
Bandung, UPI
Museum Pendidikan Nasional (Mupenas) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) resmi menggelar Festival Edu Heritage 2026. Acara yang berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 17 hingga 19 Juni ini bertujuan untuk mengubah stigma museum dari tempat penyimpanan benda kuno yang pasif menjadi ruang publik yang interaktif dan edukatif.
Rektor UPI, Prof. H. Didi Sukyadi, M.A., menegaskan bahwa fungsi pendidikan tidak hanya terbatas pada sekolah atau universitas, melainkan juga melekat pada museum. Menurutnya, museum modern harus mampu mendepankan inovasi, baik dari segi koleksi, pengelolaan, pemasaran, hingga jenis kegiatannya.
“Kalau museumnya bergerak seperti ini, mudah-mudahan museum tidak akan ditinggalkan baik oleh siswa, mahasiswa, maupun masyarakat. Kita ingin orang datang ke museum berkali-kali, menikmati sejarah sekaligus budaya kekinian,” ujar Didi saat membuka acara.
Ia juga menambahkan, jika respons publik terhadap festival ini terus positif, UPI berencana untuk menjadikan Festival Edu Heritage sebagai agenda tahunan (annual event) dengan skala yang lebih masif.
Sementara itu, Kepala Mupenas UPI, Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., menjelaskan bahwa festival ini dirancang sebagai program publik untuk mempopulerkan museum ke masyarakat luas melalui berbagai aktivitas kreatif.
Selama festival berlangsung, Mupenas UPI menyajikan berbagai perlombaan dan pertunjukan seni, di antaranya Lomba fashion show, Lomba memasak nasi goreng, Lomba mewarnai untuk anak-anak, Pertunjukan seni dan music, dan peragaan busana batik yang diikuti oleh jajaran pimpinan UPI beserta pasangan.

“Kehadiran museum ini bercerita tentang sejarah pendidikan di Indonesia serta nilai (value) yang dibawanya. Bukan hanya untuk masa lalu, tetapi untuk masa kini dan masa yang akan datang,” ungkap Leli.
Langkah Mupenas UPI ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bandung. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, menyatakan bahwa pelestarian museum sangat krusial agar mata rantai sejarah tidak terputus di generasi muda.
“Kita bisa tahu sejarah itu berbasis di museum. Makna dari heritage adalah mempertahankan nilai-nilai luhur. Jangan sampai sejarah ini putus di satu generasi, terutama mengenai sejarah pendidikan,” kata Asep.
Asep berharap Festival Edu Heritage 2026 dapat menjadi pemantik penguatan edukasi bagi peserta didik di Kota Bandung, mulai dari tingkat TK, SD, hingga SMP. Pemerintah Kota Bandung berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan kebudayaan yang berdampak positif pada sektor pendidikan ini. (DN)

