Bandung, UPI

Fisika fungsionalisasi material memiliki peran strategis sebagai jembatan antara ilmu dasar dan penerapan teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat. diungkapkan oleh Prof. Dr. Andhy Setiawan, S.Pd., M.Si., Guru Besar dalam bidang Fisika Fungsionalisasi Material Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025, yang digelar di Gedung Achmad Sanusi, Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229, Bandung, Rabu (5/11).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Andhy menegaskan bahwa perjalanan ilmiahnya menunjukkan bagaimana fisika material fungsional dapat memperkuat hubungan antara riset ilmiah dan kebutuhan teknologi nasional, terutama dalam upaya menuju kemandirian energi, pengolahan lingkungan berkelanjutan, dan substitusi material impor.

“Fisika fungsionalisasi material dapat menjadi jembatan antara ilmu dasar dan penerapan teknologi yang berdampak bagi masyarakat. Capaian ini diharapkan dapat memperkuat dasar keilmuan bagi pengembangan material substitusi impor, teknologi energi bersih, dan pengolahan lingkungan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keterpaduan antara solid-state physics, surface physics, dan nanotechnology menjadi pilar utama dalam pengembangan fungsionalisasi material. Hasil risetnya menunjukkan bahwa perubahan mikrostruktur dan permukaan material dapat menghasilkan sifat katalitik dan sensorik baru, yang membuka peluang luas untuk penerapan di berbagai bidang industri.

Selain itu, Prof. Andhy juga menyoroti penelitian tentang sel surya yang tengah dikembangkannya, sebagai bagian dari arah riset energi terbarukan yang relevan bagi konteks Indonesia. Menurutnya, penelitian tersebut menunjukkan potensi besar untuk menempatkan ilmu material sebagai fondasi kemandirian bangsa dalam menghadapi tantangan global.

“Dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan atau materials informatics, pemanfaatan biomassa lokal, dan sintesis hijau, arah riset masa depan akan membawa Indonesia menuju era teknologi berkelanjutan dan mandiri,” tuturnya.

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan di hadapan sivitas akademika UPI, Prof. Andhy menekankan pentingnya kemandirian teknologi nasional sebagai syarat utama keberlanjutan bangsa di tengah percepatan globalisasi dan revolusi industri. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak akan tercapai tanpa penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam, terstruktur, dan berkelanjutan.

Lebih jauh, Prof. Andhy menyebut bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat riset dan produksi material fungsional di kawasan Asia Tenggara, berkat kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, potensi ini hanya dapat diwujudkan melalui kebijakan riset yang berpihak pada pengembangan ilmu pengetahuan, sistem pendidikan tinggi yang adaptif, serta kolaborasi antara universitas, industri, dan lembaga pemerintah.

“Riset yang berorientasi pada inovasi dan keberlanjutan harus menjadi kultur nasional, bukan sekadar proyek akademik, Kemandirian bangsa hanya bisa dicapai melalui dedikasi ilmiah dan kepemimpinan akademik yang berorientasi pada kebermanfaatan. Ilmuwan sejati adalah mereka yang melalui ilmunya mampu menebar manfaat bagi sesama,” pungkasnya.

Sebagai penutup, Prof. Andhy menyampaikan harapannya agar generasi muda ilmuwan Indonesia tumbuh menjadi peneliti yang berkarakter, kreatif, dan berintegritas. (DN/Rija/Cawal/Ratih)