
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) kembali membuktikan komitmennya dalam mendorong inovasi pendidikan berbasis kearifan lokal. UPI bersama STKIP Purwakarta dan Universitas Garut (UNIGA) menggelar kegiatan penelitian berupa studi pendahuluan di Kampung Adat Dukuh, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Minggu 21 Juni 2026.
Kegiatan yang melibatkan dosen serta mahasiswa dari ketiga perguruan tinggi ini bertujuan menggali potensi etnosains dan budaya lokal sebagai landasan pengembangan model pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) berbasis etnosains melalui media digital Kamishibai untuk peserta didik Sekolah Dasar.
Peran UPI dalam kegiatan ini sangat sentral, Dr. Mubarok Somantri, M.Pd., C.T., CICT, Sekretaris Program Studi PGSD-Pendas FIP UPI, tampil sebagai anggota peneliti inti yang memberikan landasan akademik dalam pengembangan kerangka etnosains dan integrasinya ke dalam pembelajaran IPAS. Prodi PGSD dan Pendidikan Dasar FIP UPI turut menggerakkan mahasiswanya dari jenjang S1 maupun S2 untuk terlibat langsung sebagai bagian dari tim lapangan, sebagai wujud nyata penerapan Kurikulum Merdeka yang mendorong mahasiswa terjun ke komunitas adat sebagai ruang belajar otentik.
Dampak kegiatan ini diharapkan meluas melampaui tembok kampus. Kegiatan ini mengintegrasikan riset lapangan sebagai bukti bahwa UPI berambisi menghasilkan model pembelajaran IPAS yang kontekstual, bermakna, dan dapat diadopsi oleh guru-guru sekolah dasar di seluruh Indonesia. Kampung Dukuh, dengan kekayaan tradisi adat, sistem pertanian lokal, dan kearifan ekologisnya, menjadi mitra strategis yang membuktikan bahwa komunitas lokal adalah sumber ilmu pengetahuan yang tak ternilai dan layak diangkat sebagai konten pendidikan nasional.
Program ini dirancang sebagai inisiatif berdampak yang menghubungkan tiga ekosistem secara simultan, yakni ekosistem akademik perguruan tinggi, ekosistem budaya masyarakat adat, dan ekosistem pembelajaran di kelas sekolah dasar. Studi pendahuluan di Kampung Adat Dukuh dilakukan untuk mengidentifikasi potensi etnosains, kearifan lokal, dan kondisi lingkungan sebagai sumber belajar IPAS yang kontekstual. Temuan tersebut kemudian ditransformasikan menjadi bahan ajar melalui media digital Kamishibai yang menghadirkan cerita rakyat, praktik budaya, dan fenomena lingkungan secara menarik dan interaktif. Pendekatan ini mendorong pembelajaran IPAS yang tidak hanya menguatkan aspek kognitif, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis dan apresiasi terhadap budaya lokal.

Kegiatan di Kampung Dukuh ini selaras dengan beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi komitmen global, khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) Pengembangan model pembelajaran IPAS berbasis etnosains mendorong pendidikan yang inklusif, relevan, dan bermakna bagi peserta didik SD, sekaligus meningkatkan kapasitas profesional guru dalam mengimplementasikan pembelajaran kontekstual. SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan) Dengan mengangkat kearifan lokal komunitas adat sebagai materi pembelajaran nasional, kegiatan ini berkontribusi pada pengakuan dan penguatan nilai budaya masyarakat yang selama ini berada di pinggiran sistem pendidikan formal. SDGs 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) Dokumentasi dan integrasi sistem kearifan ekologi Kampung Dukuh ke dalam konten pendidikan merupakan bentuk pelestarian komunitas adat dan pengetahuan lokal yang berkelanjutan. SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) Kolaborasi tiga perguruan tinggi UPI, STKIP Purwakarta, dan UNIGA yang melibatkan dosen dan mahasiswa lintas institusi merupakan model kemitraan akademik yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan secara bersama.
