
Bandung, UPI
Pengembangan empati dalam pendidikan, khususnya pada pembelajaran sejarah, kini menjadi sorotan penting di dunia pendidikan. Fenomena yang terjadi selama ini menunjukkan bahwa aspek empati sering kali terabaikan dalam proses belajar-mengajar sejarah. Padahal, di tengah meningkatnya perilaku kurang empatik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat, upaya menumbuhkan kesadaran empati di kalangan peserta didik menjadi sangat relevan.
Sebagai respon terhadap kebutuhan tersebut, hadir Model ERLINA, sebuah pendekatan pembelajaran sejarah yang menekankan pada ranah afektif dengan memanfaatkan konsep dan teori psikologi. Model ini dikembangkan untuk menjadikan pendidikan sejarah lebih komprehensif dan bermakna, tidak hanya sekadar penguasaan materi kognitif semata.
Model ini baru merupakan gagasan berbasis pengalaman saya sebagai akademisi di Pendidikan Sejarah yang juga ddituntut beradaptasi dengan era digital. Saya meyakini model ini memerlukan pengembangan lebih lanjut dan saya akan selalu menyebut model ini dalam berbagai kegiatan akademik seperti pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat pada masa mendatang.” kata Prof. Dr. Erlina Wiyanarti, M.Pd. dalam pidato Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 di Gedung Achmad Sanusi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Kota Bandung. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, yaitu Selasa dan Rabu (4-5/11/2025).
Selain Prof. Dr. Erlina Wiyanarti, M.Pd, guru besar yang dikukuhkan di hari pertama diantaranya Prof. Dr. Juhanaini, M.Ed. (FIP), Prof. Dr. Diding Nurdin, M.Pd. (FIP), Prof. Dr. Ernawulan Syaodih, M.Pd. (FIP), Prof. Dr. Mulyana, M.Pd. (FPOK), dan Prof. Dr. Mamat Supriatna, M.Pd. (FIP). Sementara upacara pengukuhan dihari kedua, guru besar yang akan dikukuhkan diantaranya Prof. Dr. Supriadi, M.Pd. (UPI Kampus Serang), Prof. Gin Gin Gustine, M.Pd., Ph.D. (FPBS), Prof. Ika Lestari Damayanti, M.A., Ph.D. (FPBS), Prof. Dr. Andhy Setiawan, S.Pd., M.Si. (FPMIPA), Prof. Dr. Elah Nurlaelah, M.Si. (FPMIPA) dan Prof. Dr. Heni Mulyani, M.Pd. (FPEB).

Menurut Erlina Wiyanarti, guru yang menerapkan Model ERLINA di sekolah bekerja dengan prinsip sederhana namun aplikatif. Prosedur yang mudah dipahami membuat model ini dapat diterapkan secara luas dalam pembelajaran berbasis empati. Proses belajar didesain untuk menumbuhkan komunikasi empatik, pengembangan pemahaman yang terbimbing, serta pengalaman afektif yang terarah. Seluruh komponen pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, baik dalam konteks kekinian maupun sejarah masa lampau.
Model ini juga dirancang untuk memodifikasi perilaku peserta didik agar kesadaran empatik yang diperoleh dapat dipertahankan dan dikembangkan. Pendekatannya dimulai dari proses imitatif, kemudian dilanjutkan dengan transmisi langsung, hingga penguatan sikap dan kesadaran empati. Karena itu, penelitian lanjutan untuk memperluas bidang kajian serta mempertimbangkan aspek perkembangan psikologis dan lingkungan sosial peserta didik sangat direkomendasikan.
Dijelaskan Ernila, dalam studi ini, indikator kesadaran dan sikap empati diramu dari perpaduan konsep empati Barat dan Timur yang memiliki kekhasan psikologis dan budaya masing-masing.
“Tantangan berikutnya adalah mengidentifikasi indikator empati yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia yang beragam dan religius, agar dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan sejarah secara efektif” ujarnya.
Sebagaimana tujuan pembelajaran sejarah pada umumnya, Model ERLINA bertujuan menumbuhkan keterampilan sosial, kepekaan, kepedulian, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Peserta didik diharapkan mampu bertindak atas kesadaran sendiri, bukan sekadar sebagai objek yang dikendalikan.

Dalam konteks ini, peserta didik dipandang sebagai insan merdeka yang memiliki kehendak bebas sesuai perkembangan psikologisnya. Untuk bertindak secara sadar dan bertanggung jawab, diperlukan kemampuan seperti pemahaman tujuan hidup, rasa percaya diri, sikap toleran, kasih sayang, cinta damai, dan kepekaan terhadap masalah sosial di era digital.
Hubungan antara kemampuan-kemampuan tersebut dengan pengembangan empati menjadi isu menarik yang patut diteliti lebih lanjut. “Upaya menumbuhkan empati dinilai berperan penting dalam membentuk kepribadian warga negara yang peduli, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan sosial di masa depan”, tutupnya. (DN/Rija)

