Bandung, UPI

Kolaborasi akademik lintas perguruan tinggi kembali memperkuat ekosistem sains nasional. Sejumlah dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad) bersinergi dalam penyelenggaraan Olimpiade Fisika Indonesia (OFI) 2026 yang berlangsung di Bandung, 13–15 Februari 2026.

Kegiatan tahunan yang memasuki edisi ke-5 ini merupakan hasil kolaborasi antara Indonesian Scientific Society (ISS) dengan SEAMEO QITEP in Science. Penyelenggaraan tahun ini sekaligus menjadi komitmen bersama dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas.

Sejak pertama kali digelar pada 2022, antusiasme peserta OFI terus meningkat. Tahun ini, tercatat sebanyak 243 siswa dari 21 provinsi di Indonesia mendaftar sebagai peserta. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, sebanyak 99 siswa dari 10 provinsi berhasil melaju ke babak Grand Final yang dipusatkan di Hotel De Java, Sukajadi, Kota Bandung.

Kualitas kompetisi ini dijaga ketat oleh tim dewan juri yang terdiri dari para pakar di bidangnya seperti Prof. Bobby Eka Gunara (Fisika ITB), Dr. Selly Feranie (Program Studi Fisika UPI), dan Dr. Kartika Hajar Kirana, M.Si. (Fisika Unpad)

Ketua Pelaksana OFI 2026, Doni Nurdiansyah, menjelaskan bahwa format pengujian tahun ini dirancang berbeda. Selain tes kognitif berbasis kertas (paper test), peserta ditantang melalui tahap studi kasus.

“Model ini tidak hanya mengukur penguasaan kognitif, tetapi juga menilai kemampuan pemecahan masalah (problem-solving), berpikir kreatif, literasi ilmiah, hingga kemampuan komunikasi argumentatif peserta,” ujar Doni.

Dalam tahap studi kasus, peserta diberikan persoalan acak yang mencakup fisika teoretik, fisika kebumian, dan fisika batuan. Mereka diperbolehkan mengeksplorasi jurnal serta referensi ilmiah untuk merumuskan solusi sebelum mempresentasikannya di hadapan dewan juri.

Pada acara penutupan, Minggu (15/02), perwakilan juri Dr. Selly Feranie menekankan pentingnya peran fisika dalam kemajuan teknologi, mulai dari eksplorasi bawah permukaan bumi hingga kajian semesta. Ia juga mengimbau para guru untuk mulai mengintegrasikan artikel ilmiah dalam proses pembelajaran.

“Tujuannya agar siswa terbiasa dengan pendekatan deep learning dan mampu melakukan analisis multidimensi terhadap berbagai permasalahan,” ungkap Selly.

Ketua ISS, Iwan Gunawan, turut memberikan apresiasi tinggi kepada para finalis. Ia menegaskan bahwa keberhasilan mencapai tahap final merupakan cerminan dedikasi tinggi para siswa dalam bidang sains.

Melalui sinergi ini, UPI bersama mitra institusinya terus memperkuat peran strategis dalam membina talenta sains nasional, sekaligus mencetak generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi masa depan. (DN)