Oleh:

Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si.

Kepala Pusat Unggulan Universitas SAINS DATA ASTRONOMI DAN

POLUSI CAHAYA (SADAR-POLYA)



Grafik kurva visibilitas hilal Syawal 1447 H dalam Gambar 1 untuk lokasi Sabang, Indonesia, pada 19 Maret 2026 memberikan gambaran kuantitatif mengenai peluang pengamatan sabit Bulan muda (hilal) setelah terjadinya konjungsi. Kurva tersebut dibangun menggunakan model visibilitas Kastner (1976), suatu pendekatan fotometrik yang menilai kemungkinan kenampakan hilal melalui perbandingan kontras luminansi antara cahaya hilal dan kecerahan langit senja. Berbeda dari pendekatan geometris semata, model ini juga mempertimbangkan pengaruh ekstingsi atmosfer, distribusi kecerahan langit senja, serta konfigurasi posisi Matahari dan Bulan di langit. Dalam grafik yang disajikan, ditampilkan tiga kurva yang mewakili variasi kondisi atmosfer, yaitu atmosfer bersih (k = 0,2), atmosfer moderat (k = 0,4), dan atmosfer kotor (k = 0,6), yang masing-masing menggambarkan tingkat transparansi atmosfer terhadap cahaya hilal.

Berdasarkan grafik tersebut terungkap bahwa nilai fungsi visibilitas untuk skenario kondisi atmosfer bersih dan moderat (diwakili dengan penggunaan nilai koefisien ekstingsi masing-masing 0,2 dan 0,4) telah berada pada nilai positif sejak sebelum Matahari terbenam. Dalam kerangka model Kastner, nilai visibilitas positif menunjukkan bahwa luminansi hilal secara teoretik telah melampaui luminansi langit latar belakang, sehingga kontras fotometrik antara hilal dan langit senja bernilai lebih dari satu. Kondisi ini mengindikasikan bahwa secara prinsip hilal telah berada dalam domain deteksi instrumen optik sejak awal interval pengamatan. Dengan kata lain, secara teoretik hilal sudah dapat dideteksi menggunakan teleskop bahkan pada fase senja yang sangat awal, selama posisinya masih berada di atas ufuk barat. Namun demikian, kualitas atmosfer tetap berperan penting dalam menentukan peluang keberhasilan pengamatan. Atmosfer yang lebih bersih memberikan waktu observasi yang lebih panjang bagi pengamat untuk mengidentifikasi hilal dibandingkan atmosfer moderat yang relatif lebih keruh. Untuk skenario atmosfer bersih, hilal diperkirakan masih dapat diamati dengan bantuan teleskop hingga sekitar 18 menit setelah Matahari terbenam di Sabang. Sementara itu, pada kondisi atmosfer moderat, nilai visibilitas masih bertahan pada nilai lebih dari 1 sampai dengan 6 menit pascaterbenam Matahari.

Walaupun demikian, nilai visibilitas yang positif tidak serta-merta berarti bahwa hilal dapat diamati dengan mudah oleh mata manusia. Sabit Bulan pada fase sangat muda setelah konjungsi memiliki ketebalan yang amat tipis serta tingkat kecerahan yang rendah, sehingga pengamatan dengan mata telanjang tetap menghadapi keterbatasan fisiologis sistem penglihatan manusia. Berdasarkan karakteristik kurva pada grafik, pengamatan hilal pada kasus ini tidak diprediksi dapat dilakukan dengan modus mata telanjang. Oleh karena itu, pengamatan praktis memerlukan bantuan instrumen optik seperti teleskop atau binokuler yang mampu meningkatkan kontras dan memperbesar citra sabit Bulan sehingga keberadaannya dapat dikenali dengan lebih jelas oleh pengamat.

Selain dukungan instrumen, keberhasilan pengamatan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan observasi. Meskipun model Kastner memprediksi visibilitas positif pada beberapa skenario atmosfer, pengamatan nyata tetap memerlukan kondisi cuaca yang mendukung. Langit perlu berada dalam keadaan cerah tanpa liputan awan tebal di arah posisi hilal, dan medan pandang menuju ufuk barat sebaiknya bebas dari penghalang terestrial seperti gedung, perbukitan, maupun pegunungan. Hal ini penting mengingat posisi hilal pada awal senja umumnya masih relatif rendah di atas cakrawala, sehingga sedikit saja penghalang dapat menutup peluang pengamatan meskipun secara teoretik kontras fotometriknya telah memenuhi syarat.

Keandalan prediksi model Kastner dalam memprediksi visibilitas hilal juga telah diuji melalui berbagai klaim keberhasilan pengamatan yang tercatat sebagai rekor dunia (Utama, 2020). Model Kastner (1976) terbukti mampu memvalidasi sejumlah laporan penting, termasuk pengamatan hilal termuda berbantuan teleskop dengan umur sekitar 12 jam 23 menit serta elongasi sekitar 6°, maupun pengamatan hilal termuda dengan mata telanjang dengan umur sekitar 15 jam dan elongasi sekitar 7,6°. Selain itu, model ini juga mampu menjelaskan kasus pengamatan dengan jeda waktu terpendek antara terbenamnya Matahari dan Bulan (lag time). Kesesuaian antara prediksi model dan laporan observasional tersebut menunjukkan bahwa pendekatan fotometrik Kastner (1976) memiliki reliabilitas yang baik dalam memprediksi visibilitas hilal pada berbagai konfigurasi geometris Matahari–Bumi–Bulan, kondisi atmosfer lokal, serta lintang geografis pengamatan. Model Kastner (1976) yang untuk pertama kalinya diimplementasikan dalam prediksi visibilitas hilal oleh Utama dan Siregar (2013) kini juga telah diakomodasi dalam aplikasi hisab astronomis yang dikembangkan oleh Dewan Hisab dan Rukyat PP Persatuan Islam, yang mencakup perhitungan waktu salat, arah kiblat, almanak hijriah, dan gerhana. Program tersebut dapat diunduh melalui laman https://persis.or.id/kajian/read/link-update-hisab-astronomis.

Menarik untuk menantikan lahirnya rekor dunia dari Indonesia dalam pengamatan hilal pada Kamis, 19 Maret 2026 yang akan datang (umur Bulan 12 jam 1 menit dan elongasi toposentrik 5,4 °; bandingkan dengan rekor teleskopik dunia di atas), yang disimulasikan dalam Gambar 2. Mengikuti kriteria MABIMS baru yang diberlakukan sejak 2022 dan menggunakan klausul tinggi hilal (toposentrik) minimal 3° serta elongasi (geosentrik) minimal 6,4°, posisi Bulan di Sabang nanti memiliki tinggi (toposentrik) 3,1° dan elongasi (geosentrik) 6,1° (setara dengan elongasi toposentrik 5,4°). Dengan demikian, nilai elongasi Bulan faktual hanya terpaut lebih rendah sekitar 0,3° saja dari batas minimal yang dipersyaratkan sebagai indikator visibilitas. Apabila terdapat kesaksian pengamatan hilal di bawah sumpah yang juga berhasil didokumentasikan, laporan yang disertai bukti otentik tersebut berpotensi memengaruhi dinamika pengambilan keputusan dalam sidang isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama. Di sisi lain, citra hilal yang berhasil direkam juga akan memiliki nilai ilmiah yang tinggi bagi perkembangan astronomi pengamatan. Semoga langit Sabang bersahabat dan memberikan kesempatan bagi lahirnya rekor dunia baru dari Indonesia. Selamat menyambut tibanya Hari Raya Kemenangan. Semoga kita semua beroleh derajat takwa.