Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Ada satu kebiasaan menarik dalam penyajian surabi tradisional Sunda. Setelah surabi selesai dibuat, sering kali beberapa buah surabi disusun sepasang-sepasang. Dua surabi disimpan saling menempel atau berhadapan, yang dalam ungkapan Sunda dapat digambarkan sebagai “patangkeup tangkeup”.

Susunan ini bukan sekadar cara menyimpan agar tetap hangat, tetapi juga mengandung simbol kehidupan.

Surabi yang berpasangan menggambarkan nilai kebersamaan, kemesraan, dan saling melengkapi. Dua buah surabi yang berdampingan seolah mengajarkan bahwa kehidupan akan lebih indah apabila manusia mampu berjalan bersama, saling menguatkan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan hadir dalam posisi yang seimbang dan harmonis. Balanced living & harmony through togetherness.

Filosofi “patangkeup tangkeup” juga mencerminkan pandangan hidup masyarakat Sunda tentang pentingnya rukun, sauyunan, dan silih asah, silih asih, silih asuh, silih wawangi.

Hubungan yang baik bukan dibangun dengan pertentangan dan perselisihan, tetapi dengan sikap saling menghargai, saling memahami, dan menjaga perasaan satu sama lain.

Seperti dua surabi yang melekat dalam kehangatan, manusia pun diharapkan mampu membangun hubungan yang erat tanpa saling menjatuhkan. Dalam kehidupan organisasi dan rumah tangga, persahabatan, maupun hubungan sosial akan menjadi kuat apabila dilandasi rasa kasih sayang, komunikasi, dan kesediaan untuk berbagi.

Maknanya, surabi bukan hanya makanan yang mengenyangkan, tetapi juga menyampaikan pesan moral. Hidup yang baik bukan tentang siapa yang paling unggul, melainkan bagaimana dua pihak dapat berjalan bersama dalam harmoni. “Patangkeup tangkeup” menjadi simbol bahwa kebersamaan lebih utama daripada pertengkaran, dan keselarasan lebih berharga daripada perbedaan yang memisahkan.

Allah SWT berfirman, QS. Ali ‘Imran: 103, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”