Di balik gemerlap panggung seni tarik suara, tersimpan kisah seorang perempuan muda dari Garut yang menjadikan suara sebagai jalan hidup. Gitalis Dwi Natarina, atau yang lebih dikenal sebagai Gita KDI, mulai menyanyi sejak usia belia. Ia bukan sekadar penyanyi, tetapi juga pengemban nilai, menyuarakan harapan dan identitas melalui musik.Ketika bergabung dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai bagian dari angkatan 2003 di Departemen Sendratasik, Program Studi Seni Musik, Gita telah menemukan panggilan hidupnya.

Gitalis Dwi Natarina saat menjadi mahasiswa di UPI (atas, kedua dari kanan) (Foto: Gita, 2003/2005)

Puncak popularitasnya datang saat ia menjuarai ajang Kontes Dangdut Indonesia (KDI) musim kedua pada tahun 2005. Penampilannya yang bersahaja dan vokalnya yang kuat menjadikannya idola baru di tengah arus dangdut modern. Tak hanya dangdut, Teh Gita juga menekuni genre nasyid dan lagu-lagu rohani, memperkuat citra dirinya sebagai seniman yang berakar pada nilai-nilai spiritual.

Menyanyikan Aspirasi di Gedung Parlemen

Namun, Teh Gita  tidak berhenti di panggung hiburan. Ia melangkah ke dunia politik dengan keberanian yang tak biasa. Bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Teh Gita  resmi menjadi anggota DPR RI pada tahun 2011 melalui mekanisme pergantian antarwaktu untuk daerah pemilihan Jawa Barat IX. Setelah masa legislatifnya berakhir, ia tetap aktif di ranah kebijakan publik. Pada tahun 2024, teteh kebanggaan Garut ini mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur, menunjukkan komitmennya untuk memperluas pengaruh dan pengabdian di tingkat daerah. Kini, ia mengemban amanah sebagai Tenaga Ahli di Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk periode 2025–2029.

Langkah ini bukan sekadar transisi karier, tetapi transformasi peran. Dari menyanyikan lagu-lagu rakyat, Teh Gita kini menyuarakan aspirasi mereka dalam bentuk kebijakan dan advokasi. Ia menjadi contoh bahwa popularitas bisa bertransformasi menjadi pengaruh yang bermakna.

Teh Gita adalah representasi dari generasi baru politisi yang memahami denyut rakyat dari akar rumput. Latar belakang pendidikannya sebagai alumni di Universitas Pendidikan Indonesia memperkaya perspektifnya dalam merumuskan kebijakan yang inklusif dan berakar budaya.

Ia pernah menyatakan bahwa dunia politik dan seni memiliki kesamaan: keduanya membutuhkan empati, komunikasi, dan keberanian untuk tampil di depan publik. Ia percaya bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun bangsa, baik melalui seni maupun di panggung pemerintahan

Kini, seorang Gitalis Dwi Natarina bukan hanya dikenal sebagai seniman, tetapi juga sebagai figur publik yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan. Ia membuktikan bahwa suara perempuan bisa menggema di panggung manapun, baik di atas panggung musik maupun di panggung kebijakan publik.