
Bandung, UPI
Kantor Komunikasi, Informasi dan Pelayanan Publik bekerja sama dengan Boleh Dicoba Digital melaksanakan Workshop Penguatan identitas dan citra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan workshop yang membahas pengembangan branding dan pengelolaan media sosial UPI yang dilaksanakan di Auditorium PPG Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Rabu (19/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, peserta menyoroti pentingnya pemetaan dan pengembangan identitas masing-masing akun media sosial di lingkungan UPI. Setiap akun dinilai telah memiliki karakteristik tersendiri, termasuk penggunaan color palette yang beragam sesuai dengan karakter unit masing-masing.
Meski demikian, keberagaman karakter tersebut dinilai tetap perlu diarahkan agar memiliki keterkaitan dengan brand guidelines universitas. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menjadikan identitas visual universitas sebagai acuan bagi pengembangan color palette dan typeface yang digunakan oleh unit-unit turunannya.
“Kalau saran dari aku, dari brand guidelines universitasnya, akunnya sendiri itu bisa jadi turunan juga untuk color palette dan typeface yang dipakai dan itu bisa dipakai sama turunan setiap fakultas dan prodi, jadi bisa seragam,” ungkap Zahra M Mulyanisa Selaku Creative Director Boleh Dicoba Digital .
Menurutnya, penggunaan logo dan karakter dasar UPI pada berbagai akun sudah cukup baik. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola media sosial di masing-masing unit mampu menghasilkan konten yang lebih beragam, menarik, dan tidak terlalu kaku.
Pengelolaan media sosial, khususnya oleh para admin yang berada di berbagai unit, dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada penyampaian informasi secara formal. Kreativitas dalam mengemas pesan menjadi bagian penting agar informasi universitas dapat diterima dengan lebih menarik oleh audiens.
“Lebih ke gimana caranya bisa nge-posting konten yang tidak monoton atau tidak terlalu korporat, itu sih beneran yang biar hasilnya lebih oke,” ujarnya.
Workshop tersebut juga dinilai penting sebagai ruang untuk meningkatkan pemahaman para pengelola media sosial mengenai jenis konten yang dapat dikembangkan sesuai karakter dan kebutuhan masing-masing unit. Hal ini menjadi semakin penting karena setiap unit di lingkungan UPI memiliki karakter, fungsi, serta kebutuhan komunikasi yang berbeda.

“Terutama untuk yang belum tahu apa yang bisa kita godok untuk kita posting. Karena kan banyak-banyak macamnya beda-beda,” jelas peserta lainnya.
Keberagaman tersebut terlihat tidak hanya pada fakultas dan program studi, tetapi juga pada unit-unit pendukung seperti balai bahasa, perpustakaan, hingga radio. Masing-masing memiliki karakteristik dan jenis informasi yang berbeda sehingga membutuhkan strategi komunikasi yang tidak selalu dapat disamakan secara keseluruhan.
Oleh karena itu, pengembangan strategi branding dan konten media sosial UPI dinilai perlu dilakukan secara berjenjang. Identitas universitas tetap menjadi payung utama, sementara setiap unit dapat mengembangkan turunannya dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan identitas komunikasi yang lebih konsisten tanpa menghilangkan kreativitas dan kekhasan setiap unit. Dengan demikian, keberadaan berbagai akun media sosial di lingkungan UPI tidak hanya menjadi sarana penyebarluasan informasi, tetapi juga dapat memperkuat citra dan reputasi universitas secara keseluruhan.
“Jadi harusnya mungkin bisa berjenjang sih dan bisa dievaluasi juga workshopnya,” pungkasnya.
Melalui workshop dan evaluasi yang berkelanjutan, UPI diharapkan mampu membangun ekosistem komunikasi digital yang semakin terarah, konsisten, kreatif, dan relevan dengan perkembangan kebutuhan audiens di era digital. (RI)

