Bandung, UPI

Sebanyak 52 tim musik angklung dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Lomba Musik Angklung Padaeng yang ke- XIII Tahun 2025. Perlombaan ini merupakan kolaborasi antara UPT Kebudayaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan UKM Keluarga Besar Bumi Siliwangi (KABUMI). Perlombaan berlangsung selama dua hari, yaitu pada Sabtu dan Minggu (22-23/2/2025). Lomba diselenggarakan di Gedung Achmad Sanusi (BPU) Kampus UPI Jl. Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung.

Menurut Lurah KABUMI UPI Periode 2024-2025 Rhaidatul Ghina Tsuraya, diungkapkan bahwa Keluarga Besar Bumi Siliwangi menilai tujuan utama dari penyelenggaraan Lomba Musik Angklung Padaeng adalah untuk melestarikan nilai-nilai yang terdapat di dalam angklung, dimana angklung telah diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda UNESCO.

Dijelaskannya,”Tercatat ada 52 tim dari berbagai jenjang, mulai dari TK hingga perguruan tinggi yang mengikuti lomba ini. Rinciannya adalah jenjang TK 11 tim, SD 14 tim, SMP 11 tim, SMA 10 tim, kemudian Perguruang Tinggi dan Umum 6 tim. Sementara itu untuk dirigen atau konduktor dan vocalist menjadi bahan penilaian juga.”

Menurut Ghina kriteria penilaian perlombaan ini berdasarkan pada nada dan keutuhan aransemen, teknik dan penguasaan alat musiknya, penjiwaan dan ekspresi, penampilan dan kreativitasnya.

“Sebagai generasi muda penerus bangsa, kita dituntut untuk bisa lebih aware terhadap budaya bangsa dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” pungkasnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Kepala UPT Kebudayaan UPI Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd., menjelaskan bahwa maksud dan tujuan dari kegiatan “Lomba Musik Angklung Padaeng yang ke- XIII Tahun 2025” ini adalah untuk memperkenalkan angklung tradisional kepada generasi muda, namun untuk diketahui bahwa saat ini angklung sudah sangat modern, telah terjadi penciptaan dan inovasi baru terhadap alat-alat angklung.

“Lomba musik angklung ini terwujud atas kerja sama dengan seluruh komunitas yang ada di seluruh Indonesia. Tercatat sebanyak 52 tim dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti perlombaan ini,” ungkapnya.

Sejatinya, lanjutnya lagi, lomba musik Angklung Padaeng ini bertujuan untuk membina silaturahim diantara pelatih angklung.

Dikatakannya,”UPI menjadi inisiator dan tempat berkumpulnya para penggiat angklung dari seluruh Indonesia untuk menyampaikan ekspresinya melalui angklung. Lomba musik angklung ini juga merupakan salah satu komitmen UPI untuk membina dan mengembangkan seni tradisional yang ada di Indonesia.”

Ditegaskannya,”Kegiatan ini merupakan kegiatan komunal atau pentahelix collaboration dimana di dalamnya terdapat peran pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media, sehingga keberadaan lomba musik angklung ini terus berkelanjutan menjadi sebuah festival.”

Hal serupa disampaikan oleh Kepala Kantor Hubungan Masyarakat UPI Prof. Drs. Suhendra, M.Ed., Ph.D., dikatakannya bahwa Universitas Pendidikan Indonesia mengandung dua kata kunci, yaitu Pendidikan dan Indonesia. Kata pendidikan sangat luas maknanya dan hari ini kita hadir di sini dalam rangka mengejawantahkan makna dari pendidikan khususnya pendidikan seni dan kebudayaan. Berikutnya yang ke-2 kata i, yaitu Indonesia mengandung makna kita sedang merawat tentang ke Indonesiaan.

“Angklung adalah salah satu produk budaya dan media kebudayaan yang sangat luar biasa perkembangannya, dari yang semula diatonik dan pentatonik, yang tadinya dalam tanda petik sekedar bambu, menjadi media yang sangat efektif untuk menggairahkan dan membangun tentang ke Indonesiaan. Meskipun angklung awalnya dari skala yang kecil, namun terbukti dapat merawat ke Indonesiaan, termasuk juga KABUMI dan UPT Kebudayaan UPI yang merawat hingga tahun ke-13,” ujarnya.

Ini sebuah perjuangan yang luar biasa, ujarnya lagi, karena merawat kegiatan yang tidak diikuti oleh semua orang tentu tidak mudah. Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan kepada KABUMI dan UPT  Kebudayaan yang tentu saja kami sangat percaya tidak mudah hingga tahun ke-13.

Diharapkan,”Semoga terus kita rawat, semakin hari semakin baik, semakin memberikan kebaikan dan kemanfaatan untuk orang banyak. Hadir pada kesempatan kali ini, para tokoh angklung yang sangat istimewa salah satunya, Kang Aris.”

Dalam kesempatan ini, ujarnya lagi, kita harus berterimakasih kepada para perintis seni dan budaya khususnya angklung yang khusus penggagas angklung yang konvensional menjadi sangat modern.

“Kita berhutang budi kepada mereka, khususnya Pak Daeng Soetigna yang merupakan perintis awal Bapak Angklung Indonesia yang menjadikan kita hadir di sini karena adanya angklung,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, lanjutnya, bahwa seni budaya termasuk angklung  adalah bagian dari soft diplomacy, dan angklung bukan sekedar Sunda, Indonesia, tapi sudah mendunia. Insya Allah menjadi kebaikan jalan kebaikan tentu saja harus kita dukung, karena dengan angklung salah satunya Indonesia dikenal bisa menjadi  pemersatu untuk seluruh kepentingan dunia.  (dodiangga/safira)