
Bandung – Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (FPBS UPI) menjadi pusat rujukan dalam pelestarian bahasa daerah. Berbagai pengalaman yang dimiliki UPI, mulai dari pengembangan kurikulum, riset kebahasaan, hingga pengabdian masyarakat, menjadikan prodi ini sebagai mitra strategis bagi perguruan tinggi lain di Indonesia. Dalam konteks ini, UPI menunjukkan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu dengan menerima kunjungan benchmarking dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) pada Senin, 22 September 2025. Kegiatan berlangsung di Kampus UPI Bandung dengan fokus utama berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan pendidikan bahasa daerah.
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Dr. Haris Santosa, M.Pd., sebagai perwakilan UPI menyampaikan apresiasi atas inisiatif UNG yang hendak mengembangkan program studi serupa. Menurutnya, riset lintas bahasa seperti perbandingan bahasa Sunda dan bahasa Gorontalo tidak hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga membuka ruang dialog kebudayaan yang lebih luas di Indonesia. Sementara itu, Prof. Dr. Sulaeman Bouti, S.Pd., M.Hum., dari UNG menjelaskan bahwa pihaknya hingga kini belum memiliki Program Studi Pendidikan Bahasa Daerah. Karena itu, kolaborasi dengan UPI dipandang sangat penting untuk memperkuat arah riset dan memastikan pengembangan tata tulis bahasa Gorontalo berbasis kajian ilmiah. Dalam sesi diskusi ini pembahasan juga diarahkan pada aspek ortografi dan fonologi, menyoroti perbedaan serta persamaan sistem bunyi antara bahasa Gorontalo dan bahasa Sunda.

Riset yang dirancang UNG dipandang strategis karena berpotensi menjadi model pengembangan studi bahasa daerah lain di kawasan Timur Indonesia. Dengan menekankan aspek fonologi dan ortografi, penelitian ini dapat menunjukkan pola-pola kebahasaan yang menguatkan keragaman sekaligus kesatuan Nusantara. Benchmarking UNG ke UPI ini menegaskan pentingnya sinergi antar perguruan tinggi dalam memperkuat posisi bahasa daerah di tengah arus globalisasi. Upaya ini sekaligus menjadi momentum berharga bagi UNG untuk memperluas jejaring akademik, memperkuat kapasitas riset, dan mempersiapkan pendirian program studi bahasa daerah di masa depan. Lebih jauh, inisiatif ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan tujuan ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. Pelestarian bahasa daerah melalui riset dan pendidikan tidak hanya mendukung peningkatan mutu pembelajaran, tetapi juga memastikan keberlangsungan identitas budaya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan benchmarking dimulai pukul 09:10 WIB dengan penyampaian maksud dan tujuan oleh Prof. Sulaeman, dilanjutkan sambutan Dr. Haris pada pukul 09:21 WIB, dan diskusi panel pada pukul 09:28 WIB. Dalam sesi diskusi, pembahasan diarahkan pada aspek ortografi dan fonologi, menyoroti perbedaan serta persamaan sistem bunyi antara bahasa Gorontalo dan bahasa Sunda. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif serta menghasilkan berbagai ide dan gagasan untuk pengembangan riset bahasa daerah ke depan. Tim UNG banyak belajar dari pengalaman UPI dalam membangun kurikulum dan penelitian, sekaligus mendukung pelestarian bahasa daerah melalui pendidikan dan pengabdian masyarakat. Riset ini juga dinilai berdampak langsung pada penyusunan buku ajar, pengembangan literasi sekolah, hingga media pembelajaran berbasis bahasa daerah yang dapat diwariskan kepada generasi muda.
Kontributor: Haris Santosa Nugraha

