
Bandung, UPI
Keikhlasan bermuhasabah dan ketelitian mengoreksi diri sendiri menjadi pesan kunci dalam pelaksanaan ibadah shalat Jumat di Masjid Al-Furqan, Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dalam khutbahnya, Dr. Ust. Mulyana Abdullah, M.Pd. menegaskan bahwa kecerdasan sejati seorang muslim diukur dari kemampuannya mengevaluasi diri sebelum datangnya hari perhitungan (yaumul hisab).
Mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18, Ustaz Mulyana menyampaikan bahwa Islam memerintahkan setiap individu fokus memperbaiki kualitas diri dibandingkan sibuk menilai kekurangan orang lain.
“Al-Qur’an mengajarkan agar kita lebih disibukkan oleh perbaikan diri. Sayangnya, fenomena hari ini menunjukkan banyak orang lebih rajin mengomentari kehidupan orang lain di media sosial daripada mengevaluasi kualitas shalatnya sendiri,” ujar Ustaz Mulyana di hadapan ratusan jamaah.
Ia menambahkan, tolok ukur kecerdasan menurut Rasulullah SAW bukanlah tingginya gelar akademik, status sosial, maupun kekayaan, melainkan kesadaran untuk senantiasa mengoreksi diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.
Dalam khutbahnya, Ustaz Mulyana merinci empat aspek utama yang wajib dievaluasi oleh setiap muslim setiap harinya, diantaranya Kualitas Shalat, memastikan ketepatan waktu, kebiasaan shalat berjamaah, dan tingkat kekhusyukan, mengingat shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab. Interaksi dengan Al-Qur’an, menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan harian agar kelak menjadi penolong (syafaat) di hari akhir. Menjaga Lisan dan Tulisan, mengendalikan ucapan maupun komentar digital dari perilaku fitnah, ghibah, dan perkataan kasar. Serta Keberkahan Harta memastikan sumber perolehan harta serta pemanfaatannya melalui zakat, sedekah, dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Mengakhiri khutbahnya, Ustaz Mulyana mengajak jamaah untuk membiasakan tradisi muhasabah setiap malam, merefleksikan ucapan dan tindakan yang telah dilakukan, serta memperbanyak istighfar.
“Kematian tidak pernah menunggu tua dan umur terus berkurang. Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia,” tutupnya. (DN)

