Subang, UPI

Tim dosen lintas disiplin Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Desa Binaan 2026 di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang. Kegiatan yang berlangsung pada 20 dan 27 Juni 2026 ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola destinasi wisata lokal agar lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Mengusung tema “Penguatan Tata Kelola Desa Wisata Aman Berbasis Community-based Tourism melalui Resiliensi Kelembagaan dan Digital”, program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si. Ia didampingi oleh sejumlah pakar dari berbagai program studi UPI, yaitu Prof. Dr. Siti Nurbayani, M.Si. (Pendidikan Sosiologi), Dr. Asep Mahfudz, M.Si. dan Dr. Dina Siti Logayah, M.Pd. (Pendidikan IPS), serta Dr. Rini Andarri, S.Pd., SE.Par., MM. (Pendidikan Pariwisata).

Kegiatan ini melibatkan kerja sama erat dengan pemerintah Desa Tanjungwangi, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Betah Mandiri, serta kelompok masyarakat setempat.

Sebagai wujud nyata dari konsep Community-based Tourism (CBT), program ini mendorong masyarakat untuk tidak sekadar menjadi penonton atau penerima manfaat, melainkan bertindak sebagai aktor utama. Warga dilatih untuk terlibat aktif dalam perencanaan, pengelolaan, pengawasan, hingga menjaga keberlanjutan destinasi wisata secara kolaboratif melalui penguatan kelembagaan dan transformasi digital.

Ketua Tim PkM UPI, Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si., menegaskan bahwa daya tarik wisata yang indah tidak akan bertahan lama tanpa tata kelola kelembagaan yang kuat. Keamanan dan kenyamanan wisatawan harus menjadi prioritas utama.

“Keberhasilan desa wisata sangat bergantung pada local champion (tokoh penggerak lokal) sebagai motor penggerak aktif. Selain meningkatkan kualitas pelayanan, aspek keamanan, perlindungan terhadap wisatawan, serta pencegahan kekerasan dan pelecehan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola destinasi wisata,” ujar Prof. Elly.

Apresiasi tinggi datang dari Kepala Desa Tanjungwangi, Budi Santoso, S.E. Saat membuka acara, ia menyampaikan bahwa kehadiran akademisi menjadi suntikan semangat baru bagi desanya.

“Kami berharap kolaborasi ini mampu meningkatkan kualitas tata kelola Desa Wisata Tanjungwangi sehingga semakin profesional, aman, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pendampingan dari perguruan tinggi menjadi energi baru bagi kami,” ungkap Budi.

Untuk mendongkrak kapasitas warga, tim UPI memberikan rangkaian pembekalan materi yang komprehensif. Beberapa topik yang dibedah meliputi Implementasi Sapta Pesona dalam tata kelola dan branding desa wisata. Pencegahan kekerasan dan pelecehan di destinasi wisata. Tata cara pengemasan (packaging) produk wisata yang menarik. serta Mitigasi risiko bencana pada destinasi desa wisata.

Menutup seluruh rangkaian kegiatan, Dr. Asep Mahfudz, M.Si., menyampaikan optimismenya agar Desa Tanjungwangi dapat naik kelas dan menjadi rujukan bagi desa-desa wisata lainnya.

“Melalui skema Desa Binaan ini, kami berharap Desa Tanjungwangi mampu menjadi contoh praktik baik (best practice) pengembangan desa wisata aman berbasis masyarakat. Sebuah destinasi yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam dan budaya, tetapi ditopang lembaga yang kuat, standar keamanan yang baik, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai pengungkit daya saing,” pungkas Asep.

Program berkala ini menjadi bukti nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi UPI dalam mentransformasikan teori-teori akademik menjadi solusi konkret yang menyentuh akar rumput. (Lingga Utami)