
Bandung, UPI
Seringkali kita menganggap bahasa hanyalah tumpukan aturan tata bahasa atau subjek pelajaran di sekolah. Namun, bagi Prof. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D., bahasa adalah sebuah “kekuatan” dan gudang pilihan untuk membangun makna dalam kehidupan sosial.
Hal tersebut ditegaskan Prof. Wawan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Linguistik Fungsional pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dalam orasinya yang bertajuk “Mengurai Kekuatan Bahasa: Tinjauan Linguistik Sistemik Fungsional (LSF)”, ia membedah bagaimana setiap kata yang kita pilih berdampak langsung pada hubungan sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengukuhkan 14 Guru Besar, dalam prosesi akademik yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat, 7–8 Mei 2026, di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus UPI, Jalan Dr. Setiabudi No. 229 Bandung. Pada hari pertama, sebanyak delapan Guru Besar dikukuhkan, sementara enam lainnya dijadwalkan dikukuhkan pada hari kedua.
Menurut Prof. Wawan, kerangka Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) memandang bahasa sebagai system of choices atau sistem pilihan. Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kaidah, melainkan sumber daya semiotik untuk membangun makna di dalam konteks sosial. Dengan memandang bahasa sebagai system of choices, LSF membingkai bagaimana percakapan seharusnya dilakukan agar tujuan komunikasi tercapai. “Pilihan bahasa kita selalu berkonsekuensi pada keberhasilan tindakan. Misalnya, bagaimana kita menyampaikan permintaan agar efektif atau mengelola ketidaksetujuan tanpa merusak hubungan,” jelasnya.
Di era modern, komunikasi tidak lagi hanya soal ucapan atau tulisan. Prof. Wawan menekankan pentingnya aspek multimodalitas. Makna kini dibangun melalui kombinasi warna, tata letak, gambar, tipografi, hingga gestur tubuh.
LSF hadir sebagai pisau analisis yang tajam untuk membaca bagaimana sebuah teks atau konten digital membingkai realitas, membangun kekuasaan, hingga mengelola solidaritas di tengah masyarakat.
Ke depan, peran Linguistik Fungsional dinilai semakin strategis, terutama dengan maraknya platform digital dan Kecerdasan Artifisial (AI). Prof. Wawan menyoroti potensi integrasi LSF dengan teknologi untuk memetakan jutaan teks secara cepat.
“Kita bisa memantau polarisasi atau disinformasi (hoaks) dalam skala besar melalui analisis gaya komunikasi,” tambahnya.
Tak hanya itu, dalam dunia pendidikan, pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan literasi yang lebih adil. Siswa tidak hanya diajar membaca teks, tapi juga diajak memahami bagaimana pengetahuan dibangun dan dipertanggungjawabkan melalui pilihan bahasa yang tepat.
Menutup orasinya, Prof. Wawan mengajak para praktisi pendidikan dan peneliti untuk terus memperluas studi bahasa yang lebih luas. Hal ini mencakup praktik translanguaging (penggunaan berbagai bahasa sekaligus) dan kolaborasi lintas bidang seperti kebijakan publik hingga kesehatan.
Dengan memahami “kekuatan” di balik pilihan bahasa, masyarakat diharapkan dapat berkomunikasi dengan lebih bernalar, reflektif, dan etis di tengah perubahan teknologi yang kian cepat. (DN/Rija/RK)

