Bandung, UPI

baru saja merayakan capaian penting selama masa kepemimpinan Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA., yang telah menahkodai kampus sejak 2020 hingga 2025. Dalam sebuah acara apresiasi (Pamatri Asih Pameungkeut Geugeut Rektor UPI) yang digelar di Gedung Achmad Sanusi, Bandung (10/6/2025), Prof. Solehuddin menyampaikan refleksi mendalam tentang perjalanan lima tahun yang penuh tantangan sekaligus prestasi.

Prof. Solehuddin menyebut bahwa lima tahun terakhir merupakan salah satu periode paling menantang dalam sejarah UPI. Diawali dengan pandemi global, UPI harus cepat beradaptasi dengan pembelajaran daring, pengaturan sistem kerja baru, serta membangun ekosistem digital kampus yang lebih efisien dan transparan.

“Dalam waktu singkat, kita harus beradaptasi, mengalihkan pembelajaran ke ranah digital, menata sistem kerja baru yang fleksibel dan langsung,” ujarnya.

Namun, yang paling ia banggakan bukan hanya kemampuan teknis, melainkan semangat kolaboratif dari seluruh sivitas, mitra strategis, dan komunitas UPI yang terus bekerja sama demi menjaga roda pendidikan tetap berjalan.

Selama masa kepemimpinannya, UPI berhasil meningkatkan reputasi internasionalnya. Menurut QS World University Rankings 2025, UPI masuk posisi 8 nasional dan klaster 1200–1400 dunia secara global. Di bidang pendidikan dan pelatihan (education and training), UPI bahkan masuk top 50 Asia dan menjadi yang terbaik di Indonesia.

Empat nama dosen dan peneliti UPI juga masuk daftar “World’s Top 2% Scientists” versi Stanford University, menjadi simbol bahwa sistem riset UPI mampu memfasilitasi prestasi para ilmuwan muda.

Bagi Prof. Solehuddin, riset bukan hanya soal publikasi atau indeksasi, tapi tentang dampak nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, UPI terus mendorong riset yang berdampak, baik dalam skala lokal maupun global.

Program-program pengabdian masyarakat seperti edukasi gigi, kesehatan di desa-desa, dan pemberdayaan UMKM menjadi contoh nyata bagaimana UPI hadir sebagai agen perubahan sosial dan ekonomi.

“UPI tidak hanya menciptakan ilmu, tetapi juga membangun masa depan bersama masyarakat dengan kasih kemanusiaan,” katanya.

UPI juga gencar membangun infrastruktur digital, mulai dari sistem pembelajaran dan administrasi terintegrasi hingga platform data riset berbasis AI. Tujuannya, menciptakan kampus yang sederhana namun memiliki daya saing global.

Ekosistem ini menjadikan kebutuhan efisiensi, transparan dan adaptif, sekaligus membentuk kampus sederhana dengan daya saing global,” tuturnya.

Menurut Prof. Solehuddin, UPI tidak bisa lagi hanya menjadi ruang penyimpanan ilmu. Ia ingin UPI menjadi ruang berbuka, tempat berpikir, bertindak, dan menciptakan perubahan sosial.

“UPI hari ini harus menjadi tempat perubahan sosial dirancang dan diupayakan demi kemanjuan masyarakat,” tegasnya.

Meski masa jabatannya sebagai rektor berakhir, Prof. Solehuddin menegaskan bahwa fondasi yang telah dibangun selama lima tahun akan terus menjadi landasan kuat bagi UPI untuk menyongsong masa depan yang lebih inklusif, inovatif, dan berkelanjutan. (CS/Caraka Muda)