Di salah satu sudut asrama SRMA 11 Bandung, sebuah pemandangan sederhana namun menggetarkan hati kerap terjadi. Anak-anak yang baru saja menapakkan kaki di sana sering kali ragu untuk tidur di ranjang masing-masing. Mereka, yang terbiasa berbagi ruang sempit di rumah, memilih untuk berkumpul dan tidur berhimpitan di satu kasur.

“Ada rasa syukur yang begitu tulus di mata mereka. Akhirnya, mereka memiliki kasur yang layak untuk dirinya sendiri,” kenang Tintin Sri Suprihatin, S.Pd., M.Pd., Kepala Sekolah Rakyat SRMA 11 Bandung.

Bagi Tintin, momen itu bukan sekadar urusan fasilitas tidur, melainkan simbol dari dimulainya sebuah perjalanan panjang: membangun kembali martabat dan kepercayaan diri anak-anak dari latar belakang ekonomi paling rentan.

Perjalanan Tintin sebagai pendidik tidaklah muncul begitu saja. Akarnya tertanam kuat di Bumi Siliwangi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di sana, ia lebih dikenal dengan nama panggilan akrab: Tina atau Ndhiel.

Bagi Ndhiel, UPI bukan sekadar deretan gedung kuliah. Gedung “Pentagon” menjadi saksi bisu tempatnya tumbuh. Di sanalah ia menghabiskan waktu berdiskusi, bercanda, hingga mencari inspirasi di tengah tumpukan tugas Pendidikan Bahasa Inggris. Para dosen di sana tidak hanya mencekokinya dengan teori bahasa, melainkan membuka jendela dunia bahwa bahasa adalah jembatan empati.

Kehidupan kampusnya berwarna. Ia mengasah disiplin di UKM Taekwondo, belajar kepemimpinan di pengurus himpunan, hingga menemukan arti kebersamaan di komunitas pecinta alam Eclipse Adventure Team (EAT).

“Candaan kami waktu itu, kegiatan ‘EAT’-nya sering kali lebih banyak daripada ‘adventure’-nya,” kenangnya sembari tertawa. “Namun di situlah maknanya relasi dan cerita yang terbangun jauh lebih berharga dari sekadar mencapai puncak gunung.” ucap Tintin.

Di kampus itu pula, ia menemukan pasangan hidup yang setia menemani fase jatuh bangunnya sejak masa kuliah hingga hari ini.

Kini, Ndhiel mengemban amanah besar di SRMA 11 Bandung. Baginya, menjadi kepala sekolah di sekolah rakyat adalah upaya menghadirkan keadilan sosial. Tantangannya nyata: sebagian besar siswanya berangkat dari titik awal yang serupa keterbatasan akses, minim pengalaman, dan krisis kepercayaan diri.

Namun, di tangan Ndhiel, kesamaan latar belakang itu justru diubah menjadi kekuatan. Karena tidak ada jurang sosial di antara siswa, yang tumbuh subur justru adalah solidaritas dan empati yang kuat.

Sistem asrama 24 jam menjadi keunggulan utama. Proses pendidikan tidak berhenti saat bel pulang berbunyi, melainkan menyatu dalam kehidupan sehari-hari. “Kami menekankan disiplin pada kesadaran, bukan tekanan. Keberhasilan di sini bukan hanya soal nilai akademik, tapi tentang tumbuhnya karakter dan hadirnya harapan baru,” tegasnya.

Perjalanan Tintin adalah bukti bahwa belajar adalah proses seumur hidup. Saat menempuh studi S2, ia harus berjibaku membagi waktu antara tanggung jawab profesional dan tugas akademik di tengah hantaman pandemi.

Belajar via Zoom dengan rekan kuliah yang jauh lebih muda memberinya perspektif baru. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan harus inklusif, memanusiakan, dan mampu menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Sebagai alumni yang kini terjun langsung di garda terdepan pendidikan, Tintin menitipkan pesan mendalam bagi para mahasiswa yang masih duduk di bangku kuliah, untuk menikmati setiap proses dalam perjalanan kuliah. Kampus bukan hanya tempat untuk mengejar nilai dan gelar, tetapi ruang untuk mengenal diri, mencoba banyak hal, dan membangun arah hidup. Jangan takut aktif, ikut organisasi, komunitas, atau kegiatan di luar kelas, karena sering kali pelajaran terbesar justru datang dari pengalaman, bukan hanya dari buku.

Tapi, jangan lupa untuk tetap menjaga keseimbangan. Belajar itu penting, tetapi membangun karakter, relasi, dan integritas jauh lebih menentukan dalam jangka panjang. Manfaatkan waktu sebaik mungkin, karena masa kuliah tidak akan terulang dengan cara yang sama. Dan yang terpenting, jangan hanya fokus untuk lulus, tetapi pastikan Anda benar-benar bertumbuh, sehingga ketika keluar dari kampus, Anda bukan hanya siap bekerja, tetapi juga siap memberi warna dan makna.

“Jangan hanya fokus untuk lulus, tetapi pastikan Anda benar-benar bertumbuh. Sehingga ketika keluar dari kampus, Anda bukan hanya siap bekerja, tetapi juga siap memberi warna dan makna bagi masyarakat,” pungkasnya.

Bagi Tintin, atau Ndhiel, pengabdian di SRMA 11 adalah perpanjangan dari nilai-nilai yang ia serap di UPI, bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal mengajar, tapi soal memberikan harapan bagi mereka yang hampir kehilangan masa depannya.