
Oleh
Dr. Judhistira Aria Utama, S.Si., M.Si.
Kepala Pusat Unggulan Sains Data Astronomi dan Polusi Cahaya (PU SADAR-POLYA)
Universitas Pendidikan Indonesia
Setiap anak, tanpa perlu diajari, adalah penanya ulung. “Mengapa langit terlihat biru?”, “Bagaimana roket bisa terbang hanya karena dipompa?”, “Mengapa bohlam menyala saat engkol diputar?” adalah pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sesungguhnya benih dari sikap ilmiah yang kelak menumbuhkan sosok ilmuwan. Sayangnya, begitu pertanyaan-pertanyaan polos seperti itu bertemu bangku sekolah, ia kerap justru layu. Sains, khususnya Fisika, terlanjur dicap sebagai pelajaran yang kaku, sarat rumus, dan jauh dari memberi tangan kesempatan untuk menyentuh dan mencoba. Bertolak dari keprihatinan itulah, Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak menjawabnya bukan dengan lomba yang justru membatasi partisipasi, melainkan dengan ruang bermain sekaligus belajar bertajuk Festival Sains Anak Kabupaten Lebak 2026, sebuah pameran interaktif dan praktik sains langsung yang mengusung tema “Sentuh, Coba, Pahami: Semua Anak Bisa Jadi Ilmuwan!“
Main Raya di Alun-Alun Rangkasbitung
Festival ini hadir sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Lebak pada Rabu – Kamis, 5 – 6 Agustus 2026, bertempat di Alun-Alun Rangkasbitung. Mengangkat tema lokal “Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan” yang sejalan dengan tema nasional “Main Raya Anak Nusantara”, peringatan ini, sebagaimana ditegaskan Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak Halson Nainggolan, bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat terhadap hak anak untuk tumbuh, berkembang, berpartisipasi, dan terlindungi dari kekerasan serta diskriminasi. Sejalan dengan visi “Lebak RUHAY (Rukun – Unggul – Hegar – Aman – Yakin)”, pembangunan sumber daya manusia sejak dini dipandang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur, sebuah pandangan yang membuat kehadiran Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak bersama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dalam festival ini pantas mendapat apresiasi khusus.
Untuk menghadirkan pengalaman eksperimen yang kaya, aman, dan edukatif, kemitraan strategis pun dijalin dengan Program Studi Fisika, Pendidikan Fisika, dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) UPI. Sebagai lembaga yang digerakkan oleh akademisi dan mahasiswa muda berbakat di bidang edukasi sains, kehadiran UPI diharapkan dapat memandu, menginspirasi, dan mendampingi anak-anak Kabupaten Lebak mengeksplorasi keajaiban sains secara langsung.

Fisika dalam Genggaman
Booth Festival Sains Anak yang dipersiapkan dosen dan mahasiswa Unit Kegiatan Khusus (UKK) Cakrawala dari Program Studi Fisika dan Pendidikan Fisika UPI tampil mencolok, mengusung prinsip belajar sambil bermain. Di klaster Mekanika dan Fluida, warna-warni cairan yang bergradasi dalam gelas, lava lamp yang bergerak naik-turun, dan ayunan Newton mengajak pengunjung terutama anak-anak menyaksikan sendiri hukum kekekalan energi tanpa perlu menghafalnya; sementara peluncur kinematis, jungkat-jungkit, mobil bertenaga balon, dan balon yang meletup oleh reaksi cuka membuat mereka tertawa sambil diam-diam belajar tentang gaya dan gerak.
Melangkah ke klaster Bumi dan Antariksa, permainan ular tangga raksasa bertema antariksa mengajak anak-anak berkelana mengenal benda-benda langit, aneka contoh batuan bisa diraba dan diuji langsung dengan tangan mereka sendiri, peta bintang putar yang dilengkapi simulasi perangkat lunak komputer menampilkan rasi bintang apa yang bakal tampak di langit malam, sementara bola Bumi yang melayang dan model tata surya yang bergerak pelan turut menjadi magnet bagi pengunjung-pengunjung cilik yang antusias ingin tahu.
Di klaster Gelombang dan Optika, alat peraga SnellBox memperlihatkan bagaimana cahaya membelok saat berpindah medium, sementara periskop dan teleskop rakitan membuat anak-anak berebut giliran mengintip dari lubang kecilnya, juga ditampilkan untuk dimainkan langsung botol musik hidroakustik. Klaster Listrik dan Kemagnetan menutup deretan stan dengan generator engkol yang bisa diputar tangan sendiri hingga lampu menyala, demonstrasi sifat-sifat magnet, alat peraga gerak abadi yang mengundang decak kagum, alat pemantau kualitas udara, hingga kit pembelajaran rangkaian listrik yang boleh dirakit sendiri oleh pengunjung. Sesekali, keramaian stan dipecah pula dengan atraksi berjadwal yang selalu berhasil mengundang kerumunan: peluncuran roket air dan gunung api yang “meletus”.

