Subang, UPI

Tim Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) Konsorsium yang melibatkan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar riset dan pemberdayaan masyarakat di Desa Sukamelang, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sabtu (24/10/26). Kegiatan difokuskan pada rekayasa pengelolaan air, penanganan degradasi tanah merah, dan penerapan biopori organik guna meningkatkan produktivitas pertanian lokal.

Desa Sukamelang sebelumnya menghadapi tantangan berupa krisis air saat kemarau yang menghentikan produksi tani selama lima hingga enam bulan. Melalui rekayasa penyediaan air yang digagas tim RKI UPI–ITB pada tahap awal, lahan pertanian yang semula menganggur kini dapat difungsikan kembali.

Ketua Tim RKI Konsorsium sekaligus Ketua Environmental Instrumentation Research Group UPI, Dr. Selly Feranie, S.Pd., M.Si., menyatakan bahwa fokus kegiatan kini beralih pada pengelolaan air hujan dan perlindungan tanah terasering. Turut mendampingi dalam kegiatan ini Dr. Fourier Dzar Eljabbar Latief (ITB), Drs. Amsor, M.Si., Drs. Dedi Sasmita, M.Si., serta sepuluh mahasiswa asisten peneliti.

Untuk mengantisipasi risiko erosi dan deformasi tanah saat musim hujan, tim merancang saluran drainase antar-terasering yang mengarahkan air ke kolam penampungan di teras keempat. Penahan sedimen disiagakan di setiap tingkatan teras agar partikel tanah tidak terbuang. Air yang tertampung disiapkan sebagai cadangan pasokan saat musim kering.

Selain rekayasa fisik, pendekatan Nature-Based Solutions (NbS) diterapkan melalui pembuatan lubang resapan biopori organik. Lubang tersebut diisi campuran sampah organik, tanah, dan mikroba EM4 guna memperbaiki struktur, peningkatkan infiltrasi, serta mengembalikan kesuburan tanah merah.

Guna mengevaluasi efektivitas perlakuan tanah secara ilmiah, tim RKI menggandeng Geochem International Survey untuk melakukan pengukuran Electrical Resistivity Tomography (ERT) bawah permukaan secara berkala. Pemetaan resistivitas ini dipadukan dengan analisis sampel tanah langsung oleh mahasiswa.

Ketua Kelompok Tani Sukamelang, Usep, mengapresiasi pendampingan berkelanjutan yang dinilai memberikan dampak nyata bagi kesinambungan masa tanam warga. Program ini diharapkan menjadi model pengelolaan pertanian terasering berbasis data yang adaptif terhadap perubahan musim. (DN)