
Bandung, UPI
Selama ini, mata pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) di sekolah seringkali hanya dianggap sebagai waktu luang untuk bermain bola atau sekadar mengejar kebugaran fisik. Namun, Prof. Dr. Bambang Abduljabar, M.Pd. menegaskan bahwa Penjas memiliki misi yang jauh lebih besar, yakni membentuk manusia yang “terdidik jasmaniah seutuhnya”.
Hal tersebut disampaikan Prof. Bambang dalam orasi pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Pedagogi Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (8/5/2026). Dalam orasinya, ia membedah peran krusial gerak sebagai fondasi pendidikan karakter dan kecerdasan siswa.
Prof. Bambang memperkenalkan konsep “belajar untuk gerak sebagaimana gerak untuk belajar”. Menurutnya, jasmani bukan hanya objek yang dilatih, melainkan alat utama untuk mendidik.
“Keberadaan olahraga di sekolah selalu bertujuan untuk memfasilitasi siswa belajar. Siswa harus mengalami situasi gerak yang bermakna, berkesan, dan berdampak pada mutu kehidupan mereka, baik sekarang maupun di masa depan,” ujar Prof. Bambang.
Ia menekankan bahwa Penjas di sekolah tidak boleh hanya fokus pada keterampilan motorik mentah, tetapi harus menyentuh aspek kognitif (pikiran), afektif (sikap), dan sosial. Target utamanya adalah menciptakan siswa yang memiliki “literasi fisik” dan “kecerdasan jasmaniah”.
Salah satu poin penting dalam orasi Prof. Bambang adalah pemisahan peran antara olahraga di sekolah dan olahraga prestasi. Ia menilai perlunya pemetaan sistematis agar kedua bidang ini tidak tumpang tindih. Pendidikan Jasmani di Sekolah: Fokus pada pengembangan karakter, pengalaman gerak yang menyenangkan, penguasaan pola gerak dasar, dan literasi fisik. Tujuannya adalah pendidikan menyeluruh bagi semua siswa. Olahraga Prestasi: Fokus pada optimalisasi performa, kemenangan, dan kompetisi. Menurut Prof. Bambang, pembinaan ini lebih tepat dilakukan di klub-klub olahraga masyarakat, bukan menjadi beban utama kurikulum sekolah.
“Di sekolah, keberhasilan diukur dari seberapa cerdas jasmaniah seorang siswa. Sedangkan di klub prestasi, tolok ukurnya adalah catatan waktu, kekuatan, teknik, dan kemenangan,” jelasnya secara lugas.
Prof. Bambang menganalogikan penguasaan gerak seperti bahasa. Siswa di sekolah harus dibekali dengan banyak “kosakata” gerak agar mereka mampu berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan melalui tubuh mereka.
Melalui pedagogi yang tepat, guru Penjas diharapkan mampu merancang kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan siswa, bukan sekadar memberikan bola dan membiarkan mereka bermain tanpa arah.
Pengukuhan ini menjadi pengingat bagi dunia pendidikan di Indonesia bahwa jasmani yang cerdas adalah kunci untuk membangun generasi masa depan yang tangguh secara mental dan fisik. Prof. Bambang berharap, riset-riset di bidang pedagogi olahraga terus diperkuat agar Penjas tetap menjadi jantung dari transformasi individu di sekolah. (DN/Rija/RK)

