Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dilaksanakan di halaman Gedung Gymnasium Kampus UPI Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung. Dalam momentum peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2025, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menegaskan pentingnya Pancasila sebagai pondasi sekaligus perekat bangsa dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Rabu, 1/10/2025.

Tema peringatan tahun ini, “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya”, menjadi pengingat bahwa Indonesia sebagai bangsa majemuk dengan beragam suku, agama, ras, dan golongan telah memiliki dasar yang kuat untuk menjaga persatuan.

“Banyak negara yang memiliki keragaman seperti Indonesia justru mengalami kesulitan dalam mempersatukan bangsanya. Namun, Indonesia mampu bertahan dan tetap kokoh berkat nilai-nilai luhur Pancasila yang digali oleh para founding fathers kita,” ujar Rektor UPI.

Lebih lanjut, Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. menekankan bahwa persatuan bangsa merupakan prasyarat penting dalam mencapai pembangunan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan terwujudnya masyarakat beradab. “Kalau kita bersatu, kita bisa melakukan apapun, termasuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas tahun 2045,” tambahnya.

Rektor UPI juga mengajak seluruh masyarakat untuk tidak berhenti pada pemahaman saja, melainkan benar-benar mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. “Mulai dari bangun tidur hingga kita kembali beristirahat, seharusnya nilai-nilai Pancasila sudah terpatri dalam diri kita. Percaya kepada Tuhan, mencintai sesama, menghormati orang tua, menyayangi yang lemah, hingga peduli pada fakir miskin adalah wujud nyata pengamalan Pancasila,” tegasnya.

Dalam Kesempatan yang sama Kepala Pusat Unggulan Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Si. menjelaskan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk mengenang sejarah, khususnya peristiwa G30S/PKI yang memperlihatkan pertarungan ideologi antara komunisme dengan Pancasila. “Bangsa Indonesia mampu tegak berdiri karena berpegang pada Pancasila. Itulah mengapa Pancasila disebut sakti, karena tidak bisa ditumbangkan bahkan oleh kekuatan militer,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pancasila digali dari nilai-nilai budaya bangsa dan nilai-nilai agama yang hidup di tengah masyarakat. Inilah yang membedakan Pancasila dengan ideologi besar dunia seperti komunisme, liberalisme, maupun sosialisme. “Basis Pancasila adalah religiusitas, nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menjadi landasan dalam membangun kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan,” jelasnya.

Di sisi lain, tantangan terhadap Pancasila tidak hanya datang dari luar melalui ideologi transnasional yang bertentangan dengan jati diri bangsa, tetapi juga dari dalam negeri. Generasi penerus bangsa perlu terus memahami, mengembangkan, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pendidikan formal menjadi jalur strategis untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Tema tahun ini sangat relevan karena kita tengah berupaya agar nilai Pancasila benar-benar hidup dalam sanubari bangsa Indonesia serta menjadi dasar dalam sistem ketatanegaraan kita,” pungkasnya.

Melalui momentum Hari Kesaktian Pancasila, UPI berkomitmen terus menanamkan nilai-nilai Pancasila di lingkungan kampus dan masyarakat luas sebagai jalan menuju bangsa yang bersatu, maju, dan berdaulat. (Riza Ibrahim/DN/Ratih)