Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengembangan Bahan Ajar Cerita Rakyat Indonesia dan Korea untuk Pemelajar BIPA Penutur Korea dengan Pendekatan Lintas Budaya Berbasis Web” sukses digelar di Hotel Hemangini, Bandung. Acara ini menghadirkan tim peneliti dari DRTPM DIKTI, para akademisi, serta mahasiswa S-1 dan S-2, untuk membahas inovasi dalam pengembangan bahan ajar berbasis cerita rakyat bagi pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), khususnya penutur dari Korea.

FGD ini diikuti oleh 20 peserta yang berpartisipasi aktif dalam diskusi dan pemaparan ilmiah. Beberapa pembicara yang hadir dalam acara ini termasuk Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., Dr. Halimah, M.Pd., Dr. Nuny Sulistiani Idris, M.Pd., Farid Ahmad, S.Kom., M.Kom., Ph.D., serta Giartina Sulistyorini, M.A., seorang dosen BIPA dari Busan University of Foreign Studies yang turut bergabung secara virtual.

Dalam presentasinya, Prof. Dr. Yulianeta memaparkan hasil riset sastra bandingan antara cerita rakyat Indonesia dan Korea yang difokuskan pada pengembangan bahan ajar berbasis web. Inovasi humanismara.com menjadi platform yang diusulkan untuk mendukung pembelajaran BIPA berbasis cerita rakyat, yang diharapkan dapat menjadi media interaktif bagi pemelajar Korea. Prof. Yulianeta menekankan bahwa cerita rakyat tidak hanya kaya akan nilai-nilai moral, tetapi juga berperan penting sebagai jembatan budaya dalam pembelajaran bahasa dan pembentukan karakter.

Dr. Nuny Sulistiani, M.Pd., dalam sesinya menyoroti pentingnya memahami konteks budaya melalui cerita rakyat dalam pembelajaran BIPA. Sementara itu, Farid Ahmad, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menjelaskan bagaimana teknologi berbasis web dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan aksesibilitas dan efektivitas pembelajaran BIPA. Menurutnya, platform digital memungkinkan interaksi yang lebih mendalam dengan materi ajar, serta memperluas jangkauan pemelajar.

Giartina Sulistyorini, M.A., yang bergabung secara virtual dari Korea, berbagi pandangan mengenai potensi besar cerita fabel Indonesia sebagai bahan ajar BIPA, terutama bagi pemelajar Korea. Ia menyoroti bahwa cerita fabel Indonesia belum banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan ajar yang menarik.

Mahasiswa yang turut berpartisipasi, seperti Regina Dwi Setiawan dan Sarah Ayu Nur Azizah, memberikan tanggapan positif. Regina mengaku lebih memahami kekayaan budaya cerita rakyat Indonesia serta manfaat sastra bandingan dalam memperluas wawasan tentang hubungan antara sastra Indonesia dan Korea. Sementara itu, Sarah menekankan bahwa platform berbasis web memberikan fleksibilitas dalam pembelajaran dan berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut di masa mendatang.

FGD ini ditutup dengan sesi kuis yang semakin memeriahkan suasana, di mana para pemenang mendapatkan hadiah menarik. Diharapkan, hasil diskusi ini akan berkontribusi signifikan dalam pengembangan bahan ajar BIPA berbasis web serta memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan Korea.