
Bandung, UPI
Dalam praktik pendidikan, tidak jarang ditemui anak-anak dengan kemampuan intelektual normal, bahkan di atas rata-rata, namun menghadapi hambatan serius dalam keterampilan akademik dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Kondisi ini dikenal dengan istilah Learning Disabilities (LD) atau kesulitan belajar spesifik.
Guru Besar FIP UPI Prof. Dr. Juhanaini, M.Ed menjelaskan bahwa banyak siswa dengan LD di sekolah reguler gagal mengikuti pembelajaran karena sistem yang belum sepenuhnya adaptif. Akibatnya, mereka sering mengulang kelas, bahkan putus sekolah. Ironisnya, sebagian guru atau masyarakat kerap melabeli mereka sebagai “anak nakal” atau bermasalah perilaku hanya karena kesulitan menyelesaikan tugas atau membolos.
“Banyak guru masih menggunakan metode one-size-fits-all, tanpa diferensiasi. Padahal, anak dengan LD membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik dan potensi mereka,” ujar Juhanaini saat menyampaikan isi pidato pengukuhan guru besar yang dilaksankan di Gedung Achmad Sanusi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Kota Bandung. Selasa (4/11).
Dijelaskan Juhanaini, kesulitan belajar spesifik termasuk kategori anak berkebutuhan khusus yang kompleks karena tidak terlihat secara kasat mata. Anak-anak dengan LD sering kali tampak sama seperti teman sebayanya, namun menghadapi tantangan kognitif tertentu yang memengaruhi kemampuan akademik mereka.
Dalam kerangka pendidikan inklusif, diferensiasi pembelajaran menjadi strategi utama untuk menjawab kebutuhan anak-anak dengan kesulitan belajar. Tanpa diferensiasi, inklusi hanya sebatas integrasi fisik — anak LD mungkin duduk di kelas reguler, tetapi tetap terpinggirkan karena metode pengajaran tidak sesuai.
“Sebaliknya, dengan penerapan diferensiasi, inklusi menjadi lebih bermakna. Anak LD diberi kesempatan belajar sesuai potensi mereka tanpa kehilangan interaksi sosial di kelas reguler. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip equity in education, yaitu memberikan keadilan pendidikan dengan memperhatikan perbedaan kebutuhan tiap siswa, bukan menyamaratakannya”, ujarnya.

Juhanaini menegaskan, diferensiasi pembelajaran bukan sekadar metode, tetapi strategi inovatif yang menjawab keragaman peserta didik. Melalui penyesuaian pada konten, proses, produk, dan lingkungan belajar, guru dapat meningkatkan motivasi, partisipasi, dan hasil belajar siswa dengan LD.
“Diferensiasi terbukti memperkuat budaya kelas yang inklusif sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran bagi semua siswa,” tambahnya.
Juhanaini menegaskan penerapan diferensiasi membawa dampak luas tidak hanya secara teoretis dan praktis, tetapi juga pada tataran kebijakan pendidikan. “Strategi ini diharapkan mampu memperkuat arah pembangunan pendidikan nasional menuju keadilan sosial dan peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia di masa depan”, tutupnya. (DN/Rija)

