Bandung, UPI

Joongla dan Program Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan kegiatan High Gastronomi Experience Fine Dining Experience dengan tema “Hallo Bandung”, Minggu (27/7). Tujuan kegiatan adalah untuk berkolaborasi dalam membangun dan mengembangkan ekosistem wisata gastronomi di provinsi Jawa barat melalui gastrodiplomasi khususnya dengan implementasi pengalaman bersantap gastronomi.

Peserta yang hadir dalam acara fine dining gastronomi tersebut adalah Dr. Iendra Sofyan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Nuzrul Irwan Irawan, S.E., M.Si Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung, Rispiaga, S.T., M.T., Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Muhamad Sofiyurahman, S.S.T.Par., MM Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung, David Oot M.Si Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat, Nuning Sekretaris ASITA Jawa Barat, Ganis Nosa Ariyadi Himpunan Pramuwisata Indonesia DPC Kota Bandung, Dr. Ahmad Hudaiby Galih Kusumah Ketua Program Studi Magister Pariwisata yang juga merupakan anggota Dewan Pakar GIPI, serta Dr. Dewi Turgarini., S.S., MM.Par Dosen Program Studi Magister Pariwisata dan Kepala Bidang Sumber Daya Manusia Gabungan Industri Pariwisata Indonesia DPD Provinsi Jawa Barat.

Kegiatan dimulai oleh Founder Joongla Farah Mauludynna dengan memperkenalkan diri seluruh peserta yang hadir. Kemudian dijelaskan bahwa para peserta akan menikmati hidangan yang terinspirasi oleh sejarah perkembangan warisan budaya makanan dan minuman di kota Bandung. Para peserta yang secara ekslusif tersedia berjumlah delapan orang kemudian dipersilahkan masuk, dan diperkenalkan ke para chef yang hadir yang bertugas mempresentasikan dan mengedukasi tentang bahan baku khas di kota Bandung seperti oncom, singkong, teknik pengolahan otentik dan inovasi yang dilakukan terhadap makanan yang disajikan. Perjalanan rasa dimulai dengan menikmati welcome drink rasa asam segar, kemudian disajikan beragam tema hidangan Sumping, Talaga, Badami, Tambih, Geulis, Tangkil, Beuleum, Sareng, Geulis, dan dessert yaitu nama Kelor dan Bandrek Gummy serta Wine Kombucha dari bunga Hibiscus dan buah Lobi-Lobi.

Semua hidangan adalah representasi glokaldiplomasi dan gastrodiplomasi yang mengakar pada hidangan otentik dan bahan baku khas yang hidup di kota Bandung. Proses budaya pada event ini sudah dilakukan secara komprehensif dengan melakukan pengetahuan landasan ide, sosialisasi pengetahuan serta technofact dimana dijelaskan pula bagaimana teknis pembuatan hidangan khas kota Bandung dengan mensinergikan teknik cooking mancanegara seperti terrine, sous vide, saus X-O (extra ordinary), kombucha. Timnya sangat deep research dalam menghidangkan makanan pada pra event Festival Jentik yang akan dilaksanakan pada 14 hingga 16 Agustus 2025 tersebut.

Iendra Sofyan ST, M.Si Selaku Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat memaparkan ”atmosfir Joongla yang mirip theater sangat bersih, dan atraksi dan pengalaan menikmati hidangan yang sarat dengan keunggulan makanan lokal Bandung ini sangat baik untuk dikembangkan di provinsi Jawa Barat. Keunikan ini harus menjadi destinasi unggulan yang harus dikunjungi bila berwisata di kota Bandung dan wilayah lainnya di masa mendatang.  ASITA harus segera memegang peran penting di masa mendatang agar dapat membuat paket perjalanan wisatanya. serta didukung stakeholder lainnya agar ekosistem pengembangan wisata gastronomi dapat dibangun di provinsi Jawa Barat”.

Hal serupa juga disampaikan Rispiaga, S.T., M.T., Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, “Joongla adalah restoran fine dining yang menjadi atraksi wisata unggulan kota Bandung yang patut dikunjungi di kota Bandung.  Komitmen penuh mempresentasikan makanan tradisional dengan bahan baku lokal dengan penampilan yang modern, merupakan contoh yang membanggakan bahwa kaum muda di kota Bandung sangat unggul dengan pelestarian budaya yang kreatif. Hal ini perlu didukung agara para wisatawan mendapatkan pengalaman rasa secara langsung yang menimbulkan pengalaman yang tidak dapat diperoleh di tempat kuliner lainnya”. (Kontributor Dr. Dewi Turgarini)