Bandung, UPI

Program Studi Gizi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sukses menggelar International Conference on Health, Applied Food and Nutrition (ICHAFN) 2026 pada 14–15 Oktober 2026. Konferensi hibrida bertema “Integrating Health, Applied Food, and Nutrition for Sustainable Development Goals: Local Innovations with Global Impact” ini menghimpun 396 peserta serta 54 presentasi ilmiah dari 12 institusi.

Kegiatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan tiga co-host diantaranya Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Negeri Malang (UM), dan Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI), kegiatan ini dirancang sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab tantangan pangan dan kesehatan global.

Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., menekankan pentingnya riset perguruan tinggi yang membawa dampak nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap melalui forum ini para peserta dapat saling terhubung untuk proyek penelitian serta publikasi bersama di masa mendatang. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan inovasi, tetapi juga memastikan dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Prof. Agus Setiabudi saat membuka acara di Auditorium FPMIPA UPI, Kamis (15/10/2026).

Sementara itu, Dekan FPOK UPI, Prof. Dr. Komarudin, M.Pd., menggarisbawahi ancaman double burden of malnutrition atau beban ganda malnutrisi yang masih dihadapi Indonesia, yakni berdampingannya masalah stunting dengan lonjakan kasus obesitas serta penyakit tidak menular.

“Indonesia menghadapi tantangan beban ganda malnutrisi, mulai dari stunting, kelebihan berat badan, hingga penyakit jantung. Penanganannya membutuhkan integrasi antara ilmu gizi, aktivitas fisik, dan edukasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” jelas Prof. Komarudin.

Dalam laporannya, Ketua Pelaksana ICHAFN 2026, Dr. Syifa F. Syihab, S.TP., M.Si., menyampaikan bahwa dari 54 riset oral yang terpilih, sebanyak 29 presenter berasal dari kalangan dosen dan 25 presenter merupakan peneliti mahasiswa.

“Sangat menggembirakan melihat begitu banyak peneliti muda yang ambil bagian. Riset yang masuk terbagi dalam enam bidang tematik, dengan topik ‘Applied Food Science and Functional Foods’ menjadi yang terbanyak yakni 23 makalah. Karya terpilih nantinya akan diproyeksikan untuk publikasi pada jurnal terindeks Scopus dan SINTA,” papar Dr. Syifa.

Konferensi internasional ini turut menghadirkan pakar gizi ternama, di antaranya Prof. Dr. Rimbawan dari IPB University yang mengulas pemanfaatan locally produced Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) untuk penanganan malnutrisi akut.

“Dengan ketersediaan RUTF berbasis bahan lokal, proses perawatan pasien malnutrisi akut dapat digeser dari rumah sakit ke rumah. Ini menjadi cara yang lebih sederhana dan terjangkau bagi masyarakat,” terang Prof. Rimbawan.

Apresiasi juga datang dari akademisi internasional, Assistant Professor Suchada Saovieng, Ph.D., dari Mahidol University, Thailand, yang hadir sebagai guest lecturer.

“Ini pertama kalinya saya hadir di UPI dan penyambutannya sangat berkesan dalam lingkungan akademik yang profesional. Saya sangat kagum melihat antusiasme serta binar mata para peneliti muda Indonesia selama sesi diskusi,” ungkap Suchada.

Penyelenggaraan ICHAFN 2026 sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Melalui pertukaran hasil penelitian, diskusi akademik, serta kolaborasi antar perguruan tinggi, konferensi ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan inovasi lokal untuk menjawab tantangan kesehatan, pangan, dan gizi. Forum ini juga diharapkan menjadi titik awal bagi kerja sama penelitian dan publikasi lintas institusi yang berkelanjutan.

Dengan terselenggaranya ICHAFN 2026, Program Studi Gizi FPOK UPI bersama institusi co-host menegaskan komitmen untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui partisipasi 396 peserta dan diseminasi 54 presentasi ilmiah, ICHAFN 2026 diharapkan tidak hanya menjadi forum pertukaran akademik, tetapi juga mendorong pengembangan solusi yang berdampak bagi kesehatan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. (DN)