
Oleh:
Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si.
Ketua Pusat Unggulan Universitas SAINS DATA ASTRONOMI DAN
POLUSI CAHAYA (SADAR-POLYA)
Setiap tahun, menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pertanyaan yang sama kembali mengemuka di ruang publik: “Kapankah 1 Ramadan dimulai?” Di Indonesia, jawaban formal atas pertanyaan tersebut ditentukan melalui Sidang Isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama pada tanggal 29 Syakban. Perhitungan atau hisab posisi Bulan (Moon) dan Matahari dalam penentuan awal bulan (month) Ramadan 1447 H/2026 M, menunjukkan bahwa pada hari terjadinya konjungsi (Selasa, 17 Februari 2026/29 Syakban 1447 H, pukul 19:01 WIB) di seluruh wilayah Indonesia Bulan terbenam lebih dulu daripada Matahari. Dengan demikian, pada Selasa malam Rabu pascaterbenamnya Matahari, masih tanggal 30 Syakban. Mengingat dalam penanggalan Hijriah jumlah hari dalam 1 bulan tidak mungkin kurang dari 29 hari atau lebih dari 30 hari, dapat disimpulkan bahwa Sidang Isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama akan memutuskan bahwa tibanya 1 Ramadan pada Rabu malam Kamis pascaterbenam Matahari. Umat Islam Indonesia akan memulai ibadah sunnah salat tarawih malam pertama Ramadan pada 18 Februari 2026 dan menjalankan ibadah wajib puasa pada Kamis, 19 Februari 2026.
Meskipun secara ilmiah keputusan Sidang Isbat dapat diprediksikan seperti di atas, berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/Mlm/I.0/E/2025 Tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, Dan Zulhijah 1447 Hijriah, jemaah Muhammadiyah akan memulai Ramadan 1 hari lebih awal daripada keputusan pemerintah RI. Perbedaan ini muncul karena mulai 1 Muharam 1447 H, PP Muhammadiyah telah menerapkan konsep mathla’ global. Di sisi lain, pemerintah RI melalui Kementerian Agama masih menganut konsep mathla’ lokal. Apakah yang menjadi perbedaan dari kedua konsep ini?.
Mathla’ lokal yang dipedomani Kementerian Agama merupakan konsep yang membatasi wilayah keberlakuan kenampakan hilal penentu awal bulan Hijriah. Sebagai contohnya, di Indonesia, jika hilal terlihat di satu lokasi, keberlakuan hasil rukyat tersebut terbatas untuk seluruh wilayah di tanah air (dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia), kecuali bila ada kesepakatan dari negara-negara yang berada di kawasan saling berdekatan, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Ketiga negara tetangga Indonesia tersebut, sejak dekade 90-an telah bersepakat bahwa kenampakan hilal (dengan kriteria kenampakan tertentu) dari salah satu negara dapat diberlakukan di negara-negara yang telah bersepakat. Hal ini dapat dipahami, mengingat secara geografis, Indonesia yang membentang sepanjang 46 derajat dari ujung barat hingga timur di sekitar khatulistiwa, mencakup ketiga negara lain tersebut.
Sementara, mathla’ global adalah konsep yang tidak membatasi wilayah keberlakuan kenampakan hilal penentu awal bulan Hijriah. Dari manapun hilal terlihat di satu lokasi di permukaan Bumi, maka hasil rukyat tersebut berlaku untuk seluruh dunia. Konsep ini didasarkan pada kesatuan umat dengan memaknai hasil rukyat berlaku bagi seluruh muslim tanpa batasan geografis. Dengan bantuan hisab dan penggunaan Parameter Kalender Global (PKG) berupa tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8° disertai klausul tambahan, yaitu konjungsi terjadi sebelum terbit fajar di Selandia Baru, dapat diketahui bahwa lokasi dengan koordinat geografis 56° 48’ 49” LU dan 158° 51’ 44” BB telah memenuhi syarat PKG. Dengan demikian, terpenuhinya kriteria di lokasi tersebut dapat diberlakukan di seluruh bagian Bumi, meskipun hanya berdasar hasil hisab tanpa perlu melakukan rukyat, untuk menghasilkan 1 hari 1 tanggal secara konsisten.
Fenomena Gerhana di Bulan Ramadan
Konjungsi yang mengakhiri bulan Syakban 1447 H/2026 M menjadi awal datangnya musim gerhana pada tahun ini. Dalam astronomi, awal bulan Kamariah secara teoretis berkaitan dengan peristiwa konjungsi, yaitu saat Matahari dan Bulan memiliki bujur ekliptika yang sama menurut pengamat yang berkedudukan di Bumi. Pada saat itu Bulan berada pada fase Bulan baru (new Moon) dan secara geometris terletak di antara Bumi dan Matahari. Dalam kondisi istimewa, yaitu ketika fase Bulan baru ini terjadi tepat di atau sangat dekat dengan garis simpul (garis potong bidang orbit Bulan dan bidang ekliptika), penduduk Bumi berkesempatan untuk memperoleh atraksi gerhana. Gerhana pertama dari keseluruhan empat gerhana di sepanjang tahun ini dari jenis gerhana Matahari (Gerhana Matahari Cincin – GMC, 17 Februari 2026). Sayangnya, wilayah Indonesia tidak dilalui jalur gerhana sehingga praktis tidak berkesempatan menyaksikan fenomena spektakuler ini.
Berselang dua pekan dari momen konjungsi, Bulan berada di fase purnamanya dan masih cukup dekat dengan garis simpul. Artinya, pada saat tersebut Bulan dapat berada di dalam perangkap bayang-bayang Bumi (umbra dan penumbra). Selasa, 3 Maret 2026 yang bertepatan dengan 13 Ramadan 1447 H (takwim standar Kementerian Agama), penduduk Bumi kembali disuguhi atraksi langit berupa gerhana Bulan (Gerhana Bulan Total – GBT). Kali ini, proses gerhana yang terjadi sejak sebelum Matahari terbenam di Bandung pada hari tersebut, akan dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia selama cuaca mendukung. Sekaligus, GBT ini menjadi gerhana satu-satunya di sepanjang 2026 yang dapat diamati dari Indonesia. Untuk pengamat di Bandung, fase gerhana yang dapat diamati adalah mulai dari fase puncak gerhana (pertengahan fase totalitas) pada 18:33 WIB hingga akhir gerhana pada 21:33 WIB. Selain dukungan cuaca yang cerah, untuk dapat menyaksikan fase total gerhana ini juga diperlukan pandangan yang terbuka di arah timur (bebas dari halangan gedung tinggi, bukit/gunung) karena ketinggian Bulan yang masih relatif rendah (kurang dari 7° di atas ufuk).
Sesungguhnya, Gerhana Bulan Total (GBT) juga terjadi pada 14 Ramadan 1446 H silam, bertepatan dengan 14 Maret 2025, yang hanya dapat diamati dari kawasan zona waktu Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Demikian pula dengan Gerhana Bulan Penumbra (GBP) pada 15 Ramadan 1445 H/25 Maret 2024 dan Gerhana Matahari Total (GMT) 29 Ramadan 1444 H/20 April 2023. Pada momen GMT 20 April, Penulis bersama tim dari Laboratorium Bumi dan Antariksa (LBA) FPMIPA UPI kesempatan melakukan ekspedisi gerhana ke P. Biak di Papua, sebagai salah satu spot yang dilalui jalur gerhana. Berdasarkan fakta di atas, menarik untuk mengkaji seberapa seringkah fenomena gerhana (baik Matahari maupun Bulan) dapat terjadi di bulan Ramadan? Perhitungan matematis-astronomis yang telah Penulis lakukan untuk rentang waktu 100 tahun (tahun 2000 hingga 2100) mendapati 1274 fase Bulan baru dan 1274 Bulan purnama. Dalam kurun waktu yang sama terkonfirmasi kejadian 453 gerhana. Dari seluruh gerhana yang terjadi ini, 217 peristiwa dapat diamati dari Indonesia dan hanya 19 gerhana di antaranya yang beririsan dengan bulan Ramadan. Data ini memperlihatkan bahwa dinamika sistem Matahari, Bumi, dan Bulan memiliki pola periodik yang dapat dihitung dengan ketelitian sangat tinggi berbantuan pemahaman terkait mekanika benda langit. Ketelitian ini bukan sekadar capaian teknis, melainkan bukti bahwa alam semesta bekerja berdasarkan hukum yang teratur dan dapat dipahami.
Kesadaran Kosmik dan SDGs
Fenomena hilal dan gerhana bukan sekadar atraksi langit. Keduanya dapat menjadi ruang refleksi tentang kesadaran kosmik. Kesadaran kosmik ini bukan sebatas pengetahuan tentang benda-benda langit. Ia berupa kesadaran bahwa Bumi hanyalah satu planet kecil yang mengorbit bintang kelas menengah di galaksi Bima Sakti yang berisi miliaran bintang lain, dan galaksi kita hanyalah satu dari miliaran galaksi di alam semesta ini. Ketika kita memahami skala kosmik ini, perspektif kita dapat berubah. Batas-batas politik dan konflik horizontal tampak sangat kecil dibandingkan keluasan jagat raya. Dari luar angkasa, tidak ada garis pemisah antarras atau agama. Yang terlihat hanyalah satu planet biru yang menjadi rumah bersama miliaran manusia di atas permukaannya. Gerhana Bulan Total (GBT) 3 Maret 2026 yang akan berlangsung, menjadi pengingat konkret tentang keterkaitan kosmik tersebut. Ketiga benda langit harus berada pada konfigurasi yang sangat spesifik agar gerhana dapat terjadi. Demikian pula kehidupan di Bumi, bergantung pada keseimbangan sistem yang sangat kompleks dan saling terkait. Ketika kita memahami bahwa Bumi adalah sistem terbatas dalam ruang kosmik yang luas, kesadaran ekologis kita pun menjadi lebih mendalam. Atmosfer yang membuat Bulan tampak merah saat gerhana adalah atmosfer yang sama yang melindungi kehidupan dari radiasi berbahaya. Jika sistem ini terganggu, dampaknya akan bersifat global.
Pada 25 September 2015, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mencanangkan SDGs (Sustainable Development Goals – Sasaran Pembangunan Berkelanjutan) sebagai sebuah rencana aksi global untuk menciptakan dunia yang lebih baik dengan prinsip utamanya “No one left behind“. Butir ke-4 dari SDGs menekankan pentingnya pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata. Astronomi memberikan contoh nyata bagaimana pendidikan berkualitas dapat diwujudkan. Sebagai sebuah sains observasional, astronomi menumbuhkan rasa ingin tahu. Seorang pembelajar yang menyaksikan gerhana Bulan untuk pertama kali hampir dipastikan selalu bertanya: “Mengapa Bulan berubah warna?”, “Mengapa gerhana tidak terjadi setiap bulan?”, atau “Bagaimana manusia dapat memprediksinya?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas adalah titik awal pembelajaran sejati. Dari sana berkembang metode ilmiah, kemampuan berpikir kritis, ketelitian, dan kesabaran. Lebih dari itu, astronomi juga bersifat demokratis. Untuk mengamati gerhana Bulan tidak diperlukan teleskop mahal. Cukup langit yang cerah dan kemauan untuk mengamati. Inilah bentuk pendidikan inklusif yang dapat diakses oleh siapa pun.
Dalam konteks Ramadan 1447 H yang kita songsong, pembelajaran melalui langit malam memiliki dimensi spiritual sekaligus intelektual. Keduanya sama-sama mengajarkan kerendahan hati di hadapan keteraturan alam. Ia dimulai dengan betapa presisinya konjungsi dan kompleksnya visibilitas hilal. Pun dihiasi dengan Gerhana Bulan Total yang spektakuler. Alam semesta akan selalu menjadi laboratorium terbuka dan guru bagi siapa pun yang bersedia menengadah dan berpikir. Pada akhirnya, setiap kali kita menengadah ke langit, kita tidak hanya sedang menatap fenomena semata. Kita sedang membaca ulang keteraturan alam semesta. Kita sedang diingatkan bahwa pengetahuan dan kesadaran adalah dua pilar yang harus berjalan bersama. Yang dari kesadaran itulah diharapkan lahir kebijaksanaan di dalam mengelola satu-satunya rumah bersama yang kita miliki: planet Bumi. Selamat menyongsong tibanya bulan suci Ramadan. Semoga kita semua beroleh derajat takwa.

