Bandung, UPI

Di antara ribuan toga hitam yang memenuhi Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Minggu pagi, 10 Mei 2026, seorang wisudawan tampak menggenggam sebuah bingkai foto kecil. Foto itu bukan sekadar pelengkap dokumentasi wisuda. Di dalamnya, ada sosok ayah yang sudah tidak lagi bisa hadir secara langsung menyaksikan putranya menyelesaikan pendidikan sarjana.

Wisudawan itu adalah Raditya Wilmar Ghivari, lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) UPI. Hari itu, di tengah prosesi Wisuda Gelombang II Tahun 2026 yang diikuti 1.793 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan, Raditya mempersembahkan kelulusannya untuk sang ayah.

“Ini ayah saya. Kebetulan ayah saya meninggal dunia saat saya masih berkuliah. Jadi, wisuda ini saya dedikasikan untuk ayah saya dan juga ibu saya yang ada di belakang,” ujarnya sambil menunjukkan foto yang dibawanya.

Momen tersebut menjadi salah satu kisah yang menyentuh dalam pelaksanaan wisuda UPI tahun ini. Di tengah suasana bahagia para lulusan dan keluarga, Raditya hadir membawa cerita tentang kehilangan, perjuangan, sekaligus harapan baru.

Prosesi Wisuda Gelombang II UPI Tahun 2026 sendiri berlangsung di Gedung Gymnasium UPI, Jalan Dr. Setiabudi Nomor 229 Bandung. Sebanyak 154 lulusan doktor, 335 magister, 1.292 sarjana, dan 12 lulusan diploma empat resmi dikukuhkan pada wisuda kali ini. Para lulusan berasal dari berbagai fakultas, Sekolah Pascasarjana, serta lima kampus daerah UPI.

Bagi Raditya, perjalanan menuju wisuda bukan proses yang mudah. Kehilangan sosok ayah di tengah masa kuliah menjadi ujian yang harus dihadapinya sambil tetap menyelesaikan studi. Namun, dukungan keluarga dan lingkungan kampus menjadi penguat untuk terus melangkah.

Di dekat podium, ia menyampaikan pesan singkat untuk almarhum ayahnya.

“Pa, aku sudah selesai hari ini. Aku mau lanjut lagi studi. Doakan aku selalu dari atas sana.”

Kalimat itu diucapkannya dengan tenang, tetapi menyimpan perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di UPI, Raditya kini bersiap melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia (UI), setelah dinyatakan diterima pada program pascasarjana.

“Pastinya saya akan lanjut S2. Kebetulan saya sudah diterima di Pascasarjana Magister Universitas Indonesia,” katanya.

Di kursi undangan, sang ibu, Fitri Windi Astuti, menyaksikan prosesi wisuda putranya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengaku bangga melihat perjuangan anaknya yang tetap mampu menyelesaikan pendidikan di tengah kehilangan ayahnya.

“Saya merasa bangga sekali terhadap anak saya yang pada hari ini sudah dapat menyelesaikan pendidikan S1-nya. Walaupun saat ini dia tidak didampingi oleh papanya, tetapi semangat dia dalam belajar sangat-sangat saya hargai,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada UPI, dosen, dan rekan-rekan mahasiswa yang telah mendampingi Raditya selama masa perkuliahan. Menurutnya, lingkungan akademik yang suportif menjadi bagian penting dalam perjalanan putranya hingga berhasil menjadi lulusan terbaik di Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis.

“Alhamdulillah, dia dapat menyelesaikannya dengan baik, bahkan menjadi lulusan terbaik di Prodi Pendidikan Bahasa Prancis,” katanya.

Bagi Fitri, keberhasilan anaknya tidak hanya tentang gelar akademik, tetapi juga tentang kemampuan bertahan dan terus melanjutkan mimpi di tengah situasi yang tidak mudah. Ia berharap Raditya tetap menjaga semangat belajar dan mampu melanjutkan pencapaiannya di jenjang berikutnya.

Di tengah ribuan wisudawan yang melangkah meninggalkan gedung wisuda hari itu, Raditya membawa lebih dari sekadar ijazah. Ia membawa doa, kenangan, dan janji kepada seseorang yang tidak lagi hadir secara fisik, tetapi tetap menjadi alasan untuk terus melangkah maju. (RK)