
Nagoya, UPI
Dua dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd. dan Dewi Kusrini, M.Pd., M.A., menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat internasional di TPA Nurul Iman, Masjid Mina, Nagoya, Jepang, Sabtu (31/10/2026).
Mengangkat tema “Merawat Bahasa Indonesia, Menumbuhkan Karakter, dan Membiasakan Perilaku Baik melalui Cerita Anak”, program ini bertujuan memperkuat kemampuan bahasa ibu serta menanamkan nilai-nilai karakter pada anak-anak diaspora Indonesia yang tumbuh di lingkungan multibahasa Jepang.
Ketua Tim Pengabdian FPBS UPI, Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., menegaskan pentingnya metode mendongeng sebagai jembatan komunikasi dan edukasi yang efektif serta ramah anak.
“Cerita anak bukan sekadar hiburan. Di dalamnya tersimpan ruang untuk merawat bahasa, menumbuhkan imajinasi, membangun kedekatan emosional, sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan. Melalui media cerita, anak-anak dapat memperkaya kosakata serta memahami nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian secara lebih intuitif,” ujar Prof. Yulianeta.
Prof. Yulianeta menambahkan bahwa penguatan literasi bagi anak-anak diaspora membutuhkan sinergi erat antara akademisi, keluarga, dan komunitas lokal di negara tujuan.
“Bahasa tidak hanya diwariskan melalui kata-kata, tetapi juga melalui cerita, kebiasaan, dan kedekatan antargenerasi. Melalui kegiatan interaktif ini, kami berharap anak-anak diaspora di Nagoya semakin mengenal, mencintai, dan membawa bahasa serta budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari mereka,” lanjut Prof. Yulianeta.
Rangkaian acara berlangsung interaktif melalui pembacaan cerita nyaring (read aloud), demonstrasi mendongeng dengan ekspresi dan intonasi komunikatif, serta aktivitas membaca bersama. Pada kesempatan tersebut, FPBS UPI juga menyalurkan donasi buku cerita anak karya pakar sastra anak Indonesia, Dr. Murti Bunanta, untuk memperkaya koleksi bacaan TPA Nurul Iman.

Program literasi ini mendapat sambutan hangat dari para orang tua murid. Salah seorang wali murid, Bu Oka, menyampaikan apresiasinya terhadap metode pembelajaran yang dibawakan oleh dosen UPI.
“Mendongeng memiliki manfaat lebih dari sekadar mengenalkan cerita. Aktivitas ini menjadi sarana membangun kedekatan orang tua dan anak, menciptakan waktu berkualitas bersama keluarga, sekaligus membiasakan anak berinteraksi dengan bahasa Indonesia,” ungkap Bu Oka.
Senada dengan hal tersebut, Bu Maulani, wali murid lainnya, berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara berkala di Nagoya.
“Pesan dan instruksi sederhana lebih mudah dipahami anak ketika disampaikan melalui cerita yang menarik. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut agar anak-anak memiliki ruang belajar bahasa dan budaya Indonesia yang menyenangkan,” tutur Bu Maulani.
Melalui kegiatan ini, FPBS UPI berupaya memperluas kontribusi dalam penguatan literasi dan pemeliharaan bahasa Indonesia di lingkungan diaspora. Keluarga, lembaga pendidikan keagamaan, dan komunitas menjadi mitra penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Sebab bahasa tidak hanya diwariskan melalui kata-kata, tetapi juga melalui cerita, kebiasaan, dan kedekatan antargenerasi.
Dari cerita-cerita sederhana, anak-anak diaspora di Nagoya diharapkan semakin mengenal, mencintai, dan membawa bahasa serta budaya Indonesia dalam kehidupan mereka. (DN)

