
Bandung, UPI
Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) meluncurkan inovasi pendampingan psikososial bertajuk Adventure Based Counseling (ABC) bagi siswa terdampak bencana di Kabupaten Bandung. Program ini digelar secara resmi pada Rabu (8/7/2026).
Mengusung tema “Model Adventure Based Counseling (ABC) untuk Meningkatkan Posttraumatic Growth Siswa Pascabencana”, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini merupakan bentuk kolaborasi antara Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) FIP UPI, tim peneliti, dan Pemerintah Kabupaten Bandung.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), model ABC dirancang untuk membantu siswa membangun kembali ketahanan psikologis, mengelola trauma emosional, serta mencapai pertumbuhan positif (posttraumatic growth) pascabencana.
“Inovasi ini memadukan aktivitas petualangan dan refleksi kelompok untuk memulihkan emosi siswa. Program ini sejalan dengan semangat ‘UPI Berdampak’, di mana hasil penelitian kampus hadir menjadi solusi konkret bagi persoalan nyata di masyarakat,” ungkap perwakilan tim peneliti FIP UPI.

Pengembangan model ABC ini mengacu pada kerangka metode APPLE (Assess, Plan, Prepare, Lead, and Evaluate). Rangkaian program diawali dari asesmen kondisi psikososial siswa, pelatihan intensif bagi guru BK, implementasi aktivitas petualangan di lapangan, hingga evaluasi dampak intervensi.
Selain memberikan manfaat pemulihan langsung kepada para siswa, program PkM ini turut fokus pada pembekalan kompetensi para guru bimbingan dan konseling.
Para guru tidak hanya diberikan teori pemahaman trauma, tetapi juga dilatih secara praktis agar mampu menerapkan aktivitas berbasis petualangan sebagai media konseling kontekstual di lingkungan sekolah secara mandiri.
Inisiatif terapan FIP UPI ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), diantaranya SDG 3 (Good Health and Well-being): Penguatan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis siswa agar kembali percaya diri pascatrauma. SDG 4 (Quality Education): Peningkatan mutu layanan konseling di sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan adaptif pascabencana.

Guna memastikan keberlanjutan dampak intervensi, tim pengabdian FIP UPI merekomendasikan perluasan model pendampingan ini ke berbagai wilayah bencana lainnya. Langkah tersebut diwujudkan melalui penguatan modul layanan, penyediaan perangkat asesmen psikologis yang terintegrasi, serta sinergi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan konselor profesional. (DN)

