Daegu, Korea Selatan – Dua mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yakni Amri Dhimas Maulana dan Alif Ilman Mansyur, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Keduanya, yang juga merupakan penerima beasiswa LPDP, menjadi delegasi UPI dalam ajang World Engineering Educational Forum & Global Engineering Deans Council (WEEF & GEDC) Annual Conference 2025 yang berlangsung pada 21–25 September di EXCO Convention Hall, Daegu, Korea Selatan.

Kehadiran mereka mendapat apresiasi karena berhasil mengangkat isu pendidikan, literasi digital, serta potensi lokal Indonesia ke panggung dunia. Forum internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara untuk membahas isu-isu mutakhir dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya.

Diskusi Lintas Kebudayaan

Sebelum tampil dalam sesi utama, Amri dan Alif mengikuti pre-conference yang dihadiri peserta dari berbagai negara. Dalam forum tersebut, para delegasi terlibat diskusi mendalam mengenai kesadaran lintas kebudayaan (cross-cultural awareness).

Bagi Amri dan Alif, kesempatan ini sangat berharga untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring akademik internasional.

“Kegiatan ini membuka ruang dialog antarbudaya yang sangat berharga. Kami tidak hanya membicarakan penelitian, tetapi juga bertukar perspektif tentang bagaimana pendidikan dapat menjembatani perbedaan dan membangun kolaborasi global,” ujar Alif.

Inovasi Amri Dhimas Maulana: Kopi Jember dan Pembelajaran IPS

Amri Dhimas Maulana, di bawah bimbingan Prof. Dr. Aim Abdulkarim, M.Pd., Prof. Dr. Enok Maryani, MS., dan Prof. Dr. Erlina Wiyanarti, M.Pd., mempresentasikan penelitian berjudul:

“Social Studies Learning with Local Coffee: A Community-Based Approach From The Field to Digital Marketplace.”

Dalam paparannya, Amri menekankan bahwa pembelajaran IPS tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga dapat menjadi sarana pengembangan potensi lokal berbasis komunitas. Ia mengangkat kopi Jember sebagai studi kasus, yang memperlihatkan bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam pembelajaran untuk:

  • mendukung keberlanjutan ekonomi lokal,
  • menjaga kelestarian budaya agraris, dan
  • memperluas akses pasar melalui platform digital.

“Melalui pendekatan berbasis komunitas, pendidikan dapat menjadi motor penggerak yang menghubungkan petani kopi, peserta didik, dan pasar global. Ini bukan sekadar pembelajaran di kelas, tetapi praktik nyata pemberdayaan masyarakat,” jelas Amri.

Gagasan Alif Ilman Mansyur: Pendidikan Budaya Digital

Sementara itu, Alif Ilman Mansyur, dengan bimbingan Prof. Nana Supriatna, M.Ed., Prof. Dr. Sapriya, M.Ed., dan Prof. Dr. Kokom Komalasari, M.Pd., memaparkan risetnya mengenai pendidikan budaya digital.

Penelitian berjudul “Digital Cultural Heritage Education: Using Technology to Improve Instruction for the SDGs in Lombok, Indonesia” menyoroti pentingnya penguatan literasi digital di kalangan peserta didik.

Menurut Alif, literasi digital tidak boleh hanya sebatas kemampuan teknis, tetapi juga harus meliputi aspek etika, nilai, dan budaya. Transformasi ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya technologically literate, tetapi juga memiliki cultural sensitivity dalam ruang digital global.

“Sintesis antara kemahiran teknis dan kearifan sosio-kultural merupakan prasyarat fundamental untuk membentuk peserta didik yang mampu menavigasi kompleksitas ruang siber sekaligus berkontribusi konstruktif bagi pembangunan peradaban digital yang berkarakter dan berbudaya,” tegas Alif.

Kontribusi Akademisi Indonesia di Level Global

Partisipasi Amri dan Alif dalam forum internasional ini menjadi bukti nyata kontribusi akademisi Indonesia dalam menghadirkan gagasan inovatif sekaligus memperkenalkan potensi lokal bangsa di level dunia.

Menurut mereka, keikutsertaan ini bukan hanya ajang berbagi gagasan, melainkan juga membuka peluang kolaborasi global.

“Kesempatan ini adalah momentum untuk memperkenalkan pendidikan IPS Indonesia di level dunia, sekaligus menunjukkan bahwa potensi lokal seperti kopi Jember maupun isu literasi digital dapat menjadi bahan kajian yang relevan secara global,” tambah Alif.

Ajang Kolaborasi Internasional

Forum WEEF & GEDC Annual Conference 2025 yang digelar di Daegu merupakan wadah strategis bagi para akademisi dunia. Dengan tema besar seputar pendidikan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan, forum ini mendorong pertukaran ide sekaligus pencarian solusi atas tantangan global.

Keterlibatan dua mahasiswa doktoral Pendidikan IPS UPI ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi akademisi muda Indonesia untuk terus berani menghadirkan karya, riset, dan inovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga relevan secara global. (alif)