
Bandung, UPI
Pada 10 Juni 2025, Hallway Space yang berada di Jl. Ahmad Yani, Kota Bandung, berubah menjadi ruang pengalaman yang membingkai tubuh-tubuh dalam garis, goresan, dan makna. Pameran bertajuk Tubuh Arena ini menampilkan 82 karya seni, yang terdiri dari 54 drawing dan 28 karya sketsa, hasil eksplorasi visual dari 46 mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI angkatan 2023. Tubuh, dalam pameran ini bukan sekadar bentuk anatomis, melainkan sebagai simbol, ruang personal, kritik sosial, memori, hingga teknologi untuk mencapai tujuan yang diinginkan seniman.
Pameran dibuka secara resmi pada 10 Juni oleh Ardiyanto, M.Sn., atau akrab disebut Baba Anto selaku dosen pengampu mata kuliah Seni Sketsa, yang juga turut dihadiri oleh tiga seniman undangan, yaitu Anton Susanto, Dede Wahyudin dan Rudi ST Dharma (Om Udey), yang memberikan sambutan serta apresiasi terhadap mahasiswa dalam menjalankan pameran berbasis eksplorasi konsep dan teknik.
Terhitung dari tanggal 10-15 Juni, pameran ini diselenggarakan selama enam hari sebagai bagian dari tugas akhir mata kuliah Seni Sketsa. Dengan Ardiyanto M.Sn., sebagai kurator, pameran ini menghadirkan keragaman pendekatan visual terhadap tema “tubuh”, mulai dari representasi realis hingga eksperimentasi media. Garis-garis menjadi bahasa yang menafsirkan tubuh sebagai ruang terbuka, menyimpan narasi pribadi, refleksi batin, maupun tafsir sosial budaya.
Dalam prosesnya, para peserta memaknai tubuh secara personal dan fleksibel, berkaitan erat dengan pengalaman, trauma, kenangan, serta gagasan tentang keberadaan yang di tuangkan pada visual jurnal dalam proses pengembangan ide. Dalam konteks akademik maupun artistik, pameran ini menjadi penghubung antara eksplorasi teknik dan perenungan tema besar yaitu “tubuh”.


Dalam wawancara yang dilakukan pada 15 Juni, Sahrul Dea Putra selaku ketua pelaksana mengungkapkan bahwa “Persiapan pameran ini sudah dimulai sejak tiga bulan sebelum acara, hanya saja kami terkendala dari pihak perantara yang agak terlambat dalam pencarian tempat, yang menyebabkan waktu pelaksanaannya jadi terasa lebih singkat”, ujarnya.
Sahru juga menambahkan bahwa seluruh karya peserta sebenarnya sudah siap sejak jauh hari. “Pengkurasian karya dilakukan beberapa tahap oleh kurator, yaitu Baba Anto. Setelah itu kami menyusun timeline acara serta progres masing-masing tim pameran, yang kemudian disesuaikan lagi setelah tempat dipastikan. Setelah timeline final dibuat, semua divisi mulai bekerja hingga akhirnya bisa terealisasi sesuai rencana di hari H,” jelasnya.
Menariknya, pameran Tubuh Arena tidak hanya menyuguhkan karya visual dalam bentuk drawing dan sketsa, tetapi juga menghadirkan beragam kegiatan interaktif bagi pengunjung berbentuk fun activity seperti sketch booth, custom painting, dan temporary tattoo yang terbuka untuk umum sepanjang pameran berlangsung. Kegiatan ini membuka ruang dialog antara seniman muda dan pengunjung secara langsung. Puncak partisipasi publik terjadi pada hari terakhir pameran, di mana diadakan Lomba Live Sketch yang diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, sekaligus menjadi penutup acara pameran ini.
Sahrul juga menyampaikan harapannya terhadap dampak pameran ini kepada publik. “Saya berharap masyarakat umum yang datang bisa lebih memahami bagaimana tubuh bekerja, bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam konteks emosional, sosial, bahkan spiritual. Semoga pemahaman ini bisa memberi manfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.”
Pilihan Hallway Space sebagai lokasi pameran yang memperkuat pesan inklusif dan keterbukaan ruang seni, tidak hanya menjadi tempat menampilkan karya. Ruang ini memungkinkan tubuh-tubuh visual itu bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari seperti pasar yang menyatu dalam Gerak dan interaksi. Melalui pameran Tubuh Arena ini, mahasiswa tak hanya menjalani kebutuhan akademik, tetapi menciptakan narasi yang lahir dari kepekaan, pengalaman, dan eksplorasi.
Reporter: Safana Azka Djalulia
Editor: Febri Romadhon
Kontributor dari FPSD

