Bandung, UPI

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., hadir dalam pertemuan Forum Komunikasi Komite Audit PTN BH 2025, sekaligus menjadi Keynote speaker yang berbicara tentang Keberlanjutan, Akuntabilitas, dan Transisi Kepemimpinan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) pada PTN BH di Indonesia. Pertemuan tersebut berlangsung di Jasmine Junior Ballroom Pullman Bandung Grand Central Jl. Diponegoro no. 27, Kota Bandung, Kamis (11/9/2025).

Hadir  dalam kesempatan tersebut, diantaranya Ketua Forum Komunikasi Komite Audit PTN BH 2025 Prof. Iwan Triyuwono, S.E., Ak., C.A., M.Ec., Ph.D., Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Pendidikan Indonesia Komjen. Pol (Purn) Drs. Nanan Soekarna, M.Kom., Rektor UPI Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Diponegoro Prof. Mohamad Nasir, M.Si., Akt., Ph.D., sebagai narasumber, Sekretaris MWA Prof. Dr. Riandi, Ketua Komite Audit UPI, Prof. Disman, Ketua dan Anggota Komite Audit dari semua perguruan tinggi, serta para narasumber lainnya yaitu Novia Lusiana Ph.D., dan Vishnu Juwono Ph.D.

Dalam sesi wawancara, Wamen Diktisaintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menegaskan jika program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu mendorong agar perguruan tinggi mengambil peran strategis dalam pembangunan Indonesia ini. Dikatakannya,”Hal ini dikarenakan perguruan tinggi itu merupakan gudangnya ilmuwan, gudangnya SDM unggul, dan memiliki aktivitas akademik yaitu riset-riset yang bagus.”

Saat ini, ujarnya lagi, output dari riset-riset tersebut hanya berupa prototype (purwarupa) ataupun karya-karya konsumsi jurnal. Bukan itu tidak bagus, tetapi akan lebih bagus kalau produk-produk riset tersebut dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang ada di masyarakat.

“Melalui Kegiatan Forum Komunikasi Komunikasi Komite Audit PTN BH,  PTN BH-PTN BH ini harus menjadi leading sector untuk dapat memprakarsai lahirnya konsorsium-konsorsium perguruan tinggi yang akan dapat melakukan treatment terhadap persoalan-persoalan yang ada di daerah atau persoalan-persoalan secara nasional,” harapnya.

Lebih lanjut diungkapkan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ingin membangun tradisi baru di kalangan perguruan tinggi sehingga seorang researcher atau kampus tidak hanya berpikir untuk kampus, tetapi bagaimana kampus berpikir untuk masyarakat.

Kampus tidak hanya sekedar berpikir bagaimana men-develop mahasiswa dan SDM di dalamnya, tetapi harus mampu menebar resonansi positif pada lingkungannya.

“Kita tidak hanya sekedar berdampak, tapi berkelanjutan (SDGs), tentu ini yang diharapkan, maka perguruan tinggi ini diyakini akan mampu menciptakan program-program yang berorientasi pada pengentasan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini,” ucapnya.

(dodiangga)