Bandung, UPI

Memasuki kehidupan perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya membutuhkan kesiapan akademik, tetapi juga ketahanan mental untuk menghadapi berbagai tekanan dan perubahan. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI), Dr. dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ., mengingatkan mahasiswa pentingnya membangun ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan kebiasaan menjaga kesehatan diri selama menjalani pendidikan tinggi.

Pesan tersebut disampaikan Dr. dr. Elvine Gunawan dalam kegiatan Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026, Rabu (19/8/2026). Dalam materinya, ia membahas sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, antara lain tekanan akademik, burnout, pola tidur, kepribadian, perfeksionisme, hingga pentingnya mencari bantuan profesional ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.

Menurut Dr. dr. Elvine, tekanan dapat muncul dari berbagai situasi, seperti persoalan perkuliahan, tugas, maupun hubungan dengan pembimbing. Karena itu, mahasiswa perlu mengenali tekanan yang dihadapi dan mengembangkan cara yang sehat untuk mengatasinya.

Ia menekankan bahwa ketekunan dan kemampuan beradaptasi merupakan modal penting dalam menjalani pendidikan tinggi. Mahasiswa perlu belajar menyelesaikan hal-hal yang telah dimulai sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan tantangan.

“Karena dalam hidup itu yang perlu adalah ketekunan, kemampuan adaptasi, dan menyelesaikan apa yang kita mulai,” ujar Dr. dr. Elvine.

Selain tekanan akademik, kebiasaan mengurangi waktu tidur untuk menyelesaikan tugas juga menjadi perhatian. Menurutnya, menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam tidak selalu menunjukkan produktivitas apabila mengorbankan waktu tidur yang dibutuhkan tubuh dan otak.

“Jam tidur itu penting untuk mahasiswa. Karena jam tidur yang baik akan menjaga kesehatan otak. Memang tugas jadi selesai, tapi besoknya jadi lemot,” katanya.

Dr. dr. Elvine juga mengingatkan mahasiswa agar tidak membatasi kemampuan diri berdasarkan label kepribadian. Seseorang yang introver, misalnya, tetap dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi melalui pengalaman dan proses belajar.

“Introvert itu bisa dilatih menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan hasil pengukuran kepribadian sebagai batas untuk berkembang. Kemampuan otak untuk beradaptasi atau neuroplasticity memungkinkan seseorang terus belajar dan mengembangkan aspek emosi, perilaku, maupun kognitif.

Dalam menghadapi persoalan, mahasiswa perlu mengetahui kapan harus mencari dukungan dari orang lain. Berbagi cerita dengan teman dapat menjadi salah satu bentuk dukungan, tetapi persoalan tertentu membutuhkan penanganan dari tenaga profesional.

“Kalau itu terkait kondisi mentalmu, terkait dengan hal yang spesifik, terkait dengan kekerasan seksual atau apa pun, kamu harus mencari pertolongan profesional,” tegasnya.

Dr. dr. Elvine menekankan bahwa perjalanan pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Kemampuan mengenali tekanan, menjaga kesehatan diri, beradaptasi, tetap tekun, dan mencari bantuan ketika diperlukan merupakan bagian dari kesiapan mahasiswa dalam menjalani pendidikan hingga menyelesaikan studi. (RK)