Bandung, UPI — Ikatan Mahasiswa Manajemen (IMAGE) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), melalui Departemen Ilmu Komunikasi, sukses menggelar kegiatan Bincang Isu (BINSU) 2025.

BINSU 2025 berjudul “Literasi Politik Digital: Bertarung di Era Shadow Minister dan Hoaks Terstruktur” dan mengusung tagline “Menembus Bayang, Meretas Kebenaran” ini berlangsung di Lantai 1 Gedung University Center (UC), UPI, pada Senin (22/9).

Kegiatan ini turut dihadiri lebih dari 50 orang peserta serta menghadirkan dua pembicara. Pada sesi pertama, BINSU 2025 dibuka dengan pemaparan dari Imam Baihaqi selaku PIC Distrik Berisik Bandung dengan pemaparannya tentang shadow minister atau aktor politik bayangan yang kini memiliki andil membangun opini publik melalui narasi terstruktur.

Sesi pematerian yang kedua diisi oleh Vidi Sukmayadi selaku dosen dan peneliti Prodi Ilmu Komunikasi UPI sekaligus Kepala Kantor Komunikasi, Informasi, dan Pelayanan Publlik (KKIPP) UPI yang memaparkan materi tentang pentingnya literasi politik digital melalui media sosial. Ia menekankan bahwa kunci dari literasi media dan literasi politik terletak di Pendidikan, literasi tidak dibangun dalam satu hari, tetapi melalui Upaya terstruktur dimulai dari Pendidikan dasar, menengah, hingga tinggi.

Pada BINSU 2025, lebih dari lima puluh peserta yang merupakan mahasiswa dari berbagai program studi tampak antusias. Selain mendengarkan materi, peserta juga terlibat dalam sesi permainan roleplay “Who’s Shadow Minister”.

Dalam permainan ini, mereka berperan sebagai warga negara yang harus menentukan melalui voting siapa tokoh yang paling menggambarkan peran shadow minister. Sesi ini menjadi daya tarik tersendiri karena memberi pengalaman langsung tentang bagaimana opini publik dapat diarahkan dengan narasi tertentu.

Antusiasme peserta terlihat jelas, salah satunya melalui pertanyaan dari [Rizky, mahasiswa Program Studi Manajemen yang bertanya tentang cara menyikapi akun kredibel yang kerap diserang oknum buzzer.

“Sebagai mahasiswa, bagaimana sebaiknya kita menyikapi akun media sosial yang sering diserang buzzer? Padahal, akun tersebut konsisten mengangkat isu penting nasional, misalnya kasus viral Raja Ampat?” tanya Rizky.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Vidi mengungkapkan bahwa konsistensi menyuarakan nilai yang jelas dan positif akan menemukan wadahnya sendiri, tidak kalah oleh algoritma.

Melalui kegiatan BINSU 2025, dapat ditarik benang merah bahwa media sosial memang bisa menjadi titik awal kontribusi, tetapi tidak cukup jika hanya berhenti di sana. Perlu adanya konsistensi dalam menyuarakan nilai yang autentik tetap lebih berdampak demi memertahankan Kesehatan demokrasi bangsa.

Melalui kegiatan ini, IMAGE UPI berharap mahasiswa semakin peka terhadap fenomena politik digital, sekaligus mampu berpartisipasi aktif dalam membangun ruang publik yang sehat dan konstruktif selaras dengan  tujuan Pembangunan berkelanjutan (SDG) nomor 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Pada akhirnya, dengan literasi media digital yang kuat, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen narasi positif dan kritis bagi dinamika demokrasi Indonesia.

Kontributor: Santika Afionita, Sarah Annisa Fadhila