
Sumedang, 21 Juli 2025
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam memperkuat kapasitas guru dan calon guru menghadapi tantangan pembelajaran berbasis teknologi di era digital. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah penyelenggaraan kegiatan bertajuk “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Artificial Intelligence (AI) dengan Pendekatan Attachment Theory untuk Optimalisasi Deep Learning.”
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid—luring di Ruang G3 UPI Kampus Sumedang dan daring melalui platform Zoom—ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif kepada peserta mengenai integrasi teknologi AI dalam pengembangan bahan ajar, tanpa melupakan aspek psikologis pembelajar, khususnya melalui pendekatan Attachment Theory. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong terciptanya pembelajaran yang adaptif, relevan, dan bermakna bagi peserta didik.
Acara diawali dengan registrasi peserta, pembukaan oleh MC Siti Nurlatifah, M.Pd., pembacaan doa oleh Firda Tri Mahbubatul, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kegiatan resmi dibuka oleh Dr. Cucun Sunaengsih, S.Pd., M.Pd., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan guru dan calon guru dalam merespons perkembangan teknologi, tanpa mengabaikan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan.

Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Aan Komariah, M.Pd., yang menguraikan pentingnya Attachment Theory sebagai landasan dalam proses pembelajaran modern. Ia menegaskan bahwa keamanan emosional dan keterikatan positif antara guru dan siswa menjadi fondasi utama bagi terwujudnya deep learning yang berkualitas. Guru perlu hadir sebagai secure base bagi siswa—menciptakan lingkungan belajar yang suportif, aman, dan membangun kepercayaan diri.
Prof. Aan juga menekankan pentingnya penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek, diskusi, simulasi, dan pemecahan masalah yang kontekstual. Strategi ini tidak hanya mengaktifkan peran peserta didik dalam pembelajaran, tetapi juga memperkuat ikatan emosional mereka terhadap proses belajar. Selain itu, pendekatan ini mendorong pemahaman lebih dalam terhadap kebutuhan emosional peserta didik, memperkuat komunikasi antara guru dan orang tua, serta penggunaan asesmen formatif yang responsif dan humanis.

Materi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Dedy Achmad Kurniady, M.Pd., yang membahas secara mendalam peran teknologi kecerdasan buatan dalam pengembangan bahan ajar. Menurutnya, peran guru di era AI mengalami transformasi signifikan—tidak lagi hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, inovator, mentor literasi digital, serta pengarah etika pemanfaatan teknologi.
AI, lanjutnya, memiliki potensi besar dalam penyusunan bahan ajar yang personal, kontekstual, dan adaptif melalui berbagai fitur seperti analisis data siswa, personalisasi konten, hingga evaluasi otomatis berbasis data. Berbagai aplikasi seperti chatbot edukatif, sistem pembelajaran adaptif, serta teknologi pengenalan suara dan visual kini dapat diintegrasikan sebagai bagian dari strategi pembelajaran yang lebih canggih dan inovatif.
Namun demikian, Prof. Dedy juga menegaskan bahwa implementasi AI dalam pendidikan harus mempertimbangkan tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, kesenjangan digital, serta keberagaman budaya lokal. AI harus dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti hubungan manusia dalam proses pendidikan. Peran guru sebagai pendidik, pembimbing nilai, dan penjaga relasi emosional tetap tak tergantikan.

Kegiatan ini dipandu oleh moderator Syifa Hanifa Salsabil, M.M. dan Zaini Hafid, M.Pd., dengan suasana diskusi yang berjalan dinamis dan interaktif. Para peserta—yang terdiri dari guru dan calon guru—antusias mengikuti sesi tanya jawab, membahas berbagai isu aktual terkait pengintegrasian teknologi dengan pendekatan humanistik dalam pembelajaran.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyelenggarakan sesi doorprize bagi peserta aktif, dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama. Kegiatan resmi ditutup oleh M. Irvan Gunawan, S.Pd., dan diakhiri dengan kegiatan Operasi Semut sebagai bentuk budaya kerja kolaboratif sivitas akademika UPI Kampus Sumedang.
Melalui kegiatan ini, UPI Kampus Sumedang menegaskan kembali visinya untuk menyiapkan pendidik masa depan yang adaptif, inovatif, dan mampu menggabungkan kemajuan teknologi dengan pemahaman psikologi pendidikan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diimplementasikan dalam praktik pembelajaran nyata, baik melalui pengembangan bahan ajar berbasis AI maupun dalam menciptakan relasi positif yang mendukung proses deep learning.
Kegiatan ini tidak hanya membuka wawasan baru tentang teknologi pendidikan, tetapi juga menggarisbawahi bahwa peran guru tetap vital dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, transformasi pendidikan yang inklusif, kontekstual, dan berorientasi masa depan dapat diwujudkan secara berkelanjutan. (kontributor)

