pendidikan magister pada usia muda tidak ditempuh melalui program percepatan studi atau fast-track. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana tepat waktu, ia sempat bekerja di luar negeri selama satu tahun. Setelah kontrak kerjanya berakhir, ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang magister hingga berhasil menyelesaikannya.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan diri dapat berlangsung melalui beragam pengalaman, baik di lingkungan akademik maupun dunia kerja. Pengalaman profesional yang diperoleh sebelum melanjutkan studi menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk kesiapan dirinya dalam menghadapi tantangan pendidikan pascasarjana.
Bagi mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan studi magister, Diadara menyampaikan pesan agar tetap bertahan meskipun proses belajar terasa melelahkan. Ia menjadikan nasihat Imam Syafi’i sebagai pengingat untuk terus menjaga semangat dalam menuntut ilmu.
“Jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka engkau harus sanggup menanggung perihnya kebodohan,” ungkapnya mengutip nasihat tersebut.
Kisah Nova Diadara menjadi pengingat bahwa keberhasilan akademik tidak semata-mata tentang pencapaian akhir, melainkan juga tentang konsistensi, keberanian menghadapi tantangan, dan kemauan untuk terus bertumbuh. Melalui penelitian yang menghubungkan pembelajaran bahasa dengan kekayaan budaya Indonesia, ia turut menunjukkan bagaimana karya akademik dapat diarahkan untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus memperkenalkan identitas budaya bangsa ke tingkat internasional. (Leli Julianti dan Velia Lisnawati / Caraka Muda)

