
Bandung, 20 Oktober 2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar prosesi Dies Natalis ke-71 di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus Bumi Siliwangi, Bandung, Senin (20/10). Acara ini dibuka secara resmi oleh Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., serta dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M., serta Ustaz Dr. (H.C.) Adi Hidayat, Lc., M.A., yang menyampaikan orasi ilmiahnya di hadapan Sivitas akademik UPI.
Dengan mengusung tema “Melesat Bersama untuk UPI Gemilang”, peringatan Dies Natalis ini menjadi momentum refleksi bagi UPI untuk mempertegas peran sebagai universitas pelopor pendidikan yang mencetak insan cerdas, berakhlak, dan berjiwa luhur.
Dalam orasinya, Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga harus membangun moral dan spiritualitas. “Ilmu tanpa akhlak hanyalah bencana yang berwajah kecerdasan. Kampus harus menjadi tempat melahirkan manusia yang bukan hanya pintar, tetapi juga benar,” ujarnya.
Beliau menyoroti bahwa bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas, tetapi kekurangan sosok yang jujur dan berintegritas. “Akal tanpa moral adalah bencana, moral tanpa ilmu adalah kebodohan, dan spiritualitas tanpa keduanya hanyalah emosi tanpa arah,” tegasnya. Menurut Ustaz Adi, keseimbangan antara akal, moral, dan spiritual merupakan fondasi utama untuk membangun peradaban bangsa yang beradab dan bermartabat.
Dalam konteks Dies Natalis ke-71, Ustaz Adi menilai bahwa UPI memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi mercusuar pendidikan dan kemanusiaan bangsa. “UPI harus menjadi kampus yang bukan hanya besar, tetapi juga bermakna; bukan hanya unggul dalam sains, tetapi juga dalam nilai kemanusiaan dan ketuhanan,” katanya. Ia juga mengapresiasi langkah UPI dalam menempatkan keseimbangan antara kecerdasan akademik dan pembentukan karakter moral, yang sejalan dengan visi universitas untuk mencetak pendidik unggul, berilmu, dan berakhlak mulia.
Lebih lanjut, Ustaz Adi menekankan pentingnya menghadirkan nilai ketuhanan dalam sistem pendidikan. Menurutnya, dari takwa lahir karakter, dan dari karakter lahir peradaban. “Kita tidak bisa berharap negara ini bersih kalau takwanya hanya jadi tulisan di dinding. Kita tidak bisa berharap pejabatnya jujur kalau rasa takutnya kepada Tuhan sudah mati,” tuturnya penuh penekanan. Ia mengajak seluruh insan pendidikan, termasuk UPI, untuk menjaga integritas akademik dan menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai ruh dalam setiap proses pembelajaran.
Menutup orasinya, Ustaz Adi Hidayat mengajak seluruh sivitas akademika UPI untuk menjadikan Dies Natalis bukan sekadar perayaan, tetapi momentum kebangkitan nilai moral dan spiritual di dunia pendidikan. “Mari jadikan UPI bukan hanya universitas yang besar, tetapi juga bermakna; bukan hanya dikenal karena akademiknya, tetapi karena akhlaknya,” pesannya.
Dengan semangat “Melesat Bersama untuk UPI Gemilang”, UPI terus meneguhkan diri sebagai universitas pelopor pendidikan nasional yang berkomitmen mencerdaskan akal, menyucikan hati, dan menuntun jiwa — menuju Indonesia yang berkarakter, berdaya saing, dan berperadaban. RK (20/10)

