(Logo AFC U23 Asian Cup, sumber Wikipedia)

Selasa kemarin (9/9) Tim Nasional Indonesia U-23 (Timnas U-23) bertanding melawan Korea Selatan dalam laga terakhir Grup J Kualifikasi Piala Asia U-23 di stadion Gelora Delta. Sayangnya, pada pertandingan tersebut, Timnas U-23 harus menelan kekalahan dengan skor tipis 1-0 dan mengakui keunggulan Korea Selatan. Timnas U-23 hanya mampu finis di posisi kedua klasemen dengan perolehan empat poin. 

Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia (FPOK UPI), Prof. Dr. Dikdik Zafar Sidik, M.Pd., menanggapi hasil tersebut melalui siaran radio Elshinta pada Rabu (10/9). Prof. Dikdik menyoroti komparasi prestasi skuad Timnas U-23 sebelumnya dengan skuad Timnas U-23 sekarang. Ini menjadi bahan renungan bahwa seharusnya ada peningkatan prestasi Timnas U-23 setelah adanya pergantian pelatih di tahun lalu.

Prof. Dikdik juga menyoroti naluri mencetak gol pemain Timnas baik di senior maupun U-23. Hal ini perlu diperhatikan oleh PSSI dalam pembinaan. Pada saat pertandingan, kemampuan scanning situasi di lapangan menjadi kemampuan yang sangat penting dan akan sangat mempengaruhi alur pertandingan. Prof. Dikdik menilai bahwa Timnas U-23 masih harus meningkatkan kemampuan scanning tersebut agar pemain dapat mengambil keputusan di lapangan dengan tepat. 

Kalau sudah menjadi pemain sekelas nasional, seharusnya sudah memiliki kemampuan tersebut. Sehingga tidak mengambil keputusan ketika sudah menerima bola. Seharusnya sebelum menerima bola, pemain sudah tahu mau berbuat apa dan ke mana,” ungkapnya.

Melihat pola federasi, banyak pertanyaan yang muncul mengenai wacana pergantian pelatih. Namun, Prof. Dikdik memandang bahwa penggantian pelatih dalam kondisi ini tidak cukup bijak apabila dilakukan. Pelatih juga perlu diberi waktu tambahan untuk menilai para pemain dan mengatur strategi dalam menempatkan pemain. Sinkronisasi dan harmonisasi antara pelatih dan para pemain dalam proses latihan menjadi kunci dalam permainan. Prof. Dikdik menilai, komunikasi sudah tidak boleh menjadi alasan dalam proses latihan setelah berkaca dari pelatih sebelumnya dengan kesalahan fatal pada komunikasi, namun mampu mendapatkan peringkat 4 besar. 

Harmonisasi dalam tim merupakan evaluasi besar bagi PSSI dalam Timnas U-23 karena Timnas U-23 ini adalah jembatan penting masa transisi pemain usia muda ke usia elit senior. Apakah stay atau out. Ada beberapa yang memang perlu dibenahi. Saya kurang tahu juga apakah PSSI mencoba mencermati para pemain dari tingkat kecerdasannya..

Menit bermain di klub menjadi salah satu hal yang juga banyak dibahas selepas pertandingan kemarin. Para pemain Timnas U-23 didorong untuk dapat bermain lebih banyak di klub mereka masing-masing. Namun, regulasi yang dikeluarkan oleh federasi seolah-olah belum mendukung ke arah tersebut dan cenderung lebih banyak memberikan kesempatan kepada pemain asing. Prof. Dikdik menilai bahwa PSSI perlu juga belajar dari K-League atau J-League mengenai regulasi menit bermain untuk para pemain muda di klub masing-masing sebagai bentuk pembinaan dan pemberian pengalaman. 

Harus dibenahi juga kompetisinya, dibuat liga yang betul-betul PSSI punya keinginan untuk membuat para pemain muda potensial ini berkiprah di level internasional yang lebih baik,” tambahnya.

Sebagai penutup, Prof. Dikdik juga menanggapi point of view penonton yang dapat melihat lambatnya pergerakan pemain Timnas U-23. Pandangan tersebut dianggap wajar karena penonton bisa melihat dengan jangkauan yang lebih luas. Salah satu faktor yang menyebabkan pergerakan pemain yang lambat adalah pemain tengah yang kurang lincah. Prof. Dikdik juga mengharapkan agar federasi dan pelatih, mempersiapkan dengan serius skuad Timnas untuk ajang SEA Games nanti dengan harapan keberhasilan Timnas U-23 pada SEA Games sebelumnya tidak menjadi kegagalan pada saat ini.  

Kontributor: Prof. Dr. H. Dikdik Zafar Sidik, M.Pd. (melalui rekaman suara)