
Bandung – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Seminar Nasional Ekonomi Kerakyatan sebagai Implementasi Asta Cita dan Nilai Filosofis Pancasila, yang dihadiri oleh tokoh nasional, akademisi, dan pemimpin masyarakat. Seminar ini menjadi wadah strategis untuk merumuskan gagasan, riset, dan rekomendasi kebijakan dalam membangun perekonomian Indonesia yang berkeadilan, inklusif, dan berakar pada nilai Pancasila.
Acara dibuka resmi oleh Rektor UPI, dengan tamu kehormatan: Utusan Khusus Presiden RI Bidang Ekonomi dan Perbankan, Menteri Koperasi RI, Dr. Ferry Juliantono, Ustadz Dr. Adi Hidayat, Ph.D., Prof. Dr. H. Eeng Ahman, M.S., Ketua dan Sekretaris Majelis Wali Amanat UPI, unsur Forkopimda (Pangdam III/Siliwangi dan Kapolda Jabar), serta perwakilan 14 perguruan tinggi di Bandung.
Ketua MWA UPI menekankan bahwa pembangunan organisasi tidak hanya berhenti pada struktur, strategi, dan sistem, tetapi harus berlandaskan values, budaya organisasi, keyakinan, dan perilaku, karena aspek inilah yang paling fundamental.
Rektor UPI menambahkan bahwa Asta Cita yang digagas Presiden RI sejalan dengan nilai Pancasila. UPI sebagai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan ide-ide segar, riset, dan kolaborasi demi mewujudkan ekonomi kerakyatan sebagai jawaban atas tantangan global.
Dalam Keynote Speech, Ustadz Dr. Adi Hidayat, Ph.D., memaknai “kerakyatan” dari perspektif linguistik dan religius. Kata rakyat berarti dimuliakan dan dipelihara, yang selaras dengan nilai fitrah manusia. Ia menekankan pesan Al-Qur’an (QS. Al-Hasyr:7 dan QS. Al-Baqarah:188) sebagai kritik terhadap monopoli dan ketidakadilan ekonomi yang terjadi di 15 abad lalu. Beliau meneladankan Piagam Yatsrib sebagai model awal persaudaraan, gotong royong, dan distribusi adil, yang kemudian menjadi inspirasi lahirnya Pasal 33 UUD 1945.

Utusan Khusus Presiden RI Bidang Ekonomi dan Perbankan, melalui Asisten I, menyampaikan bahwa Presiden RI menegaskan ekonomi nasional harus berakar pada rakyat. Ekonomi kerakyatan selaras dengan Pancasila dan Asta Cita, menjunjung tinggi semangat gotong royong dan keberpihakan pada UMKM. Pemerintah berkomitmen menyeimbangkan pembangunan infrastruktur dengan pembangunan SDM, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar tetapi juga pelaku ekonomi utama. Seminar ini diharapkan melahirkan gagasan dan riset untuk mendukung peta jalan kemandirian bangsa.
Dalam paparannya, Menteri Koperasi RI, Dr. Ferry Juliantono, menegaskan adanya kesamaan kondisi antara ketimpangan ekonomi 15 abad lalu yang disampaikan UAH dengan kondisi Indonesia saat ini. Belajar dari para founding fathers, koperasi diyakini sebagai jawaban fundamental untuk mengatasi ketimpangan, memperkuat UMKM, dan menegakkan kemandirian bangsa agar tidak bergantung pada modal asing.
Prof. Dr. H. Eeng Ahman, M.S. (Guru Besar UPI) menekankan bahwa Asta Cita adalah fondasi pembangunan nasional yang berkelanjutan. Nilai-nilainya sejalan dengan Pancasila dan harus diwujudkan dalam sistem ekonomi kerakyatan. Beliau menyoroti prinsip kedaulatan rakyat, gotong royong, keadilan sosial, dan pemerataan pendapatan sebagai inti dari ekonomi berkeadilan. Menurutnya, UMKM dan koperasi adalah motor penggerak utama yang dapat menyerap tenaga kerja, mengurangi kemiskinan, dan mendistribusikan hasil pembangunan secara merata. Gerakan 80 ribu Koperasi Merah Putih dipandang sebagai strategi revolusioner yang dapat memperkuat pilar ekonomi bangsa, meneladani praktik sukses di berbagai negara maju.
Seminar ini menghasilkan kesepahaman bahwa ekonomi kerakyatan harus diukur bukan hanya lewat pertumbuhan GDP, tetapi dari keterlibatan dan kenyamanan rakyat dalam sistem ekonomi, khususnya melalui koperasi dan UMKM karena keduanya adalah tulang punggung ekonomi kerakyatan, sekaligus instrumen utama implementasi Asta Cita. Rekomendasi yang dirumuskan dalam Seminar Nasional ini untuk selanjutnya akan diarahkan menjadi Naskah Akademik Ekonomi Kerakyatan sebagai sumbangan akademis bagi Presiden RI dan Pemerintah Indonesia dalam merumuskan peta jalan menuju Indonesia Emas 2045.
(Kontributor: Rita Anggorowati/SPs UPI).

