Bandung, UPI — Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait riset “Model Resolusi Konflik Education for Peace and Sustainable Development (EPSD) dalam Menangani Kekerasan Digital di Lingkungan Sekolah” bertempat di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Jumat (14/11). Kegiatan ini dihadiri tim peneliti, perwakilan guru SMP dan SMA, serta dua narasumber ahli, yakni Sabarina Nur Sarah, M.Pd., dan Pathah Pajar Al-Mubarok, M.Pd.

Ketua peneliti, Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si., menjelaskan bahwa peningkatan kasus kekerasan digital membutuhkan model resolusi konflik yang efektif, “Kecakapan digital tidak selalu diiringi etika penggunaan teknologi. Rendahnya literasi digital, kurangnya pengawasan, dan ketiadaan regulasi membuat anak sangat rentan terhadap kekerasan digital,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kesiapan guru dan ekosistem pendidikan digital masih rendah sehingga sistem pencegahan, pemantauan, dan evaluasi kekerasan daring belum optimal.

Ahli lainnya, Prof. Dr. Bunyamin Maftuh, M.Pd., MA., menekankan pentingnya integrasi pendidikan resolusi konflik ke dalam pembelajaran, “Penggunaan teknologi digital membawa dampak positif sekaligus risiko. Anak-anak sebagai pengguna aktif memiliki kerentanan tinggi akibat kurangnya bijaksana dalam menggunakan teknologi,” katanya.

Sementara itu, narasumber ahli Pathah Pajar Al-Mubarok, M.Pd., menegaskan bahwa upaya pencegahan harus menjadi prioritas, “Model resolusi konflik dapat ditekankan melalui pembelajaran di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler,” ujarnya.

Model EPSD yang dikembangkan dalam riset ini menekankan pendidikan karakter, literasi digital, dan keterampilan berpikir kritis. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang responsif terhadap ancaman kekerasan digital sekaligus meminimalisasi kasus yang melibatkan peserta didik.

Kontributor KKIPP UPI, Lingga Utami, M.Pd.