Bekal untuk Orang Tua dan Guru
Sains untuk anak tidak lengkap tanpa pembekalan bagi orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, pada hari pertama digelar pula seminar edukasi yang menghadirkan dua akademisi Program Studi PGPAUD FIP UPI. Yeni Rachmawati, M.Pd., Ph.D. menjadi narasumber dalam sesi Etnoparenting, memaparkan bagaimana nilai budaya luhur lokal Indonesia dapat diintegrasikan ke dalam pola asuh modern. Sementara itu, Dr. Aan Listiana, M.Pd. membawakan sesi Antibullying, yang menekankan pentingnya lingkungan ramah anak baik di rumah maupun sekolah, lengkap dengan strategi mendeteksi tanda-tanda perundungan sejak dini dan membangun komunikasi yang penuh empati dengan anak. PGPAUD, melalui Pusat Unggulan Etnoparenting-nya, turut membuka stan yang menampilkan karya berupa buku etnoparenting hasil penelitian di sejumlah wilayah di Indonesia, buku-buku bacaan anak, permainan edukatif, hingga produk makanan olahan untuk mengatasi stunting. Stan ini melengkapi sisi keceriaan festival sains dengan sisi keberlanjutan tumbuh kembang anak.

Dari Roket Air ke Rover Mars
Ada simbolisme yang terasa disengaja dalam cara festival ini dibuka dan ditutup. Pembukaan dilakukan oleh Bunda PAUD Kabupaten Lebak, Ibu Belia Asyidiki, melalui atraksi peluncuran roket air yang disiapkan khusus oleh Laboratorium Bumi dan Antariksa (LBA) FPMIPA UPI. Pada momen penutupan, Beliau kembali tampil namun kali ini dengan mengoperasikan tiruan rover Mars hasil kembangan Pusat Unggulan Sains Data Astronomi dan Polusi Cahaya (SADAR-POLYA) UPI menggunakan remote control. Rover mungil itu berhasil melintasi medan bergelombang yang menjadi simbolisasi tantangan dalam kehidupan, hingga berhasil melintasi “Gerbang Emas Lebak RUHAY” sebagai perlambang tercapainya tujuan, yang disambut riuh hadirin yang menyaksikannya.
Dalam sambutan penutupannya mewakili Tim UPI, Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si. yang juga KaLab Bumi dan Antariksa FPMIPA, menegaskan bahwa anak-anak Lebak harus berani bermimpi besar. Hari ini mereka mungkin baru berhasil meluncurkan roket air; namun kelak, akan lahir ilmuwan dan insinyur Indonesia dari Kabupaten Lebak yang mampu meluncurkan roket sungguhan ke Bulan atau Mars, serta mendaratkan dan mengoperasikan rover di planet yang menjadi target eksplorasi, sebagai sebuah prestasi yang akan membanggakan Indonesia.
Terselip asa dari dua hari kegiatan yang mampu menghadirkan keriuhan anak-anak Lebak dalam “merasakan” sains ini, bahwa akan tumbuh benih rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap sains yang suatu hari kelak akan mekar menjadi karya besar penemuan. Sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam festival sains ini mengajarkan satu hal sederhana: bahwa jalan menuju generasi Indonesia Emas yang riang, kreatif, dan berakhlak mulia, bisa dimulai dari tangan-tangan mungil yang untuk pertama kalinya berhasil membuat magnet, memainkan botol musik hidroakustik, atau menyaksikan roket airnya melesat ke udara.

