
Bandung, UPI — Dalam semangat memperingati Dies Natalis Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ke-71 dan Dies Natalis Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) FPIPS UPI ke-71, GCC Indonesia berkolaborasi dengan Program Studi PKn FPIPS UPI menyelenggarakan ReelOzInd! Short Film Festival 2025 – Pop-Up Screening & Discussion di Auditorium FPIPS UPI (5/11).
Kegiatan ini merupakan bagian dari kemitraan berkelanjutan GCC Indonesia dengan ReelOzInd! Festival, sebuah ajang film pendek Australia–Indonesia yang sejak 2016 telah menjadi ruang pertemuan kreatif lintas budaya, menghadirkan karya-karya yang “menghibur, mengejutkan, dan menyentuh emosi.” Tahun 2025 menandai partisipasi kedua GCC Indonesia sebagai host screening nasional setelah sebelumnya menyelenggarakan ReelOzInd! 2024 di Bandung.


Mengusung tema “Imagination”, sesi pemutaran menampilkan sepuluh film pilihan lintas genre mulai dari animasi, dokumenter, hingga fiksi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga merangsang refleksi nilai kemanusiaan, moral, dan kewargaan. Kesepuluh film yang diputar adalah:
- The Cage (Participant) – Muhammad Fadel Gharfiqi (Sutradara) & Dasim Budimansyah (Produser)– GCC Indonesia (2025)
Alegori eksistensial tentang isolasi dan kebebasan; mengajarkan nilai keberanian dan refleksi diri—bagaimana manusia kadang menciptakan “sangkar” bagi dirinya sendiri. - Leleng (Best Animation) – Zaenal Abidin (Sutradara), Firman Widyasmara (Produser) – Indonesia (2025)
Menggugah kesadaran budaya dan spiritualitas melalui animasi tradisi lelang di masyarakat pesisir, memantik refleksi tentang nilai kejujuran dan tanggung jawab sosial. - Wadjemup Wirin Bidi (Best Documentary) – Glen Stasiuk (Sutradara)– Australia (2025)
Dokumenter yang menggugah hati tentang perjuangan identitas dan rekonsiliasi sejarah suku Aborigin, relevan dengan pendidikan multikultural dan hak asasi manusia. - Buried in Time (Special Mention Fiction) – Deandrey Putra (Sutradara), Farhan Nugraha (Produser)– Indonesia (2025)
Menggambarkan benturan antara masa lalu dan masa kini, mengajak penonton merenungi nilai tanggung jawab moral terhadap pengalaman kehidupan. - Fallow (Special Mention Fiction) – Bonnie Van De Ven, Andrew O’Keefe (Sutradara) – Australia (2024)
Kisah reflektif tentang kehilangan dan harapan, menekankan pentingnya empati dan ketahanan batin (resilience). - Fighting for the Future (Special Mention Documentary) – Marjito Iskandar Tri Gunawan (Sutradara)– Indonesia (2025)
Menginspirasi semangat perjuangan generasi muda menghadapi ketidakadilan sosial, sejalan dengan nilai-nilai keadilan dan partisipasi warga. - Hurt People, Hurt People (Special Mention Young Filmmaker) – Isla Ayu Sri Ward (Sutradara)– Indonesia (2025)
Eksplorasi sensitif tentang luka batin dan penyembuhan, menanamkan nilai empati dan kesadaran emosional. - Running Away (Best Young Filmmaker) – Dari Justin (Sutradara)– Australia (2025)
Kisah keberanian anak muda menghadapi tekanan hidup, merefleksikan pentingnya agency dan tanggung jawab moral dalam mengambil keputusan. - Elephant (Special Mention Animation) – Mia Innocenti (Sutradara), Phoebe Blanchard (Produser), Tenzin Kelly-Hall (Produser)– Australia (2024)
Menyentuh isu lingkungan dan persahabatan lintas spesies, sarat pesan kasih sayang dan kepedulian terhadap makhluk hidup. - Kau, Aku, dan Kursi Itu (You and Me and That Chair) (Best Fiction / Best Film) – Trivita Tiffany Winataputri (Sutradara), Matt Wallace (Produser), Lawrence Phelan (Produser)– Australia/Indonesia (2023)
Menyatukan kisah dua bangsa dalam simbol sederhana sebuah kursi—menjadi metafora persahabatan, keberagaman, dan kemanusiaan universal.


Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.Pd., S.IP., S.A.P., M.Si., M.H., CAP., Dekan FPIPS UPI. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa film bukan hanya karya estetika, tetapi juga medium edukatifyang mampu menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, moralitas, dan kebangsaan.
Dalam sesi Diskusi Film, hadir para narasumber inspiratif:
- Dipl. Kunst. Erik Muhammad Fauhrizi, S.Ds., M.Sch. (Dosen FTV FPSD UPI),
- Dara Bunga Rembulan, S.Sn., M.Sn. (Ketua Jurusan Film ISBI Bandung), dan
- Deandrey Putra (Sutradara Buried in Time).
Diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Dede Iswandi (Prodi PKn FPIPS UPI) berlangsung hangat dan reflektif. Para pembicara sepakat bahwa film adalah bahasa universal yang mampu menyentuh nalar dan nurani, serta menjadi sarana strategis dalam pendidikan karakter dan kewarganegaraan.
Kegiatan ini memberi dampak nyata bagi sivitas akademika. Para dosen dan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar lintas disiplin, menggabungkan antara civic education, digital literacy, dan creative expression. Film pendek menjadi media kontekstual untuk mengajarkan nilai-nilai Pancasila—keadilan, kemanusiaan, tanggung jawab, dan gotong royong—melalui narasi visual yang hidup.
Bagi dosen, kegiatan ini menjadi dorongan untuk mengintegrasikan film literacy ke dalam kurikulum, sementara bagi mahasiswa, festival ini membuka ruang untuk mengembangkan empati, refleksi moral, dan kreativitas kewargaan digital.
Melalui kolaborasi pendidikan dan sinema ini, GCC Indonesia dan Prodi PKn FPIPS UPI membuktikan bahwa pendidikan nilai, moral, dan karakter tidak hanya bisa diajarkan di ruang kelas, tetapi juga dihidupkan lewat seni dan imajinasi. Sejalan dengan tema festival tahun ini, Imagination, kegiatan ini menegaskan bahwa membayangkan dunia yang lebih adil, empatik, dan manusiawi adalah langkah pertama menuju perubahan. (GCC Indonesia – Global Citizenship Education Cooperation Centre)
Tentang ReelOzInd! dan GCC Indonesia
ReelOzInd! Short Film Festival merupakan ajang tahunan yang mempertemukan pembuat film dari Australia dan Indonesia sejak 2016. Kompetisi ini menayangkan karya-karya film pendek yang memadukan seni, nilai kemanusiaan, dan keberagaman budaya. Sejak 2023, GCC Indonesia (Global Citizenship Education Cooperation Centre, Universitas Pendidikan Indonesia)menjadi mitra resmi ReelOzInd! dan aktif berpartisipasi dalam festival internasional ini. Tahun 2024 GCC Indonesia mengirimkan film animasi berjudul “Hunger”, sedangkan tahun 2025 menghadirkan film fiksi “The Cage.”

