
Dosen dan Peneliti Bidang Astronomi dan Astrofisika
Laboratorium Bumi dan Antariksa Program Studi Fisika
Pusat Unggulan Sains Data Astronomi dan Polusi Cahaya Universitas Pendidikan Indonesia
[email protected]

Alumnus Program Studi Fisika
Konsultan Pendidikan, Berdomisili di Bandung
Perhitungan atau hisab posisi Bulan (Moon) dan Matahari menggunakan algoritma astronomi modern dalam penentuan awal bulan (month) Ramadan 1446 H/2025 M menunjukkan bahwa terpenuhinya kriteria visibilitas/kenampakan hilal (salah satu fase-fase Bulan) hanya meliputi wilayah yang sempit, yaitu di ujung barat dan utara Pulau Sumatera. Kriteria visibilitas hilal baru yang dianut Kementerian Agama Republik Indonesia sejak Desember 2021 silam (kriteria MABIMS Baru) menggunakan dua parameter dalam klausulnya, yaitu: ketinggian dan elongasi. Yang dimaksud dengan ketinggian adalah jarak sudut (dalam derajat) dari pusat piringan Bulan yang diproyeksikan tegak lurus ke horizon/cakrawala teramati. Sementara, elongasi menyatakan jarak sudut (dalam derajat) dari pusat piringan Bulan ke pusat piringan Matahari. Sebagai bagian dari salah satu fase-fase Bulan, hilal merupakan profil sabit yang terbentuk setelah terjadinya konjungsi, yaitu kondisi ketika Bulan dan Matahari berada di arah bujur ekliptika yang sama. Momen konjungsi inilah yang menandai telah berakhirnya siklus Bulan (Moon) selama bulan (month) yang lalu, menuju kepada siklus berikutnya di bulan yang baru. Siklus lunasi yang disebut juga sebagai siklus sinodik ini memiliki durasi paling singkat selama 29,3 hari dan paling lama 29,8 hari. Dari sinilah, umur bulan dalam penanggalan berbasis siklus penampakan Bulan –seperti dalam penanggalan Hijriah– tidak mungkin kurang dari 29 hari dan mustahil lebih dari 30 hari. Nilai minimum kedua parameter di atas yang diacu sebagai syarat bagi kemungkinan secara teoretik hilal dapat diamati adalah 3° untuk ketinggian (toposentrik; pengamat ditempatkan di permukaan Bumi) dan 6,4° untuk elongasi (geosentrik; pengamat ditempatkan di pusat Bumi). Peta ketinggian hilal dan elongasi untuk wilayah Indonesia diperlihatkan dalam Gambar 1 dan Gambar 2.
Dari hasil hisab, peristiwa konjungsi (geosentrik) terjadi pada Jumat, 28 Februari 2025 pukul 00:44:38 waktu Greenwich/UT (Universal Time) di bujur geografis 0°. Waktu di atas bertepatan dengan pukul 07:44:38 WIB (garis bujur standar 105° Bujur Timur), 08:44:38 WITA (garis bujur standar 120° Bujur Timur), dan 09:44:38 WIT (garis bujur standar 135° Bujur Timur) pada hari yang sama. Di seluruh wilayah Indonesia, yang bertepatan dengan saat Matahari terbenam paling awal di kawasan timur (Waris – Papua, 17:54:26 WIT) dan paling akhir di kawasan barat (Banda Aceh – Nanggroe Aceh Darussalam, 18:51:31 WIB), hilal diketahui berada di atas horizon/cakrawala setempat. Ketinggian hilal merentang mulai dari 2,98° (Merauke – Papua) hingga 4,69° (Banda Aceh – Nanggroe Aceh Darussalam). Untuk elongasi, berkisar antara 4,74° di Jayapura, Papua hingga 6,41° di Lhoknga, Nanggroe Aceh Darussalam. Melihat dari besaran kedua parameter visibilitas, di wilayah Indonesia yang merentang dari 95° BT hingga 141° BT, syarat teoretik untuk kenampakan hilal telah dipenuhi di Lhoknga dan Banda Aceh. Dua lokasi ini berada di ujung barat wilayah Indonesia, sekaligus menjadikan tumpuan terakhir bagi harapan berhasil teramatinya hilal yang akan dilaporkan dalam sidang penetapan/itsbat di Kementerian Agama pada Jumat petang, 28 Februari yang akan datang.


Bumi berputar pada porosnya satu kali (360°) relatif terhadap Matahari dengan durasi 24 jam dalam arah barat ke timur. Sementara, Bulan bergerak dalam orbitnya mengitari pusat massa Bumi-Bulan dalam durasi yang lebih panjang, yaitu 27 1/3 hari, juga dalam arah barat ke timur. Terlihat bahwa kelajuan sudut rotasi Bumi (15°/jam) lebih cepat daripada kelajuan sudut revolusi Bulan (0,55°/jam). Dengan demikian, di langit Bulan tertinggal dari Bumi dan secara semu teramati bergerak ke arah timur sebesar 14,45°/jam. Hal ini menjelaskan mengapa Bulan sabit pascakonjungsi tampak lebih tinggi di atas horizon barat dari malam ke malam (seolah bergerak ke arah timur). Hal yang sama menjelaskan pula, mengapa lokasi pengamat di permukaan Bumi yang berada lebih barat, seperti Banda Aceh, menjumpai Bulan dalam posisi yang lebih tinggi di atas cakrawala pada saat Matahari terbenam dibandingkan lokasi yang berada lebih timur, semisal Jayapura (perhatikan peta ketinggian hilal dalam Gambar 1). Demikian pula halnya dengan posisi hilal yang lebih tinggi di Saudi Arabia saat Matahari terbenam waktu setempat, bila dibandingkan dengan ketinggian hilal di wilayah yang lebih timur darinya. Gambar 3 dan Gambar 4 mengilustrasikan kondisi ini.
Sangat mungkin di wilayah yang lebih timur Bulan belum mengalami konjungsi, sementara di wilayah yang lebih barat sudah terjadi konjungsi. Kurva ketinggian hilal yang mengadopsi nilai tertentu sebagai syarat kenampakan hilal dapat saja membelah suatu wilayah menjadi kawasan timur dan barat. Di sebelah barat kurva, merupakan kawasan yang sudah masuk tanggal 1 di bulan yang baru, sementara di sebelah timur kurva masih menapaki bulan yang sedang berjalan. Kemungkinan lainnya adalah, kurva ketinggian hilal melintasi batas wilayah terluar sebelah barat suatu kawasan yang membentang luas dari barat ke timur. Di sebelah barat kurva, hilal sudah mungkin untuk dapat diamati/dirukyat, sehingga laporan keberhasilan mengamati hilal dari lokasi ini membuat masuk tanggal 1 di bulan yang baru. Di sebelah timur kurva justru sebaliknya, hilal belum memungkinkan untuk dapat diamati/dirukyat, sehingga nihilnya laporan keberhasilan mengamati hilal dari lokasi tersebut dapat membuat tertundanya masuk tanggal 1 di bulan yang baru. Dalam hal situasi ini terjadi di satu wilayah hukum, seperti Indonesia dalam penentuan awal Ramadan tahun ini, terbelahnya Indonesia menjadi dua kawasan yang berbeda dalam mengawali bulan Ramadan masih berpeluang dapat dihindari. Hanya karena dari Sabang di kawasan barat hingga Merauke di kawasan timur merupakan satu kesatuan wilayah hukum Indonesia, maka kawasan di sebelah timur dapat mengikuti hasil rukyat dari kawasan di sebelah baratnya. Praktik seperti ini dikenal sebagai transfer rukyat.


Memerhatikan peta ketinggian hilal (Gambar 1) dan peta elongasi (Gambar 2) untuk wilayah Indonesia, dapat dipahami bila keberhasilan mengamati hilal di Lhoknga dan Banda Aceh yang diambil sumpahnya oleh hakim Pengadilan Agama di lokasi rukyat dan dilaporkan ke sidang itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama serta disahkan, akan berpeluang membuat Jumat malam itu sudah memasuki tanggal 1 Ramadan 1446 H. Bila skenario ini yang terjadi, umat Islam Indonesia akan memulai Ramadan secara serentak pada 1 Maret 2025. Pemerintah dan ormas-ormas Islam besar akan memiliki keputusan yang sama dalam mengawali Ramadan tahun ini. Sebelumnya, salah satu ormas Islam di Indonesia telah memaklumatkan kepada jemaahnya bahwa 1 Ramadan 1446 H bertepatan dengan Sabtu, 1 Maret 2025. Terdapat beberapa catatan yang Penulis ajukan untuk skenario ini. Pertama, kriteria visibilitas baru yang telah disepakati untuk menjadi rujukan rukyat, telah diyakini sebagai kriteria yang lebih ilmiah daripada kriteria sebelumnya. Hal ini berarti bahwa bila terdapat kesaksian mengamati hilal dari lokasi di sebelah timur Lhoknga dan Banda Aceh, yang berarti salah satu dari kedua parameter hilal memiliki nilai yang masih di bawah kriteria, sidang itsbat berpeluang menolak kesaksian yang meragukan tersebut. Ke dua, kesaksian mengamati hilal dalam butir pertama tetap dapat diterima dengan syarat disertai bukti valid. Bukti valid yang dimaksud berupa potret hilal yang menyertakan informasi modus pengamatan, spesifikasi instrumen pengamatan, waktu pengamatan dan durasi berhasil teramatinya hilal, catatan kondisi cuaca di lokasi pengamatan, dan jumlah pengamat yang turut berhasil mengamati (terutama manakala hilal diklaim berhasil diamati kasat mata). Tidak dapat dipungkiri bahwa saat prediksi hisab berdekatan dengan nilai-nilai dalam kriteria, perukyat seringkali tersugesti: perukyat mampu “melihat” apa yang mereka pikirkan. Bagi para hakim di lokasi rukyat pun hendaknya ekstra hati-hati. Saat ini Indonesia masih berada di musim basah, sehingga tidaklah mudah menghasilkan klaim melihat hilal. Prediksi cuaca di Lhoknga dan Banda Aceh pada Jumat 28 Februari sebagaimana dijumpai di laman BMKG, menunjukkan dominasi cuaca berawan disertai kabut. Dalam kondisi seperti ini, merukyat hilal dengan parameter yang memenuhi kriteria saja akan cukup sulit, apalagi merukyat hilal yang nilai-nilainya masih di bawah kriteria. Meskipun demikian, bila syarat-syarat yang diperlukan di atas dapat dipenuhi oleh perukyat, laporan keberhasilan mengamati hilal dapat diperlakukan sebagai data baru yang valid untuk keperluan menyempurnakan kriteria visibilitas yang berlaku saat ini. Artinya, peluang mengawali Ramadan serentak masih terbuka bila terdapat kesaksian mengamati hilal disertai bukti-buktinya.
Bagaimana bila dari seluruh wilayah Indonesia sama sekali tidak diperoleh kesaksian mengamati hilal akibat gangguan cuaca berupa tutupan awan yang luas dan bahkan hujan? Dalam situasi seperti ini, terdapat peluang umat Islam Indonesia memulai Ramadan pada hari yang berbeda. Meskipun tidak diperoleh laporan keberhasilan merukyat hilal, dengan berpedoman kepada hasil hisab akurat bahwa di sebagian wilayah Indonesia (di kota Lhoknga dan Banda Aceh) kriteria visibilitas telah terpenuhi, sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama dapat saja memutuskan Jumat malam 28 Februari 2025 sudah masuk 1 Ramadan (Sabtu, 1 Maret 2025/1 Ramadan 1446 H sebagai hari pertama berpuasa). Skenario keputusan sidang itsbat seperti atas dapat saja berbeda dengan kebijakan salah satu ormas Islam lainnya. Ormas Islam tersebut berpeluang untuk memaklumatkan penggenapan bulan Syakban menjadi 30 hari (istikmal). Penggenapan bulan Syakban akan berimplikasi dalam mengawali Ramadan pada hari yang berbeda (Minggu, 2 Maret 2025/1 Ramadan 1446 H sebagai hari pertama berpuasa). Ormas Islam pengamal rukyat ini memiliki klausul tambahan selain kedua kriteria MABIMS Baru. Klausul tambahan yang dimaksud adalah “dalam hal tidak terdapat laporan keberhasilan rukyat pada petang hari ke-29 namun nilai elongasi sudah mencapai 9,9°, maka tidak diberlakukan istikmal”. Saat Matahari terbenam pada hari Jumat 28 Februari 2025 yang bertepatan dengan 29 Syakban 1446 H, elongasi maksimum hanya senilai 6,41° di seluruh wilayah Indonesia, yang dicapai di kota Lhoknga, Nanggroe Aceh Darussalam. Bila ormas Islam ini konsisten dengan kriteria qoth’iy rukyat-nya tersebut, dapat dipastikan almanak mereka akan menempatkan 1 Ramadan 1446 H bertepatan dengan hari Minggu, 2 Maret 2025.
Dari sudut pandang sains, hisab dan rukyat memiliki peran yang sangat penting, meskipun berasal dari pendekatan yang berbeda. Hisab berbasis perhitungan matematis, sementara rukyat berbasis pengamatan langsung. Kedua metode ini bukanlah pesaing satu terhadap lainnya, bukan pula pilihan yang saling bertentangan. Keduanya ibarat sisi berlawanan dari koin yang sama; masing-masing dengan keunggulan dan keterbatasannya sendiri. Aktivitas rukyat tidak dimaksudkan untuk meragukan eksistensi hilal pada waktu dan di arah tertentu yang telah dapat diketahui sebelumnya dengan bantuan hisab yang akurat. Aktivitas rukyat merupakan upaya untuk mengesani melalui indera penglihatan kemunculan hilal untuk pertama kalinya yang menjadi penanda pergantian bulan di dalam kalender Hijriah sebagaimana keyakinan para pengamal rukyat. Dalam konteks ini, jelaslah peran hisab dalam memberikan pedoman waktu dan arah di dalam kegiatan rukyat. Dengan panduan hisab yang akurat tersebut, para perukyat dapat terhindar dari kesalahan mengenali objek (objek bukan hilal namun disalah-kenali sebagai hilal) dan dapat berkonsentrasi sepanjang jendela waktu pengamatan yang tepat (saat di mana hilal diprediksi berpeluang untuk dapat dirukyat). Apakah yang akan menjadi ketetapan dalam sidang itsbat nanti, akan ditentukan oleh dinamika dalam diskusi yang melibatkan pula para cendekiawan di dalamnya, baik yang berasal dari perwakilan ormas-ormas maupun institusi negara (BRIN, BIG, dan BMKG) dan akademisi. Selamat bersuka-cita menyongsong tibanya Ramadan yang mulia. Semoga keberkahan menaungi Indonesia Raya.

