Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia mengukuhkan sebanyak 12 guru besar, pengukuhan dilakukan Guru Besar dalam Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 di Gedung Achmad Sanusi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Kota Bandung. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, yaitu Selasa dan Rabu (4-5/11/2025). Salah satu guru besar yang dikukuhkan ialah Prof. Dr. Diding Nurdin, S.Ag., M.Pd guru besar dalam ilmu Kepemimpinan Pendidikan FIP UPI.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Diding Nurdin, S.Ag., M.Pd menyampaikan bahwa revitalisasi kepemimpinan pendidikan berbasis nilai-nilai spiritual dinilai menjadi langkah strategis dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) unggul di tengah era transformasi digital. Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas organisasi, tetapi juga menumbuhkan insan yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, serta memiliki kesejahteraan lahir dan batin.

Pemimpin pendidikan tidak hanya cerdas secara intelektual, namun memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang dilandasi dengan nilai-nilai spiritual dalam menjalankan tugas dan aktivitasnya. “Pemimpin Pendidikan tidak hanya berperan sebagai manager dan leader, namun jauh lebih penting dapat menjalankan tugasnya sebagai penentu arah perubahan dengan keseimbangan antara inovasi dan kebijaksanaan berbasis pada nilai-nilai spiritual”, ujarnya.

Dijelaskan Diding Nurdin, nilai-nilai spiritual seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kesadaran transendental menjadi fondasi utama untuk membangun karakter sumber daya manusia yang unggul. Pemimpin Pendidikan yang mengamalkan nilai-nilai spiritual mampu memadukan dimensi intelektual, emosional, dan spiritual secara harmonis sehingga tercipta iklim pendidikan yang berkeadaban dan bermakna untuk membangun SDM unggul.

Transformasi digital yang begitu cepat membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, kepemimpinan pendidikan berbasis spiritual hadir sebagai solusi untuk memastikan proses digitalisasi tetap berakar pada nilai etika, moral, dan kearifan lokal.

Menurut kajiannya, terdapat beberapa peran strategis yang dapat dimainkan pemimpin pendidikan dalam pengembangan SDM unggul berbasis spiritual di era digital.

Pertama, menumbuhkan nilai keimanan dan ketaqwaan dalam setiap aktivitas organisasi. Pemimpin dengan visi dan misi yang berlandaskan nilai-nilai spiritual diyakini mampu menciptakan SDM yang tangguh dan berkarakter, siap menghadapi dinamika dunia digital tanpa kehilangan arah moral.

Kedua, menanamkan nilai etika dan moral dalam pengambilan keputusan. Pemimpin spiritual berperan memandu anggota organisasi agar berpegang pada prinsip keadilan, integritas, dan tanggung jawab sosial. Hal ini penting untuk menghadapi berbagai dilema etika yang kerap muncul di era digitalisasi dan otomatisasi.

Ketiga, membangun budaya organisasi berbasis nilai spiritual. Budaya ini menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, di mana setiap individu merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik. Nilai-nilai spiritual menjadi fondasi stabilitas organisasi di tengah perubahan teknologi yang cepat.

Keempat, memperhatikan kesejahteraan holistik anggota organisasi. Pemimpin berperan memberikan dukungan tidak hanya secara profesional, tetapi juga spiritual dan emosional. Pendekatan ini membantu anggota organisasi mengelola stres, menjaga keseimbangan hidup, serta menemukan makna kerja yang tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga ukhrawi.

Kelima, mendorong inovasi berbasis kearifan lokal dan spiritualitas. Pemimpin berperan mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan spiritual dalam proses inovasi agar solusi yang dihasilkan tidak hanya efektif secara teknologi, tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan lingkungan.

Keenam, menjadi pelayan bagi organisasi. Pemimpin berjiwa pelayanan (servant leadership) memberikan perhatian dan dukungan kepada seluruh anggota organisasi tanpa diskriminasi. Pendekatan ini terbukti meningkatkan loyalitas, kepuasan kerja, dan keterlibatan seluruh elemen organisasi kunci utama untuk mencapai keunggulan di era digital.

Kepemimpinan pendidikan berbasis spiritual, dengan demikian, berperan penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang etis, kolaboratif, dan inovatif.

“Pemimpin yang menanamkan nilai spiritual dalam organisasi bukan hanya membentuk SDM unggul secara intelektual, tetapi juga membangun manusia yang utuh seimbang secara fisik, mental, emosional, dan spiritual”, tegasnya. (DN/Rija)