
Bandung, UPI
Mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) diajak mengenali kondisi kesehatan mental, memanfaatkan layanan konseling, serta memahami pentingnya keberagaman dan inklusivitas di lingkungan perguruan tinggi. Pesan tersebut disampaikan dalam pematerian pertama hari ketiga Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026, Jumat (21/8/2026).
Pematerian bertema “Mahasiswa UPI sebagai Garda Kebangsaan yang Muda Berintegritas untuk Ketahanan Bangsa” tersebut menghadirkan Direktur Direktorat Bimbingan Konseling, Difusi Inklusi, dan Pengembangan Karier (BKDIPK) UPI Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd., serta Kepala Divisi Difusi Inklusi Dr. Een Ratnengsih, S.Pd., M.Pd.
Dalam pemateriannya, Dr. Yusi memperkenalkan layanan BKDIPK sekaligus memandu mahasiswa baru mengisi instrumen kesehatan mental melalui portal Siak-ku UPI. Instrumen tersebut ditujukan untuk membantu mahasiswa memahami kondisi dirinya, bukan untuk menentukan benar atau salahnya jawaban.
“Tidak ada jawaban benar dan salah, akan tetapi sesuai atau tidak dengan kondisi kita,” ujar Dr. Yusi.
Ia menjelaskan, hasil pengisian instrumen kesehatan mental tidak perlu disetorkan kepada BKDIPK. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk memahami kondisi diri dan menentukan langkah yang diperlukan apabila membutuhkan dukungan lebih lanjut.
“Hasilnya tidak perlu disetorkan ke kami, dipahami saja. Namun, jika merasa memerlukan konsultasi lebih lanjut bisa isi konselingnya,” katanya.
Mahasiswa yang membutuhkan layanan konseling dapat mengakses BKDIPK UPI yang berlokasi di Gedung University Center (UC). Selain konseling, BKDIPK juga memperkenalkan Forum Teman Sebaya (4Tab), organisasi kemahasiswaan di bawah naungan BKDIPK yang memberikan dukungan, edukasi, dan konseling sebaya bagi mahasiswa.
Layanan 4Tab dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang membutuhkan ruang untuk berbicara dan berbagi ketika menghadapi kecemasan atau persoalan tertentu. Informasi mengenai pengembangan diri dan pengembangan karier juga tersedia melalui kanal Instagram dan laman BKDIPK UPI.
Pematerian kemudian dilanjutkan Dr. Een Ratnengsih yang membahas keberagaman dan difusi inklusi. Ia menekankan bahwa setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda sehingga keberagaman merupakan bagian dari realitas kehidupan.
“Di dunia ini tidak ada satu pun orang yang sama dan setiap individu itu unik.” ujar Dr. Een.
Menurutnya, perbedaan dapat terlihat dari berbagai aspek, termasuk karakter, kondisi fisik dan sensoris, serta latar belakang individu. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan menerima keberagaman dan menghindari tindakan diskriminatif terhadap kelompok minoritas.
Dr. Een juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa berkebutuhan khusus yang mampu melewati berbagai tantangan untuk masuk dan menempuh pendidikan di UPI. Menurutnya, tantangan bagi kelompok minoritas tidak berhenti pada proses masuk perguruan tinggi, tetapi dapat muncul sejak awal perkuliahan hingga menyelesaikan studi.
Karena itu, mahasiswa yang menghadapi hambatan akademik maupun kebutuhan dukungan lainnya diimbau tidak ragu menghubungi BKDIPK. Layanan tersebut dapat memberikan pendampingan melalui program mentoring difusi inklusi.
“Tidak boleh ada satu pun mahasiswa yang tertinggal walaupun memiliki hambatan,” tegas Dr. Een.
UPI juga terus mengupayakan peningkatan aksesibilitas bagi mahasiswa berkebutuhan khusus. Dalam pemateriannya, Dr. Een menyampaikan bahwa UPI sedang menjalin kerja sama dengan salah satu universitas di Jepang yang secara khusus berkaitan dengan mahasiswa berkebutuhan khusus.
Melalui pematerian tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan pada berbagai layanan yang dapat mendukung perjalanan akademik dan pengembangan diri mereka. Pemahaman mengenai kesehatan mental, keberagaman, aksesibilitas, dan dukungan sebaya menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan UPI yang inklusif dan memastikan mahasiswa dapat menjalani proses pendidikan hingga menyelesaikan studi. (Putri Awalia-Caraka Muda)

