Kab. Bandung Barat, UPI

Peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan inovasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan sektor pertanian. Pada Selasa (14/4/2026), Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian melakukan peninjauan secara langsung di lahan pertanian yang mengimplementasikan bio nutrisi di Sindangpalay, Desa Cugugur, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Ini merupakan implementasi dari pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) No. 2, tanpa kelaparan (zero hunger), yang terdiri dari ketahanan pangan, nutrisi, dan pertanian berkelanjutan.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., menekankan bahwa program ini memiliki nilai strategis tidak hanya untuk pengembangan produk bio nutrisi, tetapi juga bisa dikembangkan untuk pengembangan kemitraan penjualan baik di dalam maupun di luar negeri, dengan mempertimbangkan standar produk pertanian yang lolos standar internasional.

“Salah satu produk penelitian dosen kita, Bionut, digunakan dalam pertanian yang sebenarnya.  Jadi, ini ada sejumlah pohon sayuran: buncis, tomat, dan lain sebagainya. Sangat kentara bahwa tumbuhnya tanaman hortikultura ini kelihatan. Seperti manusia juga kan kalau sehat keliatan bugar ini kira-kira seperti itu,” ujar Prof. Agus di Bandung Barat

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penggunaan bionut dapat meningkatkan kualitas pertanian. Beliau berdisikusi dengan pak Ustad selaku petani di sini. Ada beberapa dampak dari penggunaan bionut tersebut. Selain penampakan yang memang tumbuh subur dan juga daya tahan tanaman yang lebih baik, penggunaan pupuk dan pestisida juga minimal.

“Ini sangat progresif sekali. Sebenarnya, produk-produk seperti inilah yang kita harapkan terhilirisasi bukti penggunaannya. Nanti kita coba diskusikan bagaimana pemasaran lebih luas atau pengenalan produk ini lebih luas kepada para petani. Harus ada salah satu program untuk mengenalkan produk ini kepada para petani secara lebih luas. Kelihatan prospeknya akan sangat baik, karena di sekitar UPI masih banyak pertanian hortikultura seperti yang kita lihat pada hari ini”. ujar Prof. Agus di Bandung Barat.

Kemudian Yaya Sonjaya, M.Si., menambahkan bahwa Bionutrian ini merupakan produk hasil riset kelompok bidan keahlian kimia lingkungan, di mana saya sebagai ketua tim dalam riset ini. Produk ini dibuat dari ekstrak tumbuhan tropis. Kami mengandalkan bahan kimia yang berasal dari tumbuhan. Produk ini berhasil diriset dari tahun 2006 hingga 2026. Sekarang sampai pada tingkat terapan, sekitar 20 tahun. Bio Nutrien ini bukan pupuk, tapi suplemen tumbuhan. Pertama, supaya pertumbuhannya bagus. Kedua, produksi sayur atau buahnya akan berlangsung dengan sangat baik. Tidak hanya di Cigugur dikembangkan juga di daerah Cibodas.

Ustad Iiin sebagai petani mengutarakan lahan yang digunakan sebanyak 6.500meter pesegi. Dibagi ke dalam tiga lahan pertanian cengek, tomat, dan buncis. Tiap jenis tanaman kurang lebih memakai lahan sebanyak 2000 meter. Keuntungan menggunakan bio nutrient ini adalah penggunaan pupuk berbanding 1 banding 3. Menggunakan 1 kali bionutrien dapat menghemat 3 kali bahan pupuk biasa. Sehingga bisa menekan biaya penggunaan pupuk berbahan kimia.

“Tidak hanya lahan tersebut yang diberikan pendekatan dengan menggunakan bionutrient, tetapi juga akan dibentuk kelompok pertanian binaan langsung dalam mengimplementasikan bionutrient ini”. ujar Yaya.

Program hilirisasi hasil riset ini merupakan kegiatan yang memiliki dampak lansugn terhadap dunia pertanian. Sehingga para petani dapat meningkatkan hasil produksi lahan pertanian dan juga menekan biaya untuk pembelian pupuk seperti biasanya. Hasil panen akan jauh lebih meningkat bagi para petani di Sindang Palay, Kabupaten Bandung Barat. (Iqbal)