
Bandung, UPI
Perguruan tinggi tidak seharusnya hanya berfokus pada pencapaian kompetensi teknis, tetapi juga berperan dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkomunikasi secara meyakinkan. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Elah Nurlaelah, M.Si., Guru Besar dalam Ilmu Pembelajaran Aljabar Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025, Rabu (5/11), di Gedung Achmad Sanusi, Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229, Bandung.
Dalam orasinya, Prof. Elah menegaskan bahwa perguruan tinggi merupakan ruang pembentukan pengetahuan tingkat lanjut sekaligus wadah untuk memperkuat kompetensi profesional, kemampuan meneliti, berinovasi, dan membangun karakter kewargaan yang kritis serta produktif.
“Pembelajaran di perguruan tinggi perlu dirancang secara strategis dan humanis agar mampu mengurangi stigma kesulitan belajar serta meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam berargumentasi dan membuktikan secara meyakinkan,” ujar Prof. Elah.
Menurutnya, pendekatan pembelajaran yang humanis harus diwujudkan melalui praktik kelas yang nyata dan konstruktif, dukungan bertahap (scaffolding), serta umpan balik reflektif yang berkesinambungan. Pendekatan seperti ini dapat membantu mahasiswa lebih terampil dalam proses pembuktian dan berpikir matematis secara sistematis.

Prof. Elah menjelaskan bahwa efektivitas pembelajaran di perguruan tinggi juga sangat bergantung pada kurikulum yang adaptif dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS). Kurikulum tersebut harus mampu memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan sistematis — tiga kemampuan utama dalam pendidikan matematika.
“Pendidikan matematika di perguruan tinggi harus menggabungkan landasan teoritis yang kuat dengan praktik pembelajaran yang teruji. Tujuannya agar mahasiswa tidak hanya menguasai konsep, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan kebutuhan riset dan dunia kerja,” jelasnya.
Guru besar yang dikenal aktif dalam riset pembelajaran aljabar ini menekankan bahwa mahasiswa calon guru matematika memiliki peran sentral dalam membangun generasi berpikir logis di masa depan. Oleh karena itu, mereka tidak cukup hanya mengajarkan teknik mengerjakan soal, tetapi juga harus mampu membimbing siswa berpikir matematis dan menyusun argumen secara terstruktur.
Ia mengusulkan adanya intervensi pedagogis yang menekankan pembelajaran berbasis kasus, eksplorasi struktur, dan tugas-tugas yang mengaitkan konsep abstrak dengan konteks nyata. Pendekatan ini diyakini dapat meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa, kreativitas dalam strategi pembuktian, dan kesiapan mereka untuk merevisi argumen secara reflektif.
“Pembelajaran aljabar bukan sekadar penyampaian konsep dan prosedur, tetapi proses transformasi mental agar mahasiswa mampu berpikir layaknya matematikawan,” tegas Prof. Elah.
Lebih jauh, Prof. Elah mengaitkan kemampuan membuktikan dalam matematika dengan aspek kepercayaan diri mahasiswa. Mahasiswa yang tidak yakin dengan kemampuannya, menurutnya, cenderung menghindar atau mengalami kesalahan logika. Sebaliknya, pengalaman belajar yang otentik, disertai umpan balik yang konstruktif, akan memperkuat rasa percaya diri dalam bermatematika.
“Kepercayaan diri merupakan variabel psikologis penting dalam belajar matematika. Mahasiswa yang percaya diri akan lebih gigih, reflektif, dan produktif,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pembentukan kepercayaan diri mahasiswa calon guru matematika merupakan bagian dari kesiapan profesional mereka sebelum terjun ke lapangan. Dengan rasa percaya diri yang kuat, calon guru diharapkan mampu memfasilitasi siswa tidak hanya untuk menuliskan bukti, tetapi juga menuntun proses berpikir matematisnya.
Dalam orasinya, Prof. Elah juga menyoroti pentingnya kesiapan matematis dan kematangan matematis sebagai dua aspek yang saling melengkapi. Kesiapan matematis, menurutnya, menjadi prasyarat untuk memahami topik baru, sedangkan kematangan matematis menunjukkan kualitas berpikir tingkat tinggi, seperti kemampuan melakukan pembuktian, generalisasi, dan berpikir fleksibel.

“Dengan kesiapan dan kematangan matematis yang baik, dosen dapat menyesuaikan beban kognitif mahasiswa serta memberikan scaffolding yang tepat. Hal ini memungkinkan proses belajar yang lebih efektif dan bermakna,” jelasnya.
Menutup orasinya, Prof. Elah menyampaikan harapan agar pembelajaran aljabar di perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada penguasaan rumus dan teori, tetapi juga menjadi wahana untuk menumbuhkan keberanian, keyakinan, dan mental positif mahasiswa dalam berpikir deduktif dan membuktikan secara matematis. Mahasiswa yang matang secara matematis akan menjadi pendidik yang bukan hanya mengajarkan logika, tetapi juga menumbuhkan kecintaan pada berpikir rasional dan pembuktian ilmiah. (DN/Rija/Cawal/Ratih)

