Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil meluncurkan inovasi pembelajaran yang memadukan Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM) dengan kearifan lokal masyarakat adat Sunda Cireundeu, melalui program bertajuk EtnoSTEM Cireundeu.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Pusat Unggulan Center for Excellence of Lesson and Learning Studies (CELLS) dan Pusat Unggulan Sains Data Astronomi dan Polusi Cahaya (SADAR-POLYA) di bawah Direktorat Inovasi, Hilirisasi, dan Science Techno Park (DIHS) UPI. Inisiatif ini lolos dan didanai melalui hibah In-Saintek Semesta MINAT SAINTEK DIKTI.

Rangkaian kegiatan EtnoSTEM berlangsung sejak Agustus hingga November 2025, melibatkan ratusan peserta dari kalangan pendidik, siswa, dan masyarakat. Keberhasilan ini menunjukkan komitmen UPI dalam diseminasi kepemimpinan pembelajaran STEM yang relevan dengan konteks budaya lokal Sunda, yang juga melibatkan kokreasi dari Masyarakat Kampung Adat Cireundeu.

Kontrak In-Saintek yang ditandatangani oleh Direktur DHIS dengan MINAT SAINTEK DIKTI terdiri dari dua kegiatan utama yang saling berkaitan yaitu kepemimpinan komunitas belajar STEM dan EtnoSTEM Sekolah Adat Sunda Cireundeu yang terdiri dari kegiatan Kepemimpinan komunitas belajar STEM; EtnoSTEM-Sekolah Adat Sunda Cireundeu; EtnoSTEM Corner: Sains dan Teknologi di Balik Budaya Sunda sebagai bagian dari Festival Cireundeu. Kegiatan kedua yaitu Festival EtnoSTEM di UPI sebagai bagian dari Innovation Expo dan Seminar dalam rangka kegiatan Dies Natalis UPI ke 71 pada Oktober silam.

Melalui program In-Saintek Semesta, CELLS dan SADAR-POLYA bertindak sebagai pelopor dalam mengembangkan kurikulum yang menghubungkan konsep-konsep STEM dengan praktik kearifan lokal Cireundeu. Materi yang diangkat meliputi sistem pertanian tradisional (seperti beras singkong atau rasi), arsitektur bambu, dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Dr. Aristanti Widyaningsih, M.Si, salah satu dosen yang terlibat, menyatakan bahwa dosen, peneliti, dan mahasiswa aktif dalam pendampingan, lokakarya, dan pengembangan modul pembelajaran yang kontekstual.

Dampak program ini terhadap ekosistem pendidikan di Jawa Barat dinilai signifikan. Program EtnoSTEM berhasil menjembatani pengetahuan akademik dengan praktik budaya, menciptakan model pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan bagi siswa. Program ini juga sejalan dengan pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan berkualitas. SDG 11: Kota dan komunitas berkelanjutan. Dan SDG 15: Pelestarian ekosistem darat.

“Keberhasilan ini membuktikan bahwa investasi pemerintah melalui program In-Saintek Semesta memberikan imbal hasil yang nyata bagi kemajuan pendidikan nasional, sekaligus berkontribusi pada pelestarian budaya Sunda,” jelas perwakilan dari CELLS UPI.

Rangkaian kegiatan diawali dengan open class (kelas terbuka) EtnoSTEM di Sekolah Adat Sunda Cireundeu, diikuti oleh guru-guru dari berbagai sekolah. Pembelajaran inovatif menyajikan praktik langsung seperti uji kandungan gizi beras singkong (rasi), pengamatan fase Bulan, dan pengelolaan limbah singkong menjadi briket.

Irma Gusriyani, S.Pd., salah satu guru peserta, mengapresiasi metode ini. “Biasanya di kelas hanya sebagian yang mau bekerja, tetapi di open class semua terlihat antusias dan mau terlibat,” ujarnya.

Puncak kegiatan adalah Festival Cireundeu yang menghadirkan pameran, lokakarya, dan pertunjukan budaya. Festival ini dihadiri oleh Walikota Cimahi, Letkol (Purn.) Ngatiyana, S.A.P., dan Wakil Walikota Cimahi, Adhitia Yudisthira, S.E., Ak., CA., serta perwakilan dari Dirjen Sains dan Teknologi Kemendikbudristek.

Model EtnoSTEM yang dikembangkan oleh UPI ini diharapkan dapat menjadi best practice dan inspirasi bagi perguruan tinggi lain di Indonesia untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang berakar pada nilai-nilai dan kearifan lokal masing-masing daerah. (DN)