Bandung, UPI

Amphitheater Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjadi saksi kemeriahan ujian akhir semester (UAS) mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Musik dan Musik pada Selasa malam (14/01). Mahasiswa dari tiga mata kuliah—Spesialisasi Saxophone, Spesialisasi Gitar, dan Ansambel Combo—menampilkan kemampuan terbaik mereka dihadapan dosen penguji dan audien.

Acara yang dipandu oleh MC Regina Darmawanti ini, terbagi dalam tiga sesi: pertama, penampilan mahasiswa dari kelas Spesialisasi Saxophone, kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yang menampilkan kemahiran mahasiswa dalam Spesialisasi Gitar, sebelum akhirnya ditutup dengan pertunjukan ansambel combo yang menghadirkan kolaborasi harmonis berbagai instrumen. Setiap sesi menampilkan performa yang berbeda, mulai dari solo saxophone yang memukau, gitaris yang menunjukkan keahlian teknis, hingga ansambel combo yang memukau dengan kolaborasi musik yang harmonis, menciptakan pengalaman yang mengesankan bagi audien dan penguji. Dengan suasana yang meriah, Gedung Amphitheater UPI menjadi ajang penting bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan musikal mereka di depan dosen penguji dan audien. Acara ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan keterampilan mereka dalam suasana yang lebih kreatif dan dinamis. Keunikan setiap sesi pertunjukan, dengan ragam alat musik yang ditampilkan, menjadikan acara ini tidak hanya sebagai ujian akademis, tetapi juga sebagai pertunjukan seni yang mengesankan.

Sesi pembukaan dipimpin oleh Ketua Program Studi Pendidikan Seni Musik, Dody Mohammad Kholid, suasana di Amphitheater UPI mulai dipenuhi antusiasme. Ujian Spesialisasi Saxophone menjadi yang pertama digelar, diawali dengan penampilan mahasiswa membawakan karya wajib Swingin’ No.2. Beberapa peserta memainkan karya yang sama, sementara lainnya menampilkan komposisi pilihan mereka sendiri. Dengan iringan piano, bass, dan drum, para pemain saxophone tampil penuh percaya diri dalam balutan jas terbaik mereka. Aura elegan dan profesional pun terpancar dari setiap nada yang mereka tiupkan. Sejak momen pertama, audien tampak larut dalam alunan swing yang enerjik, menjadikan penampilan ini sebagai pembuka yang menarik sekaligus meninggalkan kesan mendalam. Penampilan para mahasiswa Spesialisasi Saxophone berlangsung secara bergantian, masing-masing menampilkan karya UAS mereka dengan penuh dedikasi. Setiap nada yang ditiupkan menggema di amphitheater, menciptakan suasana yang semakin hidup. Ujian ini sendiri dinilai langsung oleh Dosen Spesialisasi Saxophone, yang mengamati dengan seksama teknik dan interpretasi musikal para mahasiswa. Setelah penampilan terakhir usai, tepuk tangan meriah menggema di seluruh amphitheater. Audien tampak antusias, seolah merayakan pengalaman musikal yang begitu menarik dan mengesankan.

Tanpa jeda panjang, sesi kedua pun dimulai—UAS Spesialisasi Gitar. Pada sesi ini, seluruh mahasiswa menampilkan karya gitar terbaik mereka, masing-masing dengan karakter dan teknik yang unik. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Nathan, mahasiswi Pendidikan Seni Musik, yang membawakan lagu Takarajima. Dengan mengenakan gaun anggun dan gitar yang tampak mewah, ia memainkan melodi dengan sentuhan penuh keindahan dan ketelitian. Setiap petikan yang mengalun menciptakan harmoni yang memikat, membuat seluruh audien terpukau oleh elegansi yang ia suguhkan, baik dari segi penampilan maupun musikalitasnya. Tak hanya itu, beberapa mahasiswa lainpun turut serta memberikan tampilan terbaiknya, dengan petikan gitar yang sangat manis dan penuh penjiwaan, membuat seluruh karya yang dimainkan sangat memikat. Memasuki sesi ketiga, suasana semakin semarak. Inilah sesi yang paling dinanti-nantikan: Ansambel Combo. Pada sesi ini, beberapa band terbaik dari mata kuliah Ansambel Combo menampilkan pertunjukan istimewa mereka. Yang membuatnya semakin menarik, salah satu lagu wajib dalam UAS ini adalah lagu-lagu dari The Beatles, yang tentu menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa lagu legendaris seperti Let It Be, Come Together Main Serong, Ob-La-Di, Ob-La-Da, dan lainnya pun turut dibawakan dengan aransemen khas masing-masing band.

Penampilan pertama datang dari grup Velora Bloom, yang langsung mencuri perhatian. Grup ini memiliki keunikan tersendiri karena seluruh anggotanya adalah perempuan, kecuali pada posisi drum. Dengan gaya yang ciamik dan energik, mereka sukses menjadi pembuka yang fresh dan berkesan. Saat membawakan lagu I Love U Bibeh, suasana amphitheater berubah seketika—audien larut dalam euforia, ikut bernyanyi bersama, menciptakan momen yang begitu hidup dan penuh kebersamaan. Tak kalah memukau, band Black Flower mengambil alih panggung dengan membawakan lagu Main Serong. Audien yang sudah terbakar semangat langsung maju ke depan panggung, menikmati setiap dentuman musik dengan penuh kegembiraan. Suasana semakin meriah, menunjukkan betapa sesi ini lebih dari sekadar ujian akademik—ini adalah perayaan musik. Sebagai puncak acara, band Astaroth menutup sesi dengan penampilan luar biasa. Teknik permainan yang solid, aransemen yang matang, serta energi panggung yang profesional membuat mereka menjadi klimaks sempurna dalam pertunjukan ini. Dengan penampilan yang begitu variatif dan penuh semangat, sesi Ansambel Combo berhasil mengubah suasana UAS menjadi sesuatu yang jauh dari kata menegangkan. Para mahasiswa membuktikan bahwa ujian bisa menjadi sebuah pertunjukan yang dinikmati, baik oleh pemain maupun audien, menciptakan pengalaman yang tak hanya mendidik tetapi juga menyenangkan.

Ujian akhir semester ini bukan sekadar evaluasi akademis, tetapi juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas dan menunjukkan perkembangan musikal mereka. Dari sesi pertama hingga terakhir, setiap penampilan memiliki daya tariknya sendiri, membuktikan bahwa pembelajaran musik di kelas dapat diterjemahkan menjadi pertunjukan yang memukau. Melihat antusiasme dan energi yang begitu besar dari mahasiswa maupun audien, acara seperti ini layak untuk terus dikembangkan. Mungkin ke depannya, UAS Ansambel Combo, Gitar, dan Saxophone bisa dikemas dalam bentuk konser terbuka yang lebih besar, sehingga tidak hanya dinikmati oleh lingkungan kampus, tetapi juga masyarakat luas. Pengalaman ini tentu meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang terlibat. Para mahasiswa tidak hanya diuji dalam keterampilan bermusik, tetapi juga dalam keberanian tampil di atas panggung. Dengan semangat yang sama, semoga pertunjukan seperti ini terus berlanjut dan menjadi tradisi yang menginspirasi generasi musisi berikutnya. (Indri Andriani Agustin, Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Musik FPSD Angkatan 2023)