
Kabupaten Bandung, UPI
Dalam upaya menerapkan pembelajaran berbasis semesta, Program Studi S-2 Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan penelitian lapangan di Kampung Adat Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Rabu (03/06). Penelitian tersebut melibatkan 14 mahasiswa aktif semester 2. Kegiatan ini menjadi agenda rutin wajib untuk mata kuliah Antropologi Budaya.
Dosen pengampu mata kuliah, Dede Kosasih, menegaskan pentingnya mahasiswa terjun langsung ke lapangan alih-alih sekadar mengkaji teori di dalam kelas. Untuk tahun ini, fokus penelitian diarahkan pada studi etnografi dan siklus hidup manusia.
Dede pun menegaskan bahwa penelitian kali ini berfokus pada studi etnografi dan siklus hidup. Menurutnya, dengan pengarahan kajian ini, mahasiswa diharapkan mampu secara sistematis melakukan penelitian dengan kolaborasi yang tepat, sehingga nilai-nilai falsafah dan adat istiadat yang berlaku dapat didokumentasikan.
“Agar mahasiswa senantiasa terarah, tahun ini fokusnya pada etnografi dan siklus kehidupan manusia, yang terdiri dari kelahiran, khitanan, pernikahan, dan kematian. Mahasiswa diharapkan mampu mendokumentasikan nilai-nilai falsafah dan adat istiadat yang berlaku secara sistematis,” ujar dosen yang akrab disapa Dekos tersebut.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Lisan Shidqi Zul Fahmi Sianipar (23), menjelaskan bahwa Kampung Adat Cikondang dipilih karena lokasinya yang relatif dekat dari Kota Bandung namun masih minim kajian mendalam terkait etnografi dan siklus hidup.
Kendati demikian, tim peneliti harus menyesuaikan waktu dengan hukum adat setempat yang melarang kunjungan pada hari-hari tertentu.
“Di Kampung Adat Cikondang, hari Selasa, Jumat, dan Sabtu itu tidak boleh berkunjung. Jadi, kami memilih untuk meluangkan waktu Rabu ini untuk penelitian,” kata mahasiswa yang akrab disapa Kang Li tersebut.
Penelitian berjalan lancar berkat kehadiran Rinie Mutia Widianingsih. Mahasiswi S-2 Sunda sekaligus guru Bahasa Sunda di SMAN 1 Cikondang ini merupakan bagian integral dari struktur sosial masyarakat setempat. Rinie bertindak sebagai perantara yang menghubungkan para mahasiswa dengan narasumber autentik.
“Sebelum teman-teman datang, saya sudah menghubungi narasumber seperti ketua adat, paraji (dukun beranak/pawang), panyawér, dan tokoh lainnya. Kampung adat selalu senang karena kajian ini berkontribusi besar pada pengembangan ilmu pengetahuan dan wawasan lokalitas Cikondang,” tutur Rinie.
Sambutan hangat juga disampaikan oleh Ketua Adat Cikondang, Johana, atau yang biasa disapa Abah Anom. Ia mengaku bangga melihat generasi muda yang peduli pada kebudayaan luhur.
“Saya senang, karena artinya mahasiswa bukan hanya merasa cukup dengan ilmu huruf (teori), melainkan juga dengan ilmu hidup,” ungkap Abah Anom.

Ia bahkan mengundang langsung para mahasiswa untuk kembali berkunjung pada saat prosesi peringatan ritual 1 Muharam mendatang.
Kegiatan lapangan ini menjadi bukti nyata komitmen UPI dalam menyelenggarakan pendidikan secara menyeluruh. Langkah ini selaras dengan program kementerian yang mendorong luaran perkuliahan agar memberikan dampak nyata dan kontribusi positif dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, kompeten, serta berbasis pada kearifan lokal. (Shidqi Zul Fahmi Sianipar)