Tim peneliti melakukan observasi dan dokumentasi secara sistematis terhadap berbagai aspek kehidupan Kampung Dukuh yang meliputi (1) Kondisi Lingkungan Kampung, Pola tata ruang, kebersihan, dan keseimbangan ekologis lingkungan permukiman adat yang masih terjaga. (2) Bentuk Rumah Adat, Arsitektur tradisional dengan material lokal, filosofi pembangunan, dan nilai-nilai budaya yang tercermin dalam desain rumah. (3) Tata Letak Kampung, Konfigurasi spasial kampung yang mencerminkan kosmologi dan nilai-nilai sosial masyarakat Dukuh. (4) Aktivitas Masyarakat, Pola kehidupan sehari-hari, sistem gotong royong, dan interaksi sosial warga. (5) Aktivitas Anak-Anak, Permainan tradisional, interaksi anak dengan lingkungan, dan pola sosialisasi nilai budaya sejak dini. (6) Kearifan Lokal Lingkungan, Norma dan pantangan adat yang mengatur hubungan manusia dengan alam dan berfungsi sebagai sistem konservasi organik. (7) Pemanfaatan Tumbuhan, Pengetahuan etnobotani masyarakat meliputi tanaman obat, pangan, bahan bangunan, dan upacara adat. (8) Sistem Pertanian Lokal: Praktik pertanian tradisional, pengelolaan lahan, musim tanam, dan kearifan pengelolaan air. (9) Tradisi Adat: Upacara, ritual, dan tradisi lisan yang menjadi pengikat identitas budaya dan sarana transmisi pengetahuan antargenerasi. (10) Temuan-Temuan Unik: Potensi khas Kampung Dukuh Dalam yang belum terdokumentasi dan berpotensi menjadi materi pembelajaran IPAS yang orisinal.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan, tim merumuskan beberapa rekomendasi strategis untuk keberlanjutan program (1) Penguatan Basis Data Etnosains: Perlu dilakukan dokumentasi menyeluruh dan terstandar atas kearifan lokal Kampung Dukuh sebagai bank pengetahuan yang dapat diakses oleh peneliti dan praktisi pendidikan secara luas. (2) Pengembangan Modul Kamishibai Digital: Temuan lapangan perlu segera diadaptasi menjadi prototipe media digital Kamishibai yang diujicobakan di kelas IPAS SD dengan melibatkan guru-guru lokal sebagai mitra pengembang. (3) Penguatan Kemitraan PT-Komunitas: Ketiga perguruan tinggi direkomendasikan memperkuat MoU dengan pimpinan adat Kampung Dukuh untuk menjamin keberlanjutan program dan kepemilikan bersama atas produk yang dihasilkan. (4) Publikasi Ilmiah dan Diseminasi: Hasil penelitian lanjutan perlu dipublikasikan di jurnal pendidikan nasional terakreditasi dan dipresentasikan dalam seminar internasional guna meningkatkan visibilitas dan dampak akademiknya.
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh dosen dan mahasiswa dari ketiga perguruan tinggi yang terlibat, yakni Dr. Hany Handayani, M.Pd. (Ketua Tim, STKIP Purwakarta), Dr. Mubarok Somantri, M.Pd., C.T., CICT (Sekretaris Prodi PGSD-Pendas FIP UPI), Atep Lesmana, M.Pd. dan Rayi Siti Fitriani, M.Pd. (Dosen STKIP Purwakarta), serta Nurul Fatonah, M.Pd. (Dosen PGSD UNIGA). Turut hadir pula sepuluh mahasiswa dari ketiga institusi yang berperan aktif sebagai peneliti lapangan.
Kegiatan di Kampung Adat Dukuh ini tidak hanya menjadi langkah awal pengembangan model pembelajaran yang inovatif, tetapi juga menegaskan peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan masyarakat. Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai sumber belajar, UPI, STKIP Purwakarta, dan UNIGA bersama-sama menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan budaya bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua kekuatan yang dapat berjalan beriringan untuk menciptakan generasi yang cerdas, berkarakter, dan mencintai tanah airnya.
Penelitian ini diharapkan dapat menghadirkan model pembelajaran IPAS yang lebih kontekstual, bermakna, serta relevan dengan kehidupan peserta didik, sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal melalui dunia pendidikan demi terwujudnya SDGs yang inklusif dan berkelanjutan. (Shafa dan Hany H)

