Bandung, UPI

Program RISEN (Resilient, Informed and Strong with Exercise and Nutrition) yang dilaksanakan oleh Program Studi Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK-UPI) pada 18 Juni 2025 di SMPN 3 Soreang, Kabupaten Bandung, bukan hanya sebuah kegiatan edukasi biasa. Lebih dari itu, program ini merupakan bagian dari upaya sistematis dalam menghadapi salah satu masalah kesehatan yang paling umum dan sering terabaikan di kalangan remaja putri: anemia defisiensi besi.

Anemia: Masalah Kesehatan Global yang Dekat dengan Remaja Putri

Anemia, terutama yang disebabkan oleh kekurangan zat besi, adalah kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal (<12 g/dL). Remaja putri menjadi kelompok yang paling rentan karena kebutuhan zat besi mereka meningkat secara signifikan, terutama setelah mengalami menstruasi pertama (menarke). Siklus menstruasi yang datang setiap bulan menyebabkan hilangnya zat besi dalam jumlah besar dari tubuh.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,62 miliar orang di dunia menderita anemia, dan di Indonesia, angkanya cukup mengkhawatirkan: 22,3% wanita usia subur (15–49 tahun) mengalami anemia (Riskesdas 2019). Sayangnya, masih banyak remaja yang belum menyadari gejala-gejalanya, seperti pucat, lemas, sulit konsentrasi, dan mudah lelah — gejala yang sering dianggap wajar atau diabaikan.

Edukasi yang Menggugah: Membangun Kesadaran dari Akar

Program RISEN hadir sebagai bentuk intervensi berbasis edukasi dan pemberdayaan. Dalam kegiatan ini, para peserta (sekitar 100 siswa dan 20 guru) tidak hanya diberi ceramah satu arah, tetapi diajak berdiskusi aktif, menyusun menu harian sehat, serta melakukan simulasi aktivitas fisik ringan. Bahkan, mereka mendapatkan pemeriksaan kadar hemoglobin secara gratis.

Tim pengabdi dari FK-UPI, yang terdiri dari Dr. dr. Nur Faizah Romadona, M.Kes., dr. Euis Heryati, M.Kes., dr. Ikbal Gentar Alam, M.Kes., Sp.GK, dan dr. Fenny Dwiyatnaningrum, M.Kes., MMRS., menjelaskan bahwa pencegahan anemia harus dimulai dari pengetahuan yang benar, pola makan seimbang, dan aktivitas fisik teratur. Edukasi ini menjadi landasan untuk membentuk remaja yang tangguh secara fisik dan mental.

Nutrisi dan Gerak Aktif: Dua Pilar Pencegahan

Pola makan menjadi kunci utama. Siswa diajak mengenal makanan sumber zat besi (seperti daging merah, hati ayam, bayam, kacang-kacangan), sumber vitamin C yang membantu penyerapan zat besi (jeruk, tomat), serta protein untuk regenerasi sel darah merah.

Tak kalah penting, aktivitas fisik juga dibahas secara praktis. Aktivitas seperti jalan kaki, bersepeda, berenang, hingga latihan beban ringan selama 30 menit per hari minimal 5 kali seminggu, sangat dianjurkan. Aktivitas ini membantu sirkulasi darah, meningkatkan produksi sel darah merah, dan menjaga berat badan ideal.

Dampak Jangka Panjang: Sehat Kini, Cerdas Nanti

Kegiatan Program RISEN tidak berakhir pada satu hari saja. Para peserta diminta mengisi jurnal harian selama satu bulan untuk mencatat asupan makan dan aktivitas fisik mereka. Hal ini bertujuan sebagai monitoring dan pembentukan kebiasaan sehat.

Melalui kegiatan ini, FK-UPI berharap mampu berkontribusi dalam penurunan angka anemia remaja, sekaligus mendukung upaya nasional dalam menekan risiko stunting, gangguan tumbuh kembang, dan rendahnya produktivitas generasi muda. (Kontributor